Menurut para sejarawan, sejak 1900, bangsa Indonesia tengah memasuki masa pergerakan. Dengan begitu, tidak heran kalau pada masa itu kehidupan di Indonesia diwarnai dengan aktivitas politik, seperti pendirian partai dan organisasi dengan pahamnya masing-masing.

Salah satu wadah kaum pergerakan itu adalah Sarekat Islam (SI). Kemudian, salah satu tokoh SI yang juga menghiasi zaman pergerakan itu adalah Mangoenatmodjo.

Selain menjabat sebagai ketua SI Delanggu, Mangoenatmodjo juga merupakan pimpinan atau guru Sarekat Abangan (SA). Berkat dua organisasi itu Mangoenatmodjo dikenal luas dan dibuang ke Boven Digoel.

Tindak-Tanduk Mangoenatmodjo 1910-1926

Alasan mengapa 1910 diambil sebagai awal pengisahan karena belum ditemukannya data tentang kapan Mangoenatmodjo dilahirkan. Namun, menurut Shiraishi (1997), Mangoenatmodjo adalah orang desa yang lahir dan tinggal di Desa Karangwungu, Onderafdeling Polanhardjo, distrik Ponggok, Kabupaten Klaten. Sementara itu, Ramidjo (2009) menyebutkan kalau Mangoenatmodjo adalah keturunan ningrat Solo.

Pada pertengahan 1910, ia mulai mengajar Islam Abangan, sebuah paham yang berpangkal pada ajaran Syekh Siti Jenar. Di samping itu, ia juga menjabat sebagai bekel (semacam kepala dusun) sampai berlangsungnya reorganisasi di Karangwungu pada 1912. Kemudian, ia menjabat wakil kepala desa (kamituwa) sampai 1919 karena dipecat pemerintah.  

Selain dikenal sebagai seorang guru, ia juga dikenal dengan pemikirannya yang progresif. Dengan begitu, tak heran jika Sosrokoernio yang dikutip Shiraishi (1997) mengatakan bahwa ketika SI Delanggu berdiri pada 1915, ia dipilih sebagai komisaris dan menjabat ketua pada 1920.

Sejak saat itu, kiprah Mangoenatmodjo dalam dunia pergerakan makin menjadi-jadi. Selanjutnya, pada 1919 ketika Sarekat Hinda (SH) Surakarta, Boedi Oetomo (BO) dan Personeel Fabrieks Bond (PFB) mencari propagandis untuk mengorganisasi dan melebarkan pengaruhnya, Mangoenatmodjo menjadi salah satu orang yang direkrut.

Di waktu yang bersamaan, keresahan rakyat serta pemogokan petani tengah melanda Delanggu dan Ponggok. Kericuhan itu dipicu oleh ketimpangan sosial. Untuk mendobrak praktik ketidakadilan itu, Mangoenatmodjo mendirikan koperasi tani, Roekoen Desa. Menurut laporan, modal awal koperasi itu berasal dari Nyonya Vogel, ketua SH Surakarta.

Setelah itu, Mangoenatmodjo berusaha untuk memperoleh izin dari pemerintah setempat. Alih-alih mendapat izin, pemerintah malah meminta Mangoenatmodjo untuk membubarkan Roekoen Desa serta menghentikan ajaran Islam Abangan. Perintah itu tak ia taati. Oleh karena itu, jabatannya sebagai kamituwa dicopot oleh pemerintah pada November 1919.

Sejak diangkat sebagai ketua SI Delanggu, untuk pertama kalinya Mangoenatmodjo tampil sebagai orator pada rapat umum gabungan SH, SI dan PFB yang diselenggarakan di Delangu pada 29 Februari 1920. Kemudian, ia pun dikenal sebagai propagandis yang ulung bersama Haji Misbach dan Tjipto Mangoenkoesoemo.

Tindak-tanduk Mangoenatmodjo yang progresif dan revolusioner dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, pada 11 Mei 1920, ia dan dua muridnya serta pentolan pergerakan lainnya ditangkap dan ditahan pemerintah. Selanjutnya, Bakri (2015) menyebutkan bahwa setelah bebas, Mangoenatmodjo mengajar Tasawuf Jawa dan menjadi simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagaimana dikutip dari buku yang berjudul Kemunculan Komunisme Indonesia, pada 1926, PKI melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Mulanya, pemberontakan itu meletus pada malam 12 November 1926 di Jawa Barat. Setelah itu, pemberontakan menjalar ke berbagai daerah hingga ke Sumatra pada 1927.

Sebagai upaya penumpasan, pemerintah mengerahkan polisi untuk menangkap dan memenjara para perusuh. Adapun di Surakarta, dalam upaya ‘pembersihan’ itu, 1000 orang yang termasuk anggota PKI, Sarekat Rakyat, Sarekat Buruh, Sarekat Tani, dan organisasi-organisasi radikal lainnya ditangkap.

Dari 1000 orang itu, 500 orang dibebaskan setelah tidak ditemukannya bukti kuat, 417 dihadapkan ke pengadilan yang kemudian di penjara, serta 83 orang dibuang ke Boven Digoel. 

Salah satu orang yang dikirim ke Digoel itu adalah Mangoenatmodjo. Dengan alasan: pemikiran serta tindak-tanduk Mangoenatmodjo yang membahayakan; pembuangannya ke Digoel adalah langkah tepat yang diambil pemerintah kolonial.

Boven Digoel: ‘Neraka’ untuk Kaum Pergerakan Indonesia

Ketika wadah dan kaum pergerakan di Hindia Belanda makin banyak, pemberontakan sering kali terjadi. Contohnya, seperti apa yang dilakukan oleh PKI pada 1926. Dengan begitu, keamanan pemerintah kolonial menjadi terancam. Untuk menjaga keamanan, pemerintah kolonial merasa harus menangkap serta membuang pentolan pergerakan yang membahayakan.

Salah satu tempat buangan bagi para ‘pembangkang’ itu adalah Boven Digoel, sebuah kawasan rimba di tengah Papua. 

Menurut Shiraishi dalam buku Hantu Digoel, kamp pembuangan ini dibentuk pada 18 November 1926 oleh Dewan Hindia Belanda (Raad van Nederlandsch-Indie). Mula-mula kamp ini ditempati oleh kaum pergerakan kiri. Namun, pada perkembangannya, tokoh seperti Hatta dan Sjahrir pun sempat menghuni ‘neraka’ ini.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, setelah pemberontakan PKI 1926-1927 padam, pemerintah mengirim pentolan perusuh itu ke Digoel. Keberangkatan Mangoenatmodjo, Marco Kartodikromo dan kawan-kawan dituangkan dalam Surat Kabar De Locomotief, bertanggal 28 April 1927 dengan judul “Naar de Digoel”. Dari berita itu dapat diketahui bahwa saat pengiriman Mangoenatmodjo ke Digoel, ia berusia 43 tahun.

Selain itu, perihal pemberangkatan juga dicatat oleh Marco: “Pada Juni 1927, kami 64 orang diberangkatkan ke Boven Digoel. Dalam perjalanan itu, kami selalu merasa mendapat hinaan dari militer yang mengawal kami. Di kapal, kami mendapat perlakuan yang mengejutkan, yaitu pada waktu kapal api berhenti, kami semua mesti dirantai.”

Adapun mengenai kondisi kamp Digoel diceritakan sangat jelas oleh Chalid Salim (adik Agus Salim), yang juga pernah mendiami kamp itu selama kurang lebih lima belas tahun. Menurut Salim, Digoel adalah tempat yang menyeramkan. Wilayah ini tempat bersarang nyamuk malaria, binatang buas, tempat yang panas, gersang, lembab, dan sangat jarang penduduk.

Masih berdasarkan catatan Salim, selama hidup di Digoel, para interniran dibebaskan hidup berkeliaran dalam radius tertentu. Bukannya tak ada, upaya pelarian memang kerap kali terjadi. Tapi, kaum buangan itu sadar jika melewati batas kamp, berarti mereka telah melewati ‘garis kehidupan’.

Selain itu, para buangan harus hidup dalam ketakutan karena mereka ‘bertetangga’ dengan pemburu kepala serta kanibal di hutan dan buaya ganas di sungai. Dari keterangan Salim itu, tak heran jika Marco harus meregang nyawa di sana setelah terjangkit malaria. Nasib nahas juga menimpa Dahlan dan Sukrawinata, bekas pemimpin komite revolusioner Batavia yang tewas dibunuh Mappi-Pappua di tengah hutan.

Selanjutnya, nasib nahas juga harus dialami oleh seorang tahanan dengan No. 528: Mangoenatmodjo, yang mati mengenaskan di mulut buaya kuning, Sungai Digoel. Kisah kematian Mangoenatmodjo ini sekilas disinggung oleh Shiraishi dalam buku Hantu Digoel dan Zaman Bergerak, serta oleh  Sufyan dalam buku Menuju Lentera Merah.

Di samping dua orang tersebut, kisah kematian Mangunatmodjo pun dituangkan dengan detail oleh Tri Ramidjo dalam buku berjudul Kisah-Kisah dari Tanah Merah. Berikut adalah potongan cerita tentang kematian Mangoenatmodjo yang sedikit diubah agar tak terlalu memakan ruang.

“Hari itu tanggal 8 April 1928. Baru satu tahun Boven Digul dihuni oleh orang-orang pergerakan yang dibuang kolonialis belanda. Siang itu langit cukup cerah. Mbah Mangoen yang baru selesai makan siang, turun ke sungai untuk mandi dan mencuci piring serta alat masak yang dua hari lalu dipergunakan untuk menikmati daging buaya beramai-ramai.

Setiba di sungai, dua anak yang sedang mendayung perahu ke arah hulu Sungai Digoel melintasi tepian tempat Mbah Mangoen mandi. Mereka berkata “Mbah hati-hati ada buaya kuning di hilir!” mendengar peringatan itu Mbah Mangoen Menjawab “Biar, biar saja. Wong buaya juga dagingnya enak”

Tak butuh waktu lama. Ketika kedua anak itu kembali menoleh ke arah Mbah Mangoen, alangkah terkejutnya mereka melihat tubuh Mbah Mangoen yang melintang di mulut buaya itu. Setelah itu, kedua anak lelaki tersebut bereteriak “Mbah Mangoen diterkam buaya! Mbah Mangoen diterkam buaya!”

Teriakan kedua anak tadi telah menghamburkan seluruh penduduk buangan. Bahkan, para penjaga kamp juga turut hadir. Pada hari itu Sungai Digoel menjadi ramai. Desing suara peluru yang keluar dari senapan para penjaga turut pula meramaikan. Sayangnya, peluru senapan itu tak mampu menumbangkan si buaya.

Oom Darsono yang menyaksikan kejadian itu tiba-tiba meminjam belati ayahku. Selepas itu, ia turun ke sungai, menunggangi si buaya dan berkelahi dengannya. Seluruh tubuh buaya itu habis dicabik-cabik belati ayahku. Dengan begitu, mulut buaya itu mau memuntahkan tubuh Mbah Mangoen.

Mbah Mangoen gugur pada 8 April 1928. Mayatnya dimakamkan di pemakaman ujung Kampung B. Pemakaman ujung Kampung B ini adalah satu-satunya pemakaman para kaum buangan. Di pemakaman itu pula, jasad Oom Ali Archam, Oom Marco Kartodikromo, Oom Entol Enoch dan lain-lain bersemayam.”

Itulah tadi kisah tentang kematian Mangoenatmodjo yang dikenang oleh Tri Ramidjo. Sementara itu, Kedua anak yang diceritakan bermain perahu di Sungai Digoel itu salah satunya adalah kakak dari Ramidjo.  

Referensi

  • Bakri, Syamsul. (2015). Gerakan Komunisme Islam di Surakarta. Yogyakarta: LkiS
  • Kartodikromo, Marco (2002). Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel, peny.       Koesalah Soebagyo Toer. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • McVey, Ruth T. (2010). Kemunculan Komunisme Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.
  • Ramidjo, Tri. (2009). Kisah-Kisah dari Tanah Merah: Cerita Digul Cerita Buru. Bandung: Ultimus.
  • Shiraishi, Takashi. (1997). Zaman Bergerak: Radikalisme di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
  • ----------------. (2001). Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial. Yogyakarta: LkiS.
  • Sufyan, Fikrul Hanif. (2017). Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah 1923-1949. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • “Digoelklanten” , De Nieuwe Vorstenlanden, 09 Juni 1927 diakses dari delpher.nl pada Minggu 17 Mei Pukul 04.12 WIB
  • “Mangoenatmodjo sang Revolusioner Ndeso” diakses dari https://koransulindo.com/mangoenatmodjo-sang-revolusioner-ndeso/2/ pada Minggu 17 Mei Pukul 04.23 WIB
  • “Naar de Digoel. Weer een groep geinterneerden. Ruim 40 Communisten uit Solo” , De Locomotief, 28 April 1927. Diakses dari delpher.nl pada Minggu 17 Mei Pukul 04.33 WIB