Community writer
5 bulan lalu · 102 view · 2 min baca · Cerpen 65024_39612.jpg

Fraktal Mandala

Pagi itu matahari seolah malas sekali menggagahi bumantara. Hujan deras mengguyur Dusun Jambu sejak Jumat malam. Langit di atas memayungi dengan hamparan awan kapas berwarna putih abu. Pekat  dan bertumpuk-tumpuk.

Cicada gunung jatuh dan hinggap memeluk cabang  pohon nangka milik Kaki Arja. Suaranya serak melengking terdengar. Pelan dengan irama yang tabah. Seakan tengah memelas pada semesta agar hujan lekas berhenti.

“Kemis Kempling sudah seminggu ini tidak masuk kerja”, ucap Kaki Arja pada Yung Inah, isterinya yang sedang liwet didepan pawon. “Sukurlah”, balas isterinya singkat. “Kamu tahu ada apa dengan dia?” “Ndak, semoga saja  bocah lapar itu merantau ke Jakarta, supaya anak isterinya bisa makan nasi dan lauk-pauk yang layak, bukan melulu kimpul rebus”

“Siang nanti kita kesana, biar kalau orang desa tanya kita tahu, malu kalau sampai tidak tahu. Bagaimanapun kita tetangganya yang paling dekat”, Kaki Arja melanjutkan perbincangan. Isterinya diam seribu bahasa pertanda setuju.

Kaki Arja dan Yung inah hidup sebagai buruh di pabrik mi sohun kecil. Pekerjaan itu dilakukan sejak sawah terakhir mereka tuntas dijual. Kira-kira akhir 1975-an.

Lokasi pabrik terletak di desa tetangga, di Dusun Semampir. Jaraknya 1,5 kilometer dari rumah mereka. Biasa mereka tempuh berjalan kaki selama setengah jam. Sudah seminggu ini mereka tidak bekerja.

Hujan yang hampir selalu turun sepanjang hari mengganggu siklus produksi pabrik. Hanya pada panas matahari proses pengeringan mi dapat dilakukan.

Berpayungkan dua lembar pelepah pisang yang dihamparkan, Kaki Arja dan Yung inah berangkat menuju rumah Kempling. Jaraknya kira-kira 800 meter dari rumah mereka.

Serantang nasi, empat buah tahu tempe dan sepiring sayur ceriwis jadi buah tangan. Cukup menggembirakan bagi Mbak Jat dan anaknya, Rodiah, bocah ompong berumur lima tahun. Kebanyakan orang di desa tahu kalau anak isteri Kemis Kempling hanya diempani kimpul rebus dan air gula merah saban harinya.

Kaki Arja dan Yung Inah bertelanjang kaki. Itu supaya sandal yang mereka punya tetap awet. Bagi mereka sandal merupkan barang mewah. Untuk menuju kerumah Kemis Kemping, mereka harus melewati hamparan sawah, sedikit melalui jalan setapak membelah hutan desa dan menyeberangi kali Girig.

“Bapak, apa sebaiknya kita ndak  nunggu hujan reda dulu? Kali Girig diseberang pasti airnya naik. Walah takut aku pak.”, Yung Inah, sambil mengunyah sirih, terlihat sedang memikirkan bahaya yang mungkin ada dalam perjalanan tanggung mereka pada siang hari itu. “Kamu tenang saja, berdoa saja pada gusti Allah”, kata Kaki Arja berusaha menenangkan.

Petir membuat beberapa kali perjalanan mereka terhenti saat menelusuri sawah Bengkok desa. Kilat yang berlarian memaksa mereka berhenti sejenak dibawah pohon randu. Perlahan pakaian mereka basah karena hujan semakin deras.

Kabut yang sempat turun membuat suasana tengah hari menjadi semacam petang yang sedikit temaram. Minggu yang beku sedingin es.

Delapan menit kemudian, tiba-tiba hujan turun melambat. Mendung mulai menipis dan angin berhembus lambat. Mereka melanjutkan perjalanannya dan tiba di rumah Kemis Kempling.

“Punten, Assalamualaikum., Mbak Jat”, kata Kaki Arja dengan keras tapi tetap lembut. Tidak ada sahutan dari dalam.

Rumah yang berukuran 8 x 8 meter dengan alas tanah dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu yang dicat dengan kapur terlihat ringkih. “Sepertinya tidak ada orang pak” kata Yung Inah. “iya, sebentar lagi sandyakala” “Coba dibuka saja pintunya pak, kalau memang kosong kita langsung pulang”, sahut isterinya.

Kaki Arja membuka pintu yang terbuat dari papan. Burung gaok bersamaan dikejauhan sahut-menyahut. Samar-samar tapi amat jelas bagi telinga Kaki Arja dan Yung Inah. “Astaga, apa-apaan ini apa buk!” “Astagfirullah..”, mereka berdua terpaku dengan apa yang dilihatnya. Bahkan Yung Inah menjatuhkan rantangnya di atas tanah. Bau minyak tanah seketika menyeruak dari dalam rumah.

Mereka buru-buru keluar dan menutup pintu. Bergegas pergi dari tempat itu. Sambil menelan kekhawatiran, rasa ngeri berlomba menjejal wajah mereka berdua.

“Itu kuburan siapa?” dengan gemetar Yung Inah bertanya pada suaminya.

Artikel Terkait