Karyawan Swasta
6 bulan lalu · 115 view · 4 min baca · Olahraga 36203_53078.jpg

Manchester United yang Terus Berbenah

Manchester United salah satu klub terbesar di dunia. Memenangkan 20 gelar Premier League yang membuat mereka sebagai klub tersukses di dataran Inggris menggeser Liverpool dengan 18 gelarnya. 

Namun Manchester United, setelah ditinggal Sir Alex Ferguson yang pensiun, justru mengalami penurunan drastis. 

Setelah terakhir juara pada musim 2012/2013 yang sekaligus musim terakhir Sir Alex, United tidak pernah memenangkan Premier League hingga saat ini. Era David Moyes, Louis Van Gaal, sampai Mourinho, semuanya tidak dapat menghadirkan gelar premier league untuk Manchester United. 

Permasalahannya adalah mereka ditinggal sang Manager yang membangun United hingga sebesar sekarang. Sir Alex memang meninggalkan filosofi yang baik bagi United, namun tidak meninggalkan skuad yang baik untuk masa depan United. 

Pergantian manager pun seolah memperkeruh keadaan. Setiap manager datang dengan filosofi permainan yang berbeda. 

David Moyes mengganti hampir seluruh staf peninggalan Sir Alex, yang akhirnya menjadi blunder bagi dirinya. Dia tidak bisa memahami permainan terbaik untuk United. Dia membawa United bermain layaknya underdog seperti Everton. 

Bukan penantang serius untuk gelar premier league, seolah United hanyalah penantang untuk posisi 7 besar, sama seperti yang dia lakukan untuk Everton. 

Lalu datanglah sang manager legendaris Belanda yang mengantarkan Belanda juara tiga pada piala dunia 2014. Datang dengan label tersebut, pendukung United berharap banyak pada sang manager baru. 

Memiliki taktik 3-5-2 yang selalu dibanggakan, namun tidak mampu mendapatkan 3 bek yang benar-benar tangguh untuk mengawal lini belakang United. Mendatangkan Marcos Rojo, Herrera, Di Maria, Falcao, dan Daley Blind diharapkan mampu meningkatkan kualitas United. 


Sayangnya Van Gaal justru gagal memenuhi ekspektasi publik Manchester dan para fans. Van Gaal dengan gaya melatih khas Belanda yang keras dan sifat keras kepalanya dirasa tidak cocok untuk United. 

Hal positif dari Van Gaal adalah dia mampu menghadirkan tenaga muda untuk United seperti Martial dan Lingard. Dan sebagai persembahan terakhir, ia memberikan United gelar juara piala FA tahun 2016. 

Setelah Van Gaal dipecat, datanglah The Special One, Jose Mourinho. Manager dengan banyak gelar juara bersama Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid. 

Ya, Mourinho memang kembali membuat angan-angan fans United meninggi dengan pengalamannya memenangkan trophy. 

Saya sendiri sempat khawatir akan Jose Mourinho yang datang karena tahu betul bagaimana ia dengan klub-klub sebelumnya. Ia memang memberi banyak trofi, namun sifatnya serta taktiknya yang membuat khawatir.

Musim pertama berhasil memberikan United gelar Carling Cup dan Europa League. Bukan gelar mayor, namun itu cukup untuk melepas dahaga para fans yang berharap akan trofi.

Namun, secara permainan, United masih jauh dari kata bagus ataupun indah. 

Musim pertama masih dianggap beradaptasi. Namun untuk musim kedua seperti tidak ada kata adaptasi, Mou dituntut untuk memenangkan premier league namun lagi-lagi gagal. Menempati posisi 2 klasemen akhir dengan selisih poin yang cukup jauh dengan City yang menjadi juara.


Untuk musim ke-3, Mourinho seperti benar-benar gagal. Gagal mendapatkan pemain incarannya, gagal membawa United ke persaingan gelar juara, bahkan hubungannya dengan para pemain tidak baik. Paruh pertama menempati posisi 7 membuatnya dipecat.

Cara bermain yang bertahan namun justru tidak bertahan dengan baik. Mourinho memang manager yang syarat akan gelar juara, namun dari segi permainan dan taktik dia sudah tertinggal.

Melihat hal ini, tentu sebagai fans mengingatkan kita akan Liverpool yang seperti mengalami hal serupa dengan United. Liverpool hampir 28 tahun tidak memenangkan gelar juara Premier League. 

Manager atau pemain banyak keluar-masuk silih berganti. Lalu apa yang perlu dilakukan United agar mampu kembali bersaing untuk gelar Premier League bahkan memenangkannya?

1. Memperbaiki Managemen

Ed Woodward sebagai CEO dari Manchester United harus berbenah dari managemen United sendiri. Bagaimana sebaiknya menjalankan United sebagai klub sepak bola, bukan sebagai lahan bisnis. 

Tidak hanya mengincar keuntungan, namun juga menjalankan sepakbola yang tepat bagi United. Jika fokus kepada pengembangan United sebagai klub sepak bola, tentu masalah finansial tidak perlu dipusingkan; karena jika United berprestasi, tentu dari segi pendapatan akan meningkat drastis. 

2. Manager yang Tepat

United perlu menemukan sosok manager yang tepat. Tepat dalam artian mengerti akan situasi klub, tahu apa yang akan dia lakukan untuk membangun kembali United sebagai tim terkuat di Premier League bahkan dunia. 

Lalu siapa kandidat yang cocok? Menurut saya sendiri, sosok mantan pemain dari United seperti Ole Solskjaer pun cocok karena mengenal baik luar dalam dari Manchester United. Kekurangan Ole hanyalah dia kurang pengalaman dan tentu masih banyak belajar. 

Kemudian Pochetino, manager Tottenham. Melihat gaya bermain yang diusung, ia juga cocok untuk menjadi manager United. Cara bermain menyerang, serangan dari sisi sayap, dan menghibur tentunya menjadi daya tarik tersendiri untuk merekrut Pocchetino. 

Saya mengandaikan begini: di Tottenham saja, dengan kualitas pemain yang di bawah United, mereka bisa bermain menyerang dan menghibur serta menjadi penantang juara. Bagaimana jika dia diberikan skuad yang kualitasnya sangat bagus untuk memenangkan trofi?

3. Pemain yang Tepat

Pemain juga menjadi kunci. Jika kita lihat sekarang, Rashford, Pogba, Lingard, dan Martial akan menjadi pemain andalan United di masa mendatang. Merekalah yang mampu mengubah jalannya pertandingan untuk saat ini. 

Namun, menurut saya, dengan beberapa penambahan di lini belakang United, akan sangat membantu membangun sebuah tim yang seimbang.

Kita tahu lini belakang menjadi titik lemah United. Smalling, Jones, Baily, bahkan Lindelof masih meragukan, mereka belum konsisten. United perlu kembali menghadirkan sosok pemain belakang seperti Ferdinand dan Vidic.

Kemudian untuk pemain pelapis pun mereka perlu mencari pemain-pemain yang sekiranya memiliki kualitas yang tidak jauh beda dengan pemain inti. Entah itu dengan mengembangkan bakat muda mereka atau bahkan membeli pemain yang tepat. 

Bayangkan jika Pogba, Martial, atau Rashford absen, tentu menjadi kehilangan besar bagi United.

Itulah sekiranya isi hati saya sebagai penggemar Manchester United saat ini. Sebagai penggemar yang menyukai United sejak lama, tentu situasi ini tidak mengenakkan bagi sebagian penggemar. 

Namun, sebagai penggemar setia, harus bisa mendukung klub apa pun keadaan klub; sama seperti kita mencintai seseorang, tentu kita harus mencintai dengan ketulusan dan mendukungnya, apa pun situtasi dan kondisinya. 


Suatu hari legenda United, Eric Cantona, pernah berkata:

You can change your wife, your politics, your religion, but never, never can you change your favorite football team!

Glory Glory Manchester United!

Artikel Terkait