Manchester United atau yang lebih dikenal dengan sebutan MU (dibaca: emyu) merupakan salah satu klub tersukses di daratan Inggris selain Liverpool tentunya. Mereka (Manchester United) telah mengoleksi 20 gelar Liga Inggris, yang terakhir mereka raih pada musim 2012/2013.

Pada musim itu pula masa terakhir bagi Sir Alex Ferguson mengabdi di Old Trafford.

Raihan 20 gelar Premier League milik MU sekaligus melewati pencapaian dari rival abadi mereka, Liverpool. Tim yang kini diarsiteki oleh Juergen Klopp itu, terhenti di angka 19.

Setelah berhasil melewati rekor milik Liverpool, tidak semua fans Manchester United bahagia. Lantas apa yang membuat mereka tidak bahagia?

Pertanyaan yang sesungguhnya amat sangat mudah untuk dijawab. Ya, karena pada musim 2012/2013 adalah musim terakhir dari manager terbesar mereka sepanjang masa, Sir Alex Ferguson.

Ditinggal oleh Sir Alex, klub ini ibarat kehilangan separuh kekuatan mereka. Itulah yang dikhawatirkan oleh para fans setan merah.

Ternyata ketakutan mereka bukanlah tanpa alasan, bahkan ketakutan mereka seolah benar-benar menunjukkan bahwa separuh kekuatan United ada pada manager asal Skotlandia itu. Beberapa kali mereka mengganti manager mulai dari David Moyes, Ryan Giggs, Louis Van Gaal, hingga kini Jose Mourinho.

David Moyes menjadi menajer yang paling beruntung karena mendapat rekomendasi langsung dari Sir Alex. Namun keberuntungan itu malah menjadi awal keterpurukan karir David Moyes di dunia sepak bola.

Belum genap semusim menukangi Wayne Rooney cs, Moyes sudah didepak oleh management MU. Posisinya lantas diganti oleh Ryan Giggs yang kala itu sempat menjadi asisten Moyes sebelum akhirnya menggantikan Moyes pada sisa musim 2013/2014.

Tak mau berlarut-larut dalam kegagalan, kubu setan merah langsung menarik Louis Van Gaal untuk menggantikan Ryan Giggs yang hanya berstatus sebagai pengganti Moyes kala itu.

Sebelum resmi menukangi Manchester United, pelatih asal Belanda itu menangani negerinya sendiri pada pada ajang Piala Dunia 2014 di Brasil.

Prestasinya di Brasil terbilang cukup memuaskan, di mana sang meneer berhasil membawa tim kincir angin Belanda melenggang hingga babak semifinal sebelum akhirnya dikandaskan oleh Argentina.

Prestasi seorang Louis Van Gaal sebagai arsitek sebuah klub maupun negara membuat para fans Manchester United seperti menemukan secercah cahaya dalam kegelapan sepeninggalan Sir Alex Ferguson.

Namun optimisme itu seolah kembali memudar di tengah jalan. Memang benar Van Gaal tidak dipecat di tengah jalan layaknya Moyes, bahkan pelatih yang pernah membawa Bayern Muenchen menjadi kampiun Bundesliga bertahan hingga dua musim di Old Trafford.

Musim perdananya dapat dikatakan tidak mengecewakan, setidaknya itulah gambaran dari pendukung United.

Namun musim kedua tidaklah semulus musim pertamanya. Jika di musim perdananya ia berhasil membawa setan merah bertengger di posisi keempat, maka musim keduanya ia hanya mampu membawa United ke panggung Europa League dengan menempati urutan kelima pada klasemen akhir Liga Inggris musim lalu.

Jika dibandingkan Moyes, tentunya apa yang ditunjukkan Van Gaal jauh lebih memuaskan ketimbang yang Moyes lakukan. Namun tentunya itu tidak serta merta membuat fans menjadi puas dengan hasil tersebut. Mereka menginginkan gelar juara, dan itu tidak bisa diberikan oleh keduanya.

Moyes memang memberikan community shield pada awal kepelatihannya, namun waktu berlalu performa Manchester United menurun drastis hingga terjerembab di urutan ketujuh pada musim 2013/2014, dan community shield bukanlah gelar yang diinginkan oleh suporter.

Segala daya dan upaya telah dilakukan oleh Manchester United agar bisa move on dari Sir Alex Ferguson. Puncaknya pada musim 2016/2017 Manchester United menunjuk Jose Mourinho sebagai suksesor Louis Van Gaal di Old Trafford.

Meski pada musim terakhirnya bersama Chelsea the special one babak belur hingga pada akhirnya harus didepak dari Stamford Bridge sebelum musim selesai, namun lagi-lagi kubu United mecoba optimis dan berharap banyak kepada meneger asal Portugal ini.

Sama seperti Moyes, Jose Mourinho langsung mempersembahkan gelar walaupun itu hanyalah community shield. Ingat, bahwa sejarah mencatat, siapa pun tim yang menjuarai community shield dapat dipastikan tidak akan menjuarai Liga Premier Inggris.

Lagi dan lagi, kubu United terus optimis dan menaruh asa kepada the special one. Mengalahkan Leicester dengan skor 2-1 membuat fans optimis menatap musim baru.

Pada awalnya perjalanan United sangatlah mulus, terlebih lagi mereka berhasil membawa pulang anak hilang yang kini menjadi pemain termahal, Paul Pogba.

Fans dibuat berbunga-bunga dengan rentetan kemenangan MU di awal musim dan hadirnya seorang gelandang penuh energik Paul Pogba. Lambat laun Manchester United kembali tidak stabil dan pada akhirnya kini berada di peringkat enam klasemen sementara Premier League.

Jose Mourinho, Paul Pogba, Marouane Fellaini, bahkan kapten Wayne Rooney disalahkan atas terjerembabnya MU di posisi enam. Fans mengkritisi keputusan Mourinho yang lebih memilih Fellaini ketimbang Scweinsteiger yang justru dicampakan pada awal musim.

Paul Pogba tampil tidak sesuai ekspektasi. Tentunya dengan harga yang mahal, fans berharap lebih pada kemampuan Pogba. Fellaini dan Rooney dikritik karena performanya yang inkonsisten, terlebih Fellaini yang kerap melakukan blunder.

Tetapi akhir-akhir ini performa United kembali stabil sehingga terus membuntuti tim-tim yang berada di atas mereka.

Tentunya bermodalkan pemain termahal dan pelatih jitu, peringkat enam bukanlah peringkat ideal bagi tim sekelas Manchester United yang sedang memulai kampanye untuk melupakan Sir Alex Ferguson. Ditambah lagi musim ini mereka memiliki senjata yang ada pada diri seorang Zlatan Ibrahimovic.

Melupakan kenangan bersama Sir Alex Ferguson memang bukanlah hal yang mudah bagi fans setan merah. Setiap pelatih memiliki karekter sendiri-sendiri. Lantas yang harus dilakukan oleh fans adalah tetap mendukung siapa pun yang melatih Manchester United.

Pada dasarnya United adalah tim yang berkelas, namun mungkin mereka masih belum menemukan ramuan yang pas untuk menjadikan mereka kembali jaya seperti era Sir Alex Ferguson.

Tidak mungkin Sir Alex kembali melatih United, yang mungkin adalah akan ada pelatih yang benar-benar mampu membawa Manchester United pada kejayaan seperti apa yang telah dilakukan Sir Alex Ferguson. Maka tidak berlebihan jika fans Manchester United selalu optimis dari musim ke musim. Maka teruslah bernyanyi, glory glory Man United!