Sangat disayangkan ada kejadian di Lebak, Banten yang mana seorang ibu menganiaya anaknya berulang kali hingga tewas hanya karena kesulitan menerima pelajaran. 

Tidak mudah memang mengambil peran sebagai guru meski untuk anaknya sendiri. Butuh kesabaran ekstra untuk memahami kondisi anak. Namun bisa jadi kondisi ini juga diperkuat oleh adanya tekanan ekonomi keluarga di masa pandemi.

Jika dahulu kita dapat mendengar banyaknya keluhan tentang kualitas guru dalam mendidik. Kini semua orang tua dapat merasakan sendiri ternyata tidak mudah menjadi guru. Bahkan bagi anaknya sendiri sekalipun yang jumlahnya tak seberapa dibanding guru yang mengajar di kelas. Terlihat dari banyaknya curhatan para orang tua di media sosial selama pandemi. 

Pemerintah memang telah berupaya meringankan beban belajar siswa karena meyakini efektivitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat dipastikan tidak lebih baik dari belajar di kelas. Begitu pula telah banyak sekolah menurunkan beban tanggungan belajar siswa. 

Namun kondisi psikis siswa dan juga orang tua di masa PJJ ini belum banyak menjadi pembahasan. Bahkan ramainya curhatan para orang tua hingga timbulnya kasus kematian tersebut belum banyak membuka kesadaran para stakeholder untuk mengkaji dan mencari solusi atas permasalahan psikis sebagai efek PJJ.

Pembelajaran daring bisa jadi alasan bagi siswa (dan mungkin guru juga) untuk tidak melakukan kegiatan belajar mengajar secara maksimal. Hal paling mudah terlihat pada tingkat partisipasi siswa entah itu dalam tatap muka daring ataupun pengumpulan tugas. Di sinilah peran sekolah untuk dapat melakukan evaluasi minimal memiliki data tentang partisipasi siswa. Setelahnya bisa dirunutkan permasalahannya.

Saya bermaksud membagikan pengalaman dalam manajemen sekolah yang dengan sigap bergerak menyusuri kondisi siswa selama PJJ. Kerja tim antara pihak waka kurikulum, wali kelas, guru BK dan orang tua sangat penting untuk bisa memaksimalkan efektifitas PJJ terutama pada sisi psikis siswa dan orang tua. 

Ada contoh kasus yang menarik dan telah ditangani tuntas. Mungkin kasus tersebut di banyak sekolah dianggap angin lalu, padahal bagaimanapun juga ini menjadi tanggung jawab sekolah. 

Kasus siswa yang tidak memiliki perangkat atau kuota telah banyak diberikan solusinya. Namun yang menyangkut dengan kondisi psikis siswa atau orang tua sering kali bahkan belum terdefinikan masalahnya. 

Contoh kasus yang saya temukan adalah adanya siswa yang tidak berani buka laptop untuk mengikuti tatap muka daring. Itu berlaku untuk semua mata pelajaran. Awalnya siswa menyatakan sakit pada bagian tubuh tertentu. Setelah dibawa ke dokter, semua dinyatakan normal. Namun ternyata si anak hanya mengalami gejala psikis, berikut alur penelusuran kami terhadap permasalahan ini.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menelusuri Daftar Cek Masalah. Ini merupakan SOP yang ada di sekolah kami dari guru BK kepada seluruh siswa yaitu membagikan angket yang berisi refleksi diri akan adanya kemungkinan permasalahan. 

Ada dua belas kategori masalah yang ditanyakan yakni fisik, agama, keluarga, pergaulan, akademik, percintaan, masa depan, minat bakat, hiburan, ekonomi, komunikasi sosial, dan kegiatan sekolah. Pertanyaan yang berjumlah hampir 300 soal ini secara tidak sadar membuat siswa akan menjawab secara jujur bahkan hal-hal yang sifatnya sangat privasi. 

Hal ini dikarenakan pertanyaan beruntun dan secara tidak langsung saling terkait. Sehingga dapat memasuki alam bawah sadar mereka. Setelah proses pengumpulan data masalah siswa, guru BK akan mengelompokkan masalah berdasarkan yang paling urgen untuk dicarikan solusinya.

Biasanya kondisi urgen dapat dilihat dari laporan wali kelas atau guru mapel. Siapa saja nama siswa yang kurang aktif dalam partisipasi pelajaran. Meskipun kondisi daring PJJ. Data ini tetap diperlukan agar dapat ditelusuri oleh guru BK berdasarkan daftar cek masalah ini, apakah siswa sebatas malas atau ada masalah lain.

Contohnya kasus siswa yang mengalami gangguan psikis tadi, dalam daftar cek masalah tidak menunjukkan dia malas. Keluarga pun sekilas tampak tak ada masalah. Ekonomi cukup. Tidak ada riwayat penyakit. Maka penelusuran lebih lanjut perlu dilakukan.

Masih dalam instrumen yang sama dari olah data daftar cek masalah di atas, guru BK dapat mengamati kecenderungan grafik keumuman permasalahan yang dialami siswa. 

Siswa dengan masalah yang sama dapat dikelompokkan untuk dipertemukan dalam sesi konseling kelompok. Konseling dalam pandangan orang kebanyakan hanyalah seperti menasehati atau bahkan menghakimi siswa atas masalah yang ada padanya. Inilah yang sebenarnya sangat salah.

Banyak orang mengira bahwa semua orang bisa menjadi guru BK karena tugasnya hanya menasehati. Padahal dalam ilmu konselor, tidak seperti itu tugas guru BK. Sesi konseling adalah sesi diskusi untuk mencari akar permasalahan. 

Seperti siswa yang tidak semangat belajar itu yang faktor penyebabnya bisa jadi bukan hanya kapasitas akademis siswa. Bisa jadi ekonomi keluarga, kasih sayang orang tua atau mungkin hubungan pertemanan.

Siswa yang saya ceritakan tadi, dalam sosiometrinya menunjukkan keunikan. Dia berada dalam kelas yang berisi siswa dengan minat tahfidz. Namun siswa tersebut justru menunjukkan pola pergaulan yang lebih nyaman dengan siswa yang kurang disiplin bahkan bukan dari teman sekelasnya. Sekilas dari sini mulai nampak permasalahan sebenarnya dari siswa tersebut.

Selayaknya seorang dokter, guru BK dapat melanjutkan diagnosanya apabila didapati ada kondisi khusus pada seorang siswa. Biasanya di sekolah kami akan diberikan tes melanjutkan delapan pola gambar, tes menggambar pohon, tes menggambar rumah beserta anggota keluarga dan tes menggambar manusia utuh dari ujung jari kaki ke ujung rambut.

Tes melanjutkan delapan pola gambar biasanya mengorek tentang karakter tersembunyi siswa seperti motivasinya dalam menjalankan tugas, kemampuannya bertahan menghadapi masalah, bahkan pernah ada siswa yang diketahui memiliki potensi gangguan kejiwaan meski belum tampak. 

Tes menggambar manusia utuh biasanya dapat memperlihatkan pribadinya. Apakah dia orang yang disiplin, seimbang dalam hidup, penyendiri, dan sebagainya. Tes yang paling sering memberikan gambaran masalah siswa adalah tentang rumah dan anggota keluarga. Bagaimana cara dia menggambarkan bentuk rumah, dimana letak jendela, dimana letak pintu. 

Siapakah anggota keluarga yang berdiri bersamanya, dimana posisinya di antara anggota keluarga. Semua gambar ini adalah cermin alam bawah sadar yang akan dibaca oleh guru BK yang memang memiliki kompetensi dalam bidang psikologi.

Dalam sesi tes menggambar ini mulai tampak hal yang disembunyikannya dari beberapa diskusi. Dia hanya mengikuti saran orang tua untuk masuk kelas tahfidz. Ya memang bagus niatan orang tua. 

Namun siswa seakan merasakan kurang nyaman dengan pergaulannya. Dia merasakan seperti tidak berada di lingkungan yang tepat. Di sinilah ditemukan akar masalah kenapa dia seperti kehilangan total minat belajarnya.

Siswa yang telah teridentifikasi masalahnya dapat dilanjutkan pada sesi konseling privat. Hal ini sangat mungkin dilakukan bagi siswa yang membutuhkan sentuhan terapi. Contoh siswa yang kecanduan rokok atau pornografi. Penindakannya bukan dengan memberikan poin hukuman tapi bisa dengan hipnoterapi. 

Inilah yang paling penting untuk membedakan guru BK dengan kapasitas sebagai konselor dengan yang seperti dibilang orang banyak bahwa semua orang bisa jadi guru BK, yakni cara menangani siswa.

Begitu pula dalam kasus siswa yang saya contohkan dalam tulisan ini. Dalam usaha membangun semangat belajar siswa, tidak dilakukan dengan sekedar memberi semangat secara verbal. Saya mengamati terapi yang dilakukan diawali dengan menyediakan gambar-gambar sebagai pancingan agar siswa bercerita. 

Gambar ini telah dipilih yang sekiranya mampu memberi stimulus siswa tersebut untuk berdamai dengan kondisinya. Setelahnya, siswa diminta untuk mendengarkan secara berkala beberapa musik instrumental yang dimaksudkan untuk menguatkan terapi gambar tadi, yakni membangun motivasi internal siswa. 

Jadi sampai selesai sesi konseling dan siswa telah semangat dalam belajarnya, sama sekali tidak ada nasehat yang diberikan oleh guru BK. Tentu proses ini panjang, tidak sehari dua hari. Namun dengan penanganan yang tepat, permasalahan pun tertangani dengan baik.

Ini hanyalah salah satu masalah pembelajaran siswa yang sungguh tampak aneh, siswa tidak berani menyalakan laptop untuk tatap muka daring padahal mau tidak mau harus PJJ selama pandemi. Keluhan siswa yang katanya sakit fisik ternyata sebatas psikosomatis saja.

Dengan ini saya yakin, banyaknya masalah lain dalam pelaksanaan PJJ sebenarnya dapat kita telusur dengan SOP yang tepat. Kembali pada kasus kematian anak oleh orang tuanya sendiri karena lambat menerima pelajaran. 

Bisa jadi konseling perlu dilakukan pada tipe orang tua seperti ini yang belummemahami teori pendidikan. Masih menuntut anak harus pintar akademis agar sukses. Padahal banyak orang sukses yang tidak selalu linier dengan prestasi akademis.

Dan menjadi tugas sekolah yang tidak hanya selesai dalam sekadar menyelenggarakan PJJ melalui berbagai teknis metode. Namun sekolah pun harus turut untuk memastikan keefektifan pembelajaran terutama pada kondisi pandemi yang tentunya beban psikis dirasakan oleh orang tua. Baik itu beban ekonomi ditambah dengan tugas menjadi guru mendadak bagi anak-anaknya.