Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Banyak masyarakat berlomba-lomba berbuat kebaikan di bulan mulia ini. Dalam hal ibadah, umat islam juga tak kalah semangat dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Di siang sampai sore hari, mereka gunakan untuk bersedekah. Di malam harinya mereka juga tak luput tadarus. Dan salah satu ibadah yang umat muslim kerjakan yang hanya ada pada bulan Ramadan ini adalah salat tarawih.

Di Indonesia, sering dijumpai pelaksanaan ibadah tarawih antar masjid berbeda jumlah rakaatnya. Bahkan hal ini sudah bisa dikatakan hal yang lumrah. Diantara umat muslim pun juga sudah tidak mempermasalahkan perbedaan jumlah rakaat tarawih ini. Namun, sebenarnya manakah diantara jumlah tersebut yang mempunyai nilai utama?

Jika ditarik ke masa lalu, semasa hidupnya, Rasulullah melaksanakan salat tarawih dengan jumlah rakaat sebanyak 8 sebagaimana hadits di bawah:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

Artinya: “dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwasanya dia bertanya kepada Aisyah R.A, “Bagaimana shalat Rasulullah Saw. pada bulan Ramadhan?” Dia menjawab, “Beliau tidak pernah melebihkan dari 11 rakaat pada bulan Ramadhan dan selainnya. Beliau shalat 4 rakaat. Jangan tanyakan tentang kebagusan dan panjangnya, lalu shalat 4 rakaat lagi dan jangan tanyakan tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian shalat 3 rakaat.” (HR. Bukhari)

Sejauh ini, salat tarawih yang dilakukan Nabi dengan jumlah 20 rakaat tidak ditemukan hadits shahihnya. Meskipun ada haditsnya, sanad periwayatannya pun dinilai lemah, yakni yang dinukil oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Abbas. Munculnya salat tarawih berjumlah rakaat 20 terjadi setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Setelah Umar bin Khatab terpilih menjadi Khalifah, umat Islam banyak yang melakukan salat-salat tambahan pada malam hari. Akan tetapi mengenai rincian jumlah rakaat yang harus dikerjakan belum ada yang kesepakatan. Maka dari itulah Umar memutuskan untuk menetapkan berapa jumlah rakaat yang dilaksanakan dalam salat tersebut.

Selain mengenai pembaruan dalam hal jumlah rakaatnya, Umar juga memberikan keputusan bahwa salat-salat tambahan seperti tarawih ini seharusnya dilaksanakan secara berjamaah, dengan adanya imam seorang qari yang membaca sejumlah ayat Al-Quran pada setiap malamnya, sehingga keseluruhan pembacaan Al-Quran bisa terselesaikan dalam waktu satu minggu. Dalil mengenai penetapan jumlah rakaat ini adalah:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ القَارِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ البِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Artinya: “dari Abdurrahman bin Abdul Qari, dia berkata, “ Aku keluar bersama Umar bin Khatab RA pada malam bulan Ramadan menuju masjid. Ternyata manusia berkelompok-berkelompok secar terpisah-pisah, seseorang salat sendiri, dan seseorang salat mengimami beberapa orang. Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku berpendapat apabila aku mengumpulkan mereka pada satu imam, niscaya hal itu lebih baik’. Kemudian dia membulatkan tekad dan mengumpulkan mereka untuk diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Lalu aku keluar bersamanya pada malam lain dan manusia sedang salat mengikuti imam mereka. Umar berkata, ‘Sebaik-baik bid’ah adalah ini, dan slat mereka yang tidur (maksdunya untuk melaksanakannya pada akhir malam) lebih utama daripada shalat yang sedang mereka kerjakan’. Adapunpu manusia saat itu mengerjakan salat di awal malam.” (Hadits riwayat Bukhari)

Dalam Fathul Baari dijelaskan, Umar beranggapan bahwa satu imam dalam salat berjamaah itu lebih baik, karena salat sendiri secara terpisah-pisah akan menimbulkan perselisihan. Di samping itu salat berjamaah dengan satu imam akan menimbulkan semangat. Lalu mengenai jumlah rakaat yang dikerjakan oleh Ubay bin Ka’ab sebenarnya tidak juga disebutkan.

Akan tetapi berdasarkan riwayat Abdurrazaq melalui jalur Muhammad bin Yusuf mengatakan 21 rakaat. Imam malik juga mengatakan jumlahnya adalah 20 rakaat tanpa witir.

Terlepas dari jumlah rakaat tarawih, mengenai bacaan dalam salat tersebut amatlah panjang, yakni sampai dua ratus ayat. Karena lamanya bacaan dan berdiri tersebut, beberapa jamaah yang salat sampai bersandarkan pada tongkat.

Untuk memahami perbedaan ini, Ad-Dawudi memberikan kesimpulan bahwa masing masing riwayat mengungkapkan kejadian pada waktu yang berbeda. Ada pula kemungkinan perbedaan tersebut didasarkan pada panjang pendeknya bacaan. Apabila bacaannya panjang, maka jumlah rakaatnya dikurangi, dan juga sebaliknya.

Lalu apabila dua riwayat sama-sama mempunyai dalil yang shahih dan sama-sama menyesuaikan konteks. Manakah yang sebaiknya kita pilih? Quraish Shihab memberikan jawaban mengenai masalah ini bahwa keragaman cara beribadah yang bersumber dari nabi, kesemuanya adalah benar. Maka kita bebas memilih toh semuanya juga memiliki dalil yang shohih.

Apabila dilihat dari nilai mana yang lebih utama dalam pengerjaan salat tarawih tersebut. Maka dalam hal ini jawabannya terletak pada “bagaimana kekhusyu’an seseorang dalam menjalankan ibadah tersebut”. Maka untuk memilih mana yang menurut kita lebih utama adalah dimana bisa melaksanakan salat dengan khusyu’, maka itulah yang lebih baik.

Jika salat tarawih delapan rakaat, disertai tumakninah dan khusyu’, maka itulah yang lebih baik. Begitu juga dengan yang berjumlah 20 rakaat, apabila bisa khusyu’, maka ini juga baik. Jika rakaatnya 8 tapi bacaan yang dibaca begitu panjang sehingga membuat mengantuk, capek, bahkan tidak khusyu’, maka kurang afdhol. Begitu juga apabila salatnya 20 rakaat, tapi dilakukan dengan cepat sampai tidak bisa khusyu’ bahkan meninggalkan tumakninah, maka disini nilai keafdholan salat juga kurang bisa didapatkan.

 Maka seperti kata Yusuf Qardhawi, “Yang terpenting dan afdhol, bukan masalah jumlah rakaatnya, akan tetapi kebaikan, kekhusyu’an dan tumakninahnya.”