Menjadi anak atau orang tua, mana peran yang lebih sulit? 

Menjadi orang tua itu tidak mudah, tetapi menjadi anak juga bukan pekerjaan mudah. Orang tua menurut KBBI didefinisikan sebagai ayah atau ibu kandung, sementara anak adalah manusia yang masih kecil. 

Mungkin kita sering mendengar istilah bahwa menjadi orang tua tidaklah mudah. Walau ada sejuta buku panduan untuk menjadi orang tua yang baik, tetapi buku-buku itu tidak pernah cukup. Sebab setiap anak punya karakteristik dan cerita yang berbeda, begitu pula setiap orang tua membesarkan anak-anak mereka dengan kondisi dan lingkungan yang berbeda. 

Sebagai seseorang yang telah menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan yang lainnya, tentu setiap orang tua menginginkan hasil yang terbaik untuk anaknya.  Jadi bukan hal yang mengherankan jika terkadang para orang tua bersikap keras kepala dan kekeh akan apa yang ia yakini kebenarannya. 

Tapi mari bersikap jujur, menjadi anak juga tidak mudah. Berada pada posisi sebagai seorang penerima, seorang anak dituntut untuk memuaskan keinginan orang tuanya. Walaupun tidak semua orang tua memberikan tuntutan pada anak-anaknya, tapi bukankah setiap orang tua punya harapan apada anak yang telah mereka besarkan? 

Meski tuntutan dan harapan adalah dua hal yang berbeda tetapi pada dasarnya mereka memberikan beban tanggung jawab yang hampir sama. Keharusan untuk memberikan yang terbaik. 

Pasti kamu pernah merasa bahwa orang tuamu tidak bisa memahami apa yang kamu rasakan, dan walaupun kamu mencoba untuk menjelaskannya kamu merasa bahwa mereka tetap tidak mengerti, atau bahkan kamu merasa mereka tidak ingin mengerti. 

Beberapa dari kita memilih pasrah dan mengikuti keinginan orang tua, walau diam-diam menangis disudut kamar. Beberapa yang lain marah dan memberontak, menghujani orang tua dengan kemarahan. Kedua reaksi tersebut punya kesamaan, kita sebagai anak merasa kecewa dan karenanya keduanya sama-sama menjauhkan hubungan antara anak dan orang tua.

Kita yang dulunya tak ingin lepas dan selalu ingin di dekat orang tua, perlahan menjauhkan diri. Menutup pintu-pintu cerita yang biasanya kita bagi dengan orang tua, merasakan kebebasan dan ketenangan di saat seorang diri. 

Tapi pada titik tertentu merasakan sepi, kerinduan yang menyeruak akan kehadiran orang tua. Keinginan untuk duduk dan makan bersama, bercanda sepanjang hari, atau mungkin sedikit pelukan hangat dan cium di kening sebelum tidur. 

Rasanya lucu. Ungkapan “sebenci apapun ya secinta itu” ternyata tidak keliru. Karna bagaimanapun merekalah orang pertama yang menggenggam tangan kita, orang yang selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan sungguh melakukan segalanya untuk betul-betul membuat keadaan menjadi baik-baik saja demi kita. Sejauh apapun hubungan kita dengan orang tua, mereka tetaplah rumah.

Dari sisi orang tua sendiri, mereka kerap kali dipaksa menelan ego demi menjaga hubungan dengan si anak agar tetap baik-baik saja. beberapa bahkan mengorbankan mimpi-mimpi mereka agar senantiasa bisa mendampingi anaknya. 

Tapi meski kedua sisi telah sama-sama melakukan yang terbaik untuk menjaga hubungan anak dan orang tua tetap harmonis kadang kala perasaan tidak dimengerti itu tetap tidak bisa dihindari. Padahal kedua belah pihak telah sama-sama mengalah satu sama lain, jadi kenapa bisa demikian?

Kurangnya komunikasi. Dalam sebuah hubungan komunikasi adalah salah satu pondasi terpenting untuk menjaga hubungan tersebut tetap kokoh dan utuh. Sayangnya kerap kita temui kesulitan menjalin komunikasi antara orang tua dan anak. 

Entah si anak yang kesulitan mengungkapkan perasaannya, orang tua yang kurang terbuka akan pandangan anaknya, atau hambatan-hambatan lain yang menyebabkan komunikasi antara orang tua dan anak menjadi terhambat.

Celakanya buruknya komunikasi ini dapat menyebabkan kesalahpahaman yang berlarut-larut yang berujung jauhnya hubungan antara orang tua dan anak. Misalnya saja dalam memilih jurusan perkuliahan, si anak memiliki minat pada seni fotografi tetapi ia tidak menonjol pada bidang tersebut, padahal itu adalah satu-satunya bidang yang membuatnya bersemangat. 

Sementara orang tua yang melihat si anak ini menonjol pada bidang sains berpikir untuk menjadikan anaknya seorang dokter, padahal si anak tidak menyukai pekerjaan tersebut.

Ketika akhirnya si anak terjun ke dunia kedokteran ia menjalaninya dengan setengah hati, hasil yang ia dapatkan pun menjadi tidak maksimal. Pada kondisi seperti ini tidak ada pihak yang dipuaskan, baik si Nanak maupun orang tua. Di samping itu hubungan keduanya juga menjadi renggang. 

Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa menjaga komunikasi dan saling terbuka satu sama lain adalah kunci penting untuk menjaga keharmonisan hubungan antara anak dan orang tua. 

Sebab baik menjadi orang tua maupun anak keduanya buakanlah pekerjaan yang mudah. Ada begitu banyak energi yang harus dicurahkan, akan tetapi jika kedua belah pihak dapat bersinergi, saling bahu membahu, serta mengesampingkan ego masing-masing, menjaga hubungan senantiasa hangat dan dekat tentu bukanlah pekerjaan yang mustahil.