Saya ingin menggugat persoalan kuno yang tabu dibicarakan di Indonesia. Apakah surga dan neraka memang benar-benar ada? Jika Anda menjawab "tidak", maka Anda bukan warga negara Indonesia. KTP Anda tidak mungkin berkop Pemerintah Indonesia. 

Jika Anda menjawab "iya", memang seharusnya Anda menjawab "iya". Sebab di KTP Anda tertera identitas agama. Agama itulah yang menentukan Anda waras atau tidak, menentukan Anda pantas atau tidak menjadi pemimpin. Agama itu juga yang menarasikan serta merawat surga dan neraka secara jelas.

Bagi Anda yang tidak ingin menjawab "iya" dan "tidak" alias masih ragu-ragu dan kebetulan Anda punya KTP Indonesia, Anda tergolong kelompok kafir. Dosa Anda segudang! Tidak ada ampun! Tak ada akhlak!  Laknat! Dan sebagainya.

Mengajukan pertanyaan kebenaran surga dan neraka saja sudah tergolong penistaan terhadap perasaan orang beragama. Gugatan saya memang sudah gugur sejak dini sebelum saya ajukan keberatan dengan argumen berlagak ilmiah kayak Stephen Hawking.

Namun, sebagaimana agama itu kompleks dengan ayat-ayat dan penafsirannya, meragukan kebenaran surga dan neraka hanyalah sebuah dimensi radikal dari seni berpikir. Tulisan ini ingin menunjukan betapa galaunya kita terhadap sikap benar dan salah di era digital.

Agama sangat produktif dalam urusan menciptakan paradoks. Salah satunya dalam urusan hukum benar-salah. Iman menjadi kunci utama dalam perilaku beragama. Namun iman juga harus berlandas pada logika dan akal sehat. Dua hal ini saja sudah berpotensi menghasilkan paradoks.

Dalam tradisi agama, hukum bagi orang benar atau berbuat benar ialah surga. Sementara hukum bagi orang salah atau bertindak salah adalah neraka. Ini adalah sebuah kepastian dan  esensi paling purna dalam agama. Bahwa segala perilaku manusia seharusnya bermuara pada surga-neraka. Singkatnya, surga dan neraka menjadi hukum final dan mutlak bagi umat manusia.

Untuk menuju tempat nan jauh itu, manusia harus melewati peristiwa paling sakral dalam ajaran agama; kematian. Kematian sebagai sebuah gerbang menuju kehidupan kekal menjadi momok menakutkan bagi manusia. Sebab bayang-bayang benar dan salah selama hidup di dunia sangat menentukan nasib abadi seseorang.

Menurut saya, surga dan neraka merupakan sebuah pencapaian imajinasi teragung yang ditemukan manusia. Ia merupakan simbol tunggal egoisme manusia beragama dalam kehidupan. Ia juga menjadi sumber utama tindak-tanduk manusia beragama di dunia. Imajinasi itu kemudian mengantar manusia ke suatu perspektif benar-salah sebagai sebuah hukum tunggal bermanusia. Saya melihat ada relasi mesra antara benar-salah dan surga-neraka.

Bahwasanya surga-neraka merupakan representasi anggapan benar-salah kehidupan di dunia. Atau konstruksi paling rumit dan mendalam dari hukum benar-salah di dunia ialah surga-neraka yang adalah misteri abadi.

Gejolak Era Digital

Di era digital, banyak persoalan muncul dengan cepat di muka publik. Narasi yang berkembang selalu berujung pada hukuman benar-salah, jahat-baik, dan sebagainya. Akhirnya dikotomi benar-salah di media sosial menjadi sebuah diskursus baru dan menemukan titik tolaknya. 

Media sosial ialah anak kandung era digital. Dari masyarakat biasa hingga presiden pun memiliki kedudukan yang sama di media sosial. Sehingga kebenaran tidak dapat dipandu oleh pihak tertentu melalui konten agungnya. Hukum benar-salah juga menjadi kabur dan tak tentu arahnya karena dihantam oleh budaya klaim dan klarifikasi berkelanjutan.

Pemaknaan terhadap sebuah peristiwa aktual pun tidak dipandu oleh etika dan moral. Seiring itu, agama kehilangan akalnya untuk memicu dinamika yang baik. Justru agama makin memantik suasana menjadi lebih buruk. Di tengah gejolak itu, keberadaan surga dan neraka kian dipertanyaakan.

Suatu peristiwa hangat di media sosial selalu dihakimi oleh data. Kemudian terjadilah perang data antar pengguna. Mengkultuskan data memang sebuah cara ilmiah berperang di media sosial. Namun, data yang tersedia pun selalu tidak cukup untuk mengklaim sebuah kebenaran. Maka, benar dan salahnya sebuah argumentasi sulit divalidasi.

Akhirnya, banyak orang menghindar dari vonis benar dan salah di era ini. Mereka juga memilih untuk tidak memvonis benar dan salah terhadap suatu peristiwa. Hal ini dipicu oleh ke-glori-an refleksitas kehidupan era post-truth. Sehingga surga-neraka dengan sendirinya mengalami disrupsi.

Bila umat beragama menghindar dari benar dan salah atau tidak memilih keduanya, seharusnya ada pilihan lain selain surga dan neraka di akhirat sana. Karena terciptanya surga dan neraka hanya teruntuk pihak benar dan salah. Sehingga kehilangan kendali atas benar dan salah di era digital bisa jadi kehilangan surga dan neraka di dalam agama. Ini berlaku untuk umat beragama.

Di dalam agama sendiri, pikiran saya ini dianggap dangkal dan tidak memenuhi syarat akal sehat dan logika agama. Namun, kita seharusnya menanyakan ke mana agama membawa manusia di era digital? Jika ke surga dan neraka, lalu apa hukum yang valid yang dapat dipahami oleh otak dan hati manusia saat ini?

Bukankah agama dan juga negara terlibat aktif dalam upaya menghilangkan kebenaran yang valid? Hanya Tuhan yang tau. Ya, itu argumen tersuci umat beragama; menyerahkan kebenaran kepada Tuhan dan memilih diam pasrah. Dampaknya sudah jelas, ketidakadilan, kemiskinan, kriminalitas, dan sejenisnya.

Maka, saya menggugat kembali. Apakah surga dan neraka benar-benar ada? Atau manakah yang palsu, benar-salah atau surga-neraka?