Sudah pukul delapan. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tak lengkap di rumah kami.

Sudah pukul delapan, Mamak (kakak/adik laki-laki Ibu) bernama Beni belum juga ada di rumah. Berkali-kali aku menghubungi nomornya, terus-menerus tidak aktif .

Aku dan Ibu sama-sama menonton tv. Kemudian kuutarakan juga kegelisahanku padanya.

“Ke mana Mamak Beni. Sudah pukul delapan. Belum juga tiba di rumah,” kataku.

Langsung dijawab Ibu dengan menampakkan wajah kecemasan padaku. Rupanya Ibu memikirkan hal yang sama denganku. Merasakan hal yang sama pula. Biasanya sebelum Magrib Mamak Beni sudah sampai di rumah.

Sejak sesudah Magrib, Ibu sudah memikirkan Mamak Beni. Kehadirannya. Kemudian Ibu menjadi gelisah. Dan, hanya bisa mengobatinya dengan nonton tv sehabis makan malam.

“Coba kau turut ke toko Mamak Arif. Atau ke rumahnya sekalian,” kata Ibu.

Serta-merta aku tak mau menunggu apa pun. Segera aku berdiri, beranjak, ambil kunci sepeda motor, memakai sandal, dan menuju sepeda motor di teras.

Ibuku kakak-beradik empat orang. Tiga laki-laki dan seorang perempuan (ibuku). Ibuku anak tertua. Diikuti Mamak Sanjuang (di Bogor, Jawa Barat), Mamak Arif, dan Mamak Beni.

Atas saran Ibu, sehabis keluar dari rumah sakit jiwa, Mamak Beni bekerja di toko pakaian Mamak Arif.

Sudah 14 bulan Mamak Beni kerja di toko pakaian Mamak Arif. Kata Mamak Arif, tidak ditemukan kejanggalan-kejanggalan pada kerja Mamak Beni. Malah kerjanya bersemangat. Pandai melayani pembeli dan ramah. Jujur dan tidak suka menilap uang. Lebih baik malah dari orang normal. Cuma, belakangan Mamak Beni suka merokok. Sering minta uang beli rokok kepada Mamak Arif. Di luar gajinya yang sejuta sebulan dan uang makan sekali sehari di rumah makan. Tahu begitu, kukatakan kepada Mamak Beni, sebaiknya merokok dua-tiga batang saja sehari--kalau tidak bisa tidak merokok.

Aku sudah di atas sepeda motor. Menuju pasar, toko Mamak Arif. Terus-menerus pikiranku bertanda-tanya tentang keberadaan Mamak Beni.

Sedikit kuceritakan tentang Mamak Beni. Umurnya sekarang 28 tahun, lima tahun lebih tua dariku. Ia pernah kuliah 2 tahun di Padang. Tapi tidak menyesaikan studi S1-nya. Pulang ke kampung, Mamak Beni malah jadi sering duduk di kedai. Bersenda dan main domino di sana. 

Tiga tahun ia melakukan rutinitas seperti itu. Membuat Ibu prihatin terhadap nasibnya. Ibu memikirkan masa depannya. Ibu sedih. Karena setelah tak selesai studi di universitas, Mamak Beni bukannya cari pekerjaan atau buka usaha, malah bergaul dengan orang-orang tak jelas di kedai. Setiap malam main domino, ngomong apa tentang masa depan.

Kemudian Ibu menelepon Mamak Sanjuang yang ada di Bogor. Ibu bilang, biarlah Mamak Beni pergi ke Bogor. Numpang tinggal di rumah Mamak Sanjuang. Dan, carikan juga dia pekerjaan setelah hidup di Bogor.

Berangkatlah Mamak Beni ke Bogor dengan uang seadanya pemberian Ibu. Tak sampai seminggu di Bogor, Mamak Beni menelepon ke kampung. Bahwa ia sudah dapat kerja. Jadi pramusaji di sebuah kafe. Mamak Beni katakan, ia sendiri yang mencari pekerjaan itu.

Hampir lima tahun Mamak Beni di Bogor. Ia yang semula jadi pramusaji di kafe, sudah punya kafe sendiri. Katanya, modalnya tanpa meminta ke Mamak Sanjuang. Melainkan hasil tabungan selama ia jadi pramusaji di kafe.

Ibu pun gembira. Bangga.

Tapi pada suatu malam, Mamak Beni pulang kampung dalam keadaan murung. Bawa tas berisi pakaian tanda ia pulang dari rantau. Dompet dan sebuah jam tangan ia letakkan di meja ruang tamu, lantas tertelentang tak bergairah di kursi ruang tamu.

Selama dua hari ia seperti itu di rumah.

“Berapa hari kau di kampung,” kata Ibu.

“Aku tidak akan balik lagi ke Bogor,” kata Mamak Beni, lantas masuk kamar. Hari-hari selanjutnya ia mengurung diri. Berlarut-larut.

Aku dan Ibu serta-merta saja mencemaskan keadaan Mamak Beni. Ada apa? Pasti dia dalam masalah. Diketahui kemudian, menurut cerita Mamak Beni yang melompat-lompat dan terputus-putus, bahwa Mamak Beni dan pacarnya putus. Ketika putus itu, ia mengusir beberapa orang langganannya di kafe yang sedang mabuk-mabukan. Berteriak mengusirnya, menuliskan di status fesbuknya tentang kejadiaan mabuk-mabukan itu. Tentu saja para pelanggan itu tak terima. 

Suatu malam, mereka membawa preman ke kafe Mamak Beni. Mabuk lagi. Membuat Mamak Beni takut.

Mungkin di sanalah mulanya malapetaka dalam hidup Mamak Beni.

Lalu Mamak Beni suka marah-marah di rumah. Meracau. Sering tak pulang malam hari ke rumah. Dan, pernah memukulku sekali tanpa sebab.

Selanjutnya kami membawanya ke rumah sakit jiwa. Dan dirawat selama 20 hari.

                               ***


“Mamak, ada Mamak Beni di sini,” kataku setelah Mamak Arif muncul dari balik pintu.

“Tadi sebelum Magrib dia pulang. Dia yang menutup toko tadi. Bagaimana itu, tidak ada dia sampai di rumah,” kata Mamak Arif.

“Itulah. Aku sangka tadi dia di toko sampai malam. Tidak ada dia sampai di rumah.”

“Sudah ditelepon.”

“Sudah. Hp-nya tidak aktif,”

Seketika terlihat cemas di wajah Mamak Arif. Bibirnya bergetar. Ia menyuruhku masuk rumahnya dulu. Membicarakannya di dalam saja. Tapi aku tolak. Aku ingin mencari Mamak Beni.

Aku cari di sekitar toko. Barangkali Mamak Beni duduk di kedai dekat toko. Aku tanya sana-sini. Terus, aku pergi ke kedai tempat ia dulu sering main domino sebelum merantau ke Bogor.

“Tadi pas Magrib dia di sini. Beli rokok. Duduk di palanta,” kata Uda Siman pemilik kedai.

“Terus,” kataku.

“Terus, aku ke dalam. Tak lama aku ke belakang dia sudah hilang.”

“Tahu arahnya.”

“Tidak tahu.”

Aku tinggalkan kedai Uda Siman. Menuju rumah di depannya. Kuketuk pintunya. Tersembul wajah Uni Sijah.

“Iya. Dia lama berdiri di depan kedai Siman tadi. Terus naik ojek,” kata Uni Sijah.

“Ke mana arah ojeknya Ni,” kataku.

“Ke rumah kau.”

“Kira-kira tukang ojeknya siapa, Ni.”

“Tidak tahu aku. Hari sudah malam. Wajahnya dia saja kuperhatikan.”

“Terima kasih.”

Ketika kunaiki lagi sepeda motor, kecemasanku semakin bertambah-tambah. Hatiku seperti dipermainkan sembilu. Ada sepuluh rumah kutanyakan rumah sekitar kedai Uda Siman. Hampir seluruh kedai aku cari keberadaan Mamak Beni. Tidak juga ditemukan. Ke pangkalan ojek, kembali ke toko Mamak Arif, ke pasar. Aku mencari Mamak Beni.

Aku pun mulai lelah. Dan putus asa mencarinya.

Angin malam terasa dingin ketika kubawa sepeda motorku menuju rumah. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Mamak Beni. Kumat? Dia memukul orang. Lantas orang itu balik memukulnya. Atau, bisa jadi orang itu mengeroyoknya.

Ah, Mamak Beni.

Aku tiba di rumah dalam keadaan lemas. Pikiran tak fokus.

Kubuka pintu rumah. Segera terperangah, mendapati Mamak Beni duduk tak jauh dari Ibu menonton tv. Ia duduk bersila di lantai tak berkarpet. Sementara Ibu duduk di lantai yang berkarpet.

Gembira. Entah. Campur aduk.

“Ini Mamak kau. Balik dia. Dari arah Punggasan,” kata Ibu dengan wajah masih menyisakan kecemasan.

“Ke mana Mamak tadi, Bu.”

“Kau tanya sendirilah.”

Aku duduk. Menghadap Mamak Beni yang terlihat asyik menonton tv.

“Ke mana Mamak tadi?” kataku.

Mamak Beni segera menoleh kepadaku. Wajahnya memperlihatkan keceriaan.

“Tadi rencana mau naik travel. Ke Padang. Ingin berjumpa aku dengan kawan-kawan lamaku. Kawan-kawan kuliahku. Rindu aku dengan mereka,” kata Mamak Beni cuek.

Aku langsung membaca istigfar di dalam hati. Orang sudah dalam debar yang sangat, Mamak Beni malah bicara cuek, lepas.

“Buat apa Mamak ke Padang. Kawan-kawan kuliah. Mereka tentu sudah lulus dan jadi sarjana. Sudah balik ke kampung masing-masing. Atau sudah bekerja di kota. Sudah punya kesibukan masing-masing. Mana ingat lagi mereka sama Mamak,” kataku agak emosi.

Mamak Beni kembali melihat tv.

“Sini hp Mamak. Ada Mamak telepon dengan kawan-kawan Mamak dulu,” kataku.

“Hp-ku butut Sense. Tidak bisa internet. Tidak punya nomor mereka Mamak.”

“Di fesbuk.”

“Mamak tidak main fesbuk.”

“Lalu dari mana Mamak bisa tiba-tiba ingat kawan-kawan mamak.”

“Rindu saja Sense.”

“Sekarang masih rindu.”

“Sudah tidak,” kata Mamak dan cengengesan.

Aku pergi ke dapur untuk bikin teh. Duduk lagi tak jauh dari Ibu dan Mamak Beni. Kukeluarkan sebatang rokok. Dan lega.