Sepontong kisah si Mamah Muda di masa pagebluk, biasanya di pagi hari hanya bersibuk ria dengan onderdil make up dan asesoris pemanis busana, kini wajib pula berjibaku dengan masker dan kawan-kawannya. APD menjadi new trend fashion baginya. Smart and beauty, plus safe menjadi pegangan utama. Begitu kompetitif dan berdedikasi. Lelah yang dibawa pulang akan selalu terobati dengan sambutan senyum mungil si buah hati.

Sejak musim corona kesehariannya dilewati begitu hati-hati, ketat akan protokol kesehatan. APD lengkap di hand bag, bukan satu tapi doble, cadangan, “Mana tahu habis atau tiba-tiba dibutuhkan,” ungkapnya. 

Semua dilakukan demi si buah hati dan omah di rumah yang juga rentan akan si Corona. Dirinya dan suami sehat bugar, tanpa riwayat medis, yakin imunitasnya cukup tangguh menaklukkan si corona, namun ketaatan itu demi mereka.

Suatu ketika si Mamah Muda ditugasi ke instansi A untuk keperluan audit kinerja, si Babang yang menjamu tampak tidak mengenakan masker, terlihat jelas acuh akan protokol, si Mamah Muda hanya bisa mengingatkan dengan sopan dan juga santun, si Babang menjawab enteng, “Tidak akan apa-apa”, si Mamah Muda tidak berdaya, hanya bisa menyesuaikan diri, jaga jarak agar tetap safe, dirinya bukanlah tuan rumah yang punya kuasa akan rule of the game.

Klise cerita maya ini lahir dari dunia nyata. Tidak banyak yang mengetahui, begitu besar pengorbanan yang dilalui si Mamah Muda untuk taat protokol, jika lagi lembur sampai larut, begitu tiba di rumah langsung bersih-bersih tidak mengenal jam, pakaian dikenakan dari luar sekali pakai walau sejenak, kalau lagi pengen ngemil dan jaraknya tanggung, pakai jasa Ojol, “Ah! sekalian berbagi, daripada harus mandi lagi,” gumamnya, biaya hidup meningkat, durasi waktu untuk bersih-bersih jadi berkali-kali, begitu rumit menyesuaikan new normal ini baginya.

Si Babang Bebal hanya menyikapi santuy, belum lagi kadang menjadikannya bahan candaan, tertawa penuh bahagia. Si Mamah Muda hanya bisa memaklumi ketidakpahaman si Babang Bebal, walau itu menjadi sesuatu yang sangat serius baginya. 

Si mamah muda tiada kuasa memaksakan keyakinannya pada siapa-siapa, ia tetap kukuh pada ikhtiarnya, karena percaya itu benar, ia juga memiliki cerita pedih akan sahabatnya yang masih berjuang memerdekakan diri dari kekangan corona

Sungguh realitas yang pilu, masih banyak Babang Bebal, seakan menuju pada matinya rasa kepedulian, kepekaan akan interaksi di antara kita yang kian tumpul. Sedikit pengertian dibutuhkan, kenakan masker biar kaum si Mamah Muda merasa nyaman, tidak perlu merasa was-was akan kehadiran yang belum mengikuti protokol.

Mengertilah! jangan kurangi bahagianya dalam bekerja, biarlah ia tersenyum menawan memikat dunia tanpa perlu berkerut risau akan si Bebal protokol yang lalu lalang.

Jangan sampai ia merasa teraniaya lalu mengadu pada Tuhan, dan itu tentu makbul. Ah! Tidak mungkin akan dilakukannya, karena ia baik dan pengertian, begitupun Tuhan Maha Baik. Cukup kita tunaikan warisan etika nenek moyang, saling memahami dan mengerti, anggap saja ini sedekah, karena kita peduli satu sama lain.

Rasanya percuma, mengingatkannya! Selain tidak paham, si Bebal juga tidak pengertian. Sepertinya golongan ini yang dikategorikan oleh filsuf, kelompok yang tidak tahu apa yang tidak diketahuinya. Hilir mudik dengan santuy, tidak sadar sedang menebar kekhawatiran, pada mereka yang taat protokol, tak terkecuali si Mamah Muda.

Sungguh taat protol bukanlah langkah buta arah, ilmuan yang mendalami sudah mengimbau, Ulama sudah menfatwakan setelah mengkajinya, Umara sudah memerintahkan. Bukankah itu syariat? jika ketiganya sudah berpendapat sama, lalu ke mana lagi engkau sandarkan egomu? Tidakkah berhati-hati itu lebih baik! Kiranya bersandar pada Takdir, tentunya memilih takdir yang lebih baik itu lebih utama, rasanya lebih elegan berakhir dengan ikhtiar.

Tabel angka-angka terjangkit hadir tiap saat, seperti sedang berlomba dalam perayaan tujuh belasan. IGD bergantian tutup, gara-gara tenaga medis kebagian corona, konon dari pasien bebal dan tidak jujur soal riwayat medis. Kepala daerah juga sudah mulai ikut jadi korban, kabarnya sama dari OTG bebal. 

Belum lagi sebagian pesohor media yang kesasar, tidak sadar diri, sudah jelas tidak ada ilmunya, ikut menyebar informasi sampah. Semua lini terdampak, negeri-negeri di penjuru bumi bak antri menuju resesi.

Sedikit berandai-andai untuk dirimu yang anti sains (protokol). Corona itu benar adanya dan dirimu OTG lalu ikut menyebarkan kabar abu-abu, dan atas motifasi lisanmu banyak yang mengekor bermashab sama denganmu, kelompok OTG tangguh, lalu menyebar dan menebar corona dengan si rentan, auto pasti membawa duka pada keluarganya, menambah panjang kerja berat sang medis yang seperti perantau di kampung sendiri, tak bisa bersua dengan keluarga walau tinggal di kota yang sama. Dunia tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab tetapi mungkin saja Tuhan akan meminta pertanggungjawaban atas keabaianmu, kebebelanmu.

Sepertinya kita perlu pergi jauh ke keheningan, lalui pertapaan sejenak, singkirkan ego, mengevaluasi diri. Mungkin saja salah seorang di antara kita telalu banyak memakan sampah digital, terlalu kenyang akan infodemi, sampai menjalar ke jaringan nalar.