69025_52659.jpg
Mama Yosepa Alomang (tengah) berbincang dengan Kardinal Keuskupan Agung Tonga, Kardinal Mafi (paling kanan) disaksikan oleh Kardinal Keuskupan Agung Papua Nugini, John Ribat (paling kiri) dan intelektual muda Papua, Markus Haluk (disamping kiri John Ribat)
Sosok · 7 menit baca

Mama Yosepa: Gara-Gara Bendera Ini Bangsa Papua Dibunuh
Suara Perjuangan Seorang Perempuan untuk Bangsanya

Bila gambaran kita tentang perempuan hebat dan pejuang emansipasi adalah wanita dengan pulasan bedak tebal dengan sanggul dan kebaya berkilau, Mama Yosepa Alomang tidak termasuk. Perawakannya kecil. Nyaris tanpa kosmetik di wajahnya. Busana yang dipakainya hampir tak pernah berbeda dari apa yang dikenakannya sehari-hari.

Tetapi, di balik penampilan bersahaja itu, tersimpan riwayat keteguhan sikap yang panjang, semangat yang tak pernah patah, dan hati yang tanpa rasa takut. Perjalanan hidupnya direnda dari satu perlawanan ke perlawanan lain. Ia mencintai tanahnya, Tanah Papua. Sedemikian dalamnya, sehingga apa pun ia lakukan untuk itu.

Keteguhan dan ketidakgoyahannya sedikit banyak tergambar dari sorot matanya yang tajam dan nada bicaranya yang tegas. Mama Yosepa, salah seorang tokoh perempuan Papua, tanpa henti menyuarakan jeritan hati terdalam Orang Asli Papua (OAP). Sejak awal 1990-an ia sudah berdiri di garda terdepan menentang eksploitasi alam Papua dan semakin termarginalkannya OAP di tanah mereka sendiri.


Mama Yosepa mengalungkan noken kepada Kardinal Keuskupan Agung Tonga, Kardinal Mafi

Perempuan penerima penghargaan Yap Thiam Hien 1999 dan penerima Anugerah Goldman (Goldman Environmental Prize) tahun 2001 ini pernah hidup dalam pelarian di hutan Papua, berlindung dari kejaran aparat setelah ratusan warga Amungme memotong pipa milik Freeport. Mereka memprotes karena menganggap Freeport telah merampas tanah kepunyaan rakyat Amungme di Agimuga. Putri sulungnya, Johanna, meninggal di usia tiga tahun dalam pelarian itu karena kelaparan.

Pada 1994, Mama Yosepa ditangkap karena dicurigai menolong tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM), Kelly Kwalik. Bersama dengan seorang perempuan Papua lainnya, Mama Yuliana, ia disekap selama seminggu di tempat penampungan tinja.

Pada 17 April lalu, Mama Yosepa yang oleh komunitas Suku Amungme disebut juga sebagai Nemangkawi Negel (pemilik sulung Gunung Emas Nemangkawi), kembali membawa jeritan suara OAP itu kepada para pemuka gereja Katolik Pasifik yang sedang bertemu di Port Moresby.

Di ibukota Papua Nugini itu baru saja berlangsung pertemuan empat tahunan Federasi Konferensi Waligereja Pasifik atau The Federation of Catholic Bishop Conference of Oceania (FCBCO). Federasi ini beranggotakan uskup-uskup dari Australia, PNG dan Kepulauan Solomon, Selandia Baru dan negara-negara Pasifik lainnya. Tema pertemuan adalah ‘Peduli akan Rumah Kita Bersama di Pasifik: Suatu Lautan Kemungkinan.

Pertemuan FCBCO kali ini (berlangsung 12-16 April 2018) cukup bergengsi karena dihadiri dan dibuka oleh orang nomor dua di Vatikan yang sekaligus Menteri Luar Negeri Vatikan, Kardinal Pietro Parolin. Walaupun pemanasan iklim global menjadi isu utama pertemuan, dalam publikasi beberapa pekan sebelum pertemuan disebutkan bahwa isu Papua juga akan diangkat dalam pertemuan.

Bahkan Gubernur Powes Parkop, gubernur Port Moresby, serta perwakilan dari Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan PNG, dijadwalkan akan menyampaikan pidato kunci tentang konflik yang sedang berlangsung antara pemerintah Indonesia dan sebagian penduduk asli di provinsi Papua dan Papua Barat.

Hanya saja, sampai pertemuan berakhir, tidak ada pernyataan resmi tentang isu Papua dari FBCOC.

Menurut Markus Haluk, salah seorang tokoh intelektual muda Katolik Papua, ia mendapat informasi bahwa isu Papua diangkat dalam pertemuan tingkat uskup dan pertemuan para kardinal, yaitu Kardinal Papua Nugini Sir John Ribat (Papua Nugini/wilayah Melanesia), Kardinal Soane Patita Paini Mafi  (Tonga/Oceania: Micronesia Polynesia) dan Kardinal Selandia Baru. Tetapi pernyataan resmi atas isu itu memang belum diperoleh.

Hal ini tak menyurutkan langkah Mama Yosepa. Bersama Markus Haluk, ia datang ke Port Moresby dan berhasil bertemu secara khusus dengan Kardinal Papua Nugini, John Ribat dan Kardinal Tonga dan Oceania, Soane Patita Paini Mafi pada 17 April atau sehari sesudah pertemuan resmi FBOC. Penulis memperoleh foto dan video pertemuan mereka.

Kardinal Mafi menerima noken berornamen Bintang Kejora

Kepada kedua tokoh itu, Mama Yosepa menyampaikan noken, tas tradisional Papua, yang berisi surat-surat yang mengungkapkan pesan yang mereka mohonkan disampaikan kepada Paus Fransiskus di Vatikan. Noken itu dihiasi ornamen Bintang Kejora dan garis-garis putih biru seperti pada lambang bendera perjuangan kemerdekaan Papua.

Dalam video pertemuan yang penulis peroleh, tampak Mama Yosepa berhadap-hadapan dengan Kardinal Mafi dan mengalungkan noken ke leher Kardinal.

"Yang Mulia Bapa Kardinal, gara-gara gambar bendera ini, karena pulau ini kaya raya, kami terus ditangkap dan dibunuh. Kalau Bapa Dorang tidak bantu kami, kalau Bapa Paus tidak berdoa bagi Papua, kami pasti mati," demikian Mama Alomang berbicara kepada Kardinal Mafi disaksikan oleh John Ribat dan Markus Haluk.

"Gereja adalah sandaran dan tumpuan kami yang terakhir. Kamu harus lihat kami," kata Mama Yosepa.

Dua kardinal, yang kepadanya Mama Yosepa berbicara, adalah wakil tertinggi umat Katolik Melanesia di dalam Gereja Katolik. Mama Yosepa berharap suara rakyat Melanesia di Papua akan disampaikan kepada Paus Fransiskus. Nasib rakyat Papua, kini sedikit banyak turut ditentukan kedua sosok wakil Melanesia itu.

Mama Yosepa tampaknya tak jemu untuk mengentuk pintu apa pun dan dimana pun. Dan ia tidak khawatir untuk mengambil langkah melawan arus.

Sebelumnya, di tengah puja-puji akan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Papua, ia berkirim surat secara terbuka justru mengeritik kunjungan beliau ke delapan kalinya yang tanpa menyinggung sedikit pun soal penyelesaian pelanggaran HAM di Papua.


Mama Yosepa bersama Kardinal Keuskupan Agung Papua Nugini, Kardinal John Ribat, didampingi oleh intelektual muda Papua, Markus Haluk (paling kanan)

Sekarang, dengan harapan akan didengar oleh para uskup di Melanesia dan wilayah Pasifik serta akan dteruskan kepada Paus, Mama Yosepa menemui Kardinal John Ribat dan Kardinal Mafi. Ia  menyerahkan noken yang dia gambarkan sebagai simbol tulang-belulang leluhur yang membuka Tanah Papua.

Di dalam noken tersebut, terdapat surat Mama Yosepa serta tinjauan tentang kehidupan umat Katolik Melanesia di Papua, yang berjudul Humanity Disaster on Melanesia in West Papua, Between Reality and Hope.

Dalam tinjauan itu dikemukakan bahwa masalah Papua dalam 50 tahun terakhir adalah pelanggaran hak politik Papua yang mengakibatkan pelanggaran HAM besar-besaran, terstruktur,dan sistematis. Ini berujung pada penghancuran etnis Melanesia di Papua.

Pada saat yang sama, rakyat Melanesia di Pasifik, terutama di Mikronesia, Polynesia dan sebagian Melanesia, menghadapi tantangan  pemanasan global yang berdampak pada kenaikan permukaan laut. Ini akan menyebabkan tenggelamnya pulau-pulau kecil di kawasan Pasifik.

"Jadi, di Papua ada bencana penghancuran etnis Melanesia yang diciptakan oleh tangan orang Papua (Pemerintah dan Militer Indonesia). Pendapat ahli telah memperkirakan bahwa 20-50 tahun ke depan orang Papua akan mengarah pada proses penghancuran. Demikian pula, pada saat yang sama pulau-pulau di negara-negara Pasifik akan tenggelam karena bencana pemanasan global," demikian Mama Yosepa dalam suratnya yang ditulis bersama Markus Haluk.

Mengingat situasi ini, tulis dia, semua pihak perlu mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan rakyat Papua dan orang-orang yang mendiami kawasan Pasifik.

Di Papua sendiri, menurut Mama Yosepa, dalam 17 Tahun terakhir (2001-2018) telah terjadi marginalisasi dan diskriminasi secara sistematis, masif dan terstruktur pada penduduk asli Papua (mayoritas Kristen). Migrasi, lanjut dia, setiap saat terus membanjiri Papua.

Mengutip data Kementerian Agama Papua, penduduk di Papua hingga 2016, berjumlah 5.524.033 jiwa. Dilihat dari persentase penduduk migran Indonesia saat ini, di Papua sudah mencapai 55% dan Papua 45%.

"Fakta yang terjadi di Papua adalah lonceng kematian bagi orang Melanesia di Papua. Di masa depan, dapat diproyeksikan bahwa orang Papua sedang menuju kehancuran etnis Melanesia di tanah mereka sendiri. Kekhawatiran serupa juga terjadi di wilayah Pasifik di mana hasil pemanasan global pulau-pulau kecil di kawasan Pasifik akan tenggelam. Jadi bencana kemanusiaan di Papua terjadi secara masif sementara di negara-negara kawasan Pasifik mengalami bencana yang disebabkan oleh pemanasan global."

Mama Yosepa meminta agar orang-orang Papua bersama dengan para pemimpin Pasifik bersatu dan bahu-membahu untuk saling menyelamatkan. Ia meminta para uskup agar menyampaikan penderitaan yang dialami oleh rakyat Melanesia di Papua kepada Paus Fransiskus di Vatikan.

"Sampaikan situasi yang mengancam jiwa yang dialami oleh orang Kristen di Papua  kepada Bapa Suci, Paus Fransiskus di Roma Vatikan," kata Mama Yosepa.

Selanjutnya, ia meminta dukungan doa bagi perjuangan moral rakyat Papua melalui United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk diterima sebagai anggota penuh Melanesian Spearhead Group (MSG) dan perjuangan untuk hak Penentuan Nasib Sendiri.

Sementara itu, kepada para uskup di Tanah Papua, yaitu Mgr. Nicholaus Adi Seputra MSC (Uskup Merauke), Mgr. Leo Laba Ladjar OFM (Uskup Jayapura), Mgr. Datus Lega (Uskup Manokwari Sorong), Mgr. Aloysius Murwito OFM (Uskup Agats), Mgr. John Saklil (Uskup Timika), ia meminta agar penuh semangat menjaga perjuangan Iman Katolik orang Papua Asli di tengah situasi ketidakadilan, marginalisasi, diskriminasi, pelanggaran HAM dan depopulasi, baik dalam bidang Hak Sipil dan Politik, Hak Ekonomi, Sosial, Budaya.

Mama Yosepa juga meminta para uskup di Tanah Papua untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah laju peningkatan populasi imigran. Ia mendesak agar para uskup membahas masalah ini dengan pemerintah daerah di provinsi Papua dan bupati/kota demi penyelesaian permanen.

Di usia yang tak muda lagi, Mama Yosepa sampai kini masih menjadi satu dari sedikit sosok perempuan Papua yang jadi idola. Perempuan yang lahir di Tsinga, pada tahun 1940-an ini, oleh sebagian rakyat Papua diharapkan mendapat pengakuan dari pemerintah sebagai tokoh Papua yang patut diteladani. Sikapnya yang berseberangan dengan pemerintah dalam berbagai hal, tidak sepatunya menjadi penghalang.

Perempuan yang pernah bekerja menjadi bidan ini atas sokongan Gereja, sudah menjadi yatim piatu sejak kecil. Hidup di masa kecilnya cukup pahit, demikian juga masa dewasanya. Ia merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga, hingga akhirnya berpisah dari suaminya.

Menurut Dominggus Mampioper yang menulis di Tabloid Jubi pada 2014, bagi masyarakat Papua Yosepha Alomang adalah simbol keberanian melawan penindasan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Suku Amungme di areal pertambangan. Dia berjuang mempertahankan tempat tinggal dan kehidupan mereka dari generasi ke generasi

Berkat perjuangan dan keberaniannya ia berhasil mematahkan dan mengalahkan dominasi kaum lelaki khususnya di Bumi Amungsa. Dalam tatanan adat dan budaya Papua peran kaum laki-lak sangat dominan. Itu sebabnya ketika Mama Yosepa  terpilih meraih hadiah pejuang HAM dan Lingkungan pada tahun 2001 banyak orang di Bumi Amungsa dan tanah Papua tersentak, seolah tak percaya.

Riwayat hidup dan perjuangan Yosepa Alomang telah ditulis dalam buku yang berjudul Pergulatan seorang Perempuan Papua Melawan Penindasan, yang terbit pada 2003.