Mam’zelle Nitouche adalah operet Prancis dengan naskahnya dibuat oleh Henri Meilhac dan Albert Millaud dan musik oleh Louis-Auguste-Florimond Ronger, dikenal dengan sebutan Hervé.

Orang awam mengidentikkan operet ini hanya dengan Hervé, yang memang sangat terkenal dalam menghasilkan komedi musikal. Sampai ada pepatah yang mengatakan jika Menara Eiffel adalah milik Paris, operet adalah milik Hervé.

Mam’zelle Nitouche terinspirasi dari kisah hidup Hervé, tentang peran-peran berbeda dalam dunia yang bertolak belakang, yang ia lakoni pada suatu periode tertentu dalam hidupnya tanpa diketahui siapa pun: antara dunia gereja dengan kehidupan malam, antara pemain organ di gereja dan pemain teater/pemain akrobat/penggubah musik.

Disajikan dalam tiga babak, operet ini menyajikan dualitas manusia. Operet ini bertutur tentang “kostum” yang kita kenakan dalam interaksi kita sehari-hari. Tentang apa yang kita tampilkan di hadapan orang lain dan tentang diri kita yang sesungguhnya. Dan juga tentang sulitnya menjadi diri sendiri… 

Hervé mengatakan bahwa tiap individu berpakaian, mengenakan kostum, sesuai dengan pencitraan yang hendak ia tampilkan kepada orang-orang di sekitarnya. Namun demikian, orang lain tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya “dibungkus” dalam pakaian tersebut.

Sebagaimana kekuatan Hervé, pesan-pesan 'serius' ini disajikan dengan gaya yang sangat menghibur. Kegembiraan; musik yang membuat kita menertawakan apa saja, inilah kelebihan karya-karyanya. Penonton tertawa sepanjang pertunjukan namun meninggalkan ruangan dengan berpikir dan berintrospeksi. 

Kekuatan Hervé ini tetap dipertahankan oleh tim pertunjukan kali ini, dengan Pierre André Weitz, sebagai sutradara, dan Christophe Grapperon direktur musikal.

Dengan kreasi mereka, penonton akan menyaksikan operet yang begitu hidup, gembira, enerjik, antusias dengan musik menghentak dan perpaduan warna-warna kuat pada kostum dan dekorasi. Sang sutradara bermain dengan identitas -peran-peran- tanpa henti dan mengubah secara cepat dekor panggung (mereka menggunakan panggung berputar). 

Penonton diajak untuk meloncat-loncat menikmati permainan satu pemain ke pemain lain. Dengan lagu dan tarian yang begitu dinamis, penonton harus pasrah jika tidak dapat menangkap seluruh elemen permainan di panggung. 

Gerakan pemain sudah berganti ketika penonton sekejap saja mengalihkan pandangan ke pemain lain. Namun penonton tak punya waktu untuk merasa kehilangan, karena di depan matanya ada suguhan lain yang tak kalah menarik.

Pemain yang sama memainkan minimal dua peran berganti-ganti antara peran (calon-calon) biarawan/biarawati, tentara, penari, dan berganti tampilan perempuan dan laki-laki. Tentara dapat menjadi suster, penari dapat menjadi tentara, dan sebaliknya. Perempuan dapat menjadi laki-laki, laki-laki dapat menjadi perempuan. 

Di balik seragam tentara, ternyata ada rok dansa. Di balik rok panjang para biarawati ada stocking hitam seksi.  

Setengah orang suci, setengah tentara, setengah perempuan, setengah laki-laki, setengah biarawan/biarawati, setengah pemain akrobat/penari.

Mereka menampilkan dua sisi dari setiap peran. Contohnya para suster yang bernyanyi lagu-lagu rohani tetapi ala penari Moulin Rouge. Mereka bernyanyi dengan mengangkat rok panjang mereka dengan gaya sensual tapi sangat kocak yang mengundang penonton tertawa terbahak-bahak. 

Puncaknya adalah Santa Nitouche, dengan wajah polos dan senyum lugunya, tetapi mengenakan semacam jubah yang hanya mencapai pahanya. Ketika Santa hendak mengundurkan diri, ia melakukan gerakan berpamitan sehingga jubahnya terangkat. 

Otomatis mata penonton tertuju pada celana dalamnya bermotifkan gambar hati berkilauan. Lagi-lagi senyum mengiringi, begitu manis dan lugu, sehingga kita hanya dapat tertawa tanpa sempat berfantasi macam-macam. 

Kalaupun ada pemain yang memainkan hanya satu tokoh, tokoh ini digambarkan memiliki dua “kehidupan”. Seperti salah satu tokoh utamanya, Célestin, yang terinspirasi dari kisah hidup Hervé sendiri. Pagi sampai sore ia berperan sebagai pemain organ di gereja, tetapi malam-malam ternyata ia menjadi penggubah musik operet dengan nama samaran Floridor.

Atau Mam’zelle Nitouche sendiri yang adalah nama panggung dari satu murid di biara Hirondelle. Nama sebenarnya adalah Denise de Flavigny, yang seharusnya duduk manis di hotel menantikan Célestin yang ditugaskan untuk membawanya pulang ke rumah orang tuanya. 

Karena kesalahpahaman, Denise terpaksa bermain peran menggantikan aktris utama yang kebetulan ngambek di malam itu, malam pertunjukan pertama Célestin.

Denise sendiri digambarkan sebagai murid yang manis dan penurut, tetapi jika Suster Kepala tak melihat, ia suka menggerutu. Ia juga banyak akal. Dialah yang menemukan rahasia Célestin (bahwa Célestin memproduksi operet). 

Ia sedang mengancam Célestin ketika Suster Kepala mengabarkan bahwa ia harus pulang ke rumah orang tuanya dan Célestin yang harus menemaninya. Denise memanfaatkan momen ini sebagai kesempatan untuk menikmati kehidupan malam di Paris.

Operet sendiri dibuka dengan seorang pemain yang didandani berbeda antara tubuh kanan dan tubuh kirinya. Tubuh kanannya berupa tentara, tubuh kirinya adalah aktris teater. Belakangan ia juga yang akan berperan sebagai Suster Kepala dan aktris utama yang “ngambek” dalam pertunjukan pertama Célestin. 

Di akhir pertunjukan, identitas aslinya diungkapkan : ia adalah pria, pemain teater kenamaan Olivier Py, yang biasanya bermain dalam pertunjukan teater serius ala Moliere dan Shakespeare. Baru kali ini ia memainkan peran kocak dalam sebuah opera ringan. Lagi-lagi, permainan identitas dan peran!

Untuk memperkuat ide beragamnya sisi manusia, Pierre-André Weitz, sang sutradara, juga memainkan banyak peran (dibantu asisten-asisten). Ia juga yang mendesain panggung, mendandani pemain, berperan sebagai badut, dan si badut ini juga menyambut pengunjung. 

Si badut pun didandani dua motif dengan sisi kiri dan kanan berbeda, setengah siang, setengah malam. Weitz sendiri dalam sebuah wawancara balik bertanya ketika ada yang menanyakan mengenai hal ini,”Bukankah kita manusia memang mirip-mirip Janus?” (Janus adalah dewa dengan dua wajah menghadap ke arah berbeda).

Masih dalam euforia di tengah perjalanan pulang sehabis menonton operet ini, saya merenung sambil mengenang Mam’zelle Nitouche “Bukankah kadang kita menampilkan sisi-sisi diri yang berbeda dalam situasi yang berbeda dan atau terhadap orang-orang yang berbeda? 

Kita mungkin bos yang galak tetapi suami dan ayah yang lembut, suami kasar tetapi ayah yang peduli, guru yang suka ngomel tapi peka dan penuh kasih, murid yang manis dan patuh tapi melawan orangtua di rumah, atasan otoriter tapi istri yang kenes dan manja…

Catatan : 

Meski menyandang gelar Santa, Nitouche bukanlah orang kudus. Santa Nitouche bukan tokoh nyata.

Nitouche adalah singkatan dari n’y touche pas, yang dapat diartikan sebagai tak tersentuh, jangan disentuh, ataupun tidak menyentuh (Touche berasal dari kata kerja toucher yang berarti sentuh, dan ne pas berarti tidak, y adalah kata ganti keterangan). 

Santa Nitouche merupakan istilah untuk menggambarkan perempuan yang tampak bermoral (setia, polos, lembut, ‘baik-baik’, tak tersentuh secara seksual) tetapi ini hanya penampilan luarnya saja, atau  perempuan yang “tampak” tidak 'menyentuh' apapun yang mendatangkan kesenangan/kenikmatan padahal ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi. 

Istilah yang awalnya seksis ini kini berlaku secara umum untuk perempuan dan laki-laki.