5 bulan lalu · 62 view · 5 menit baca · Lingkungan 20992_90470.jpg
sumber:Kompas.com

Maluku Tangguh Bencana?

Belum hilang ingatan kita saat Lombok diguncang gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR). Menyusul Palu, Donggala dan sekitarnya, enam hari yang lalu turut terhinggut-hinggut. Tidak tanggung-tanggung, magnitude mencapai angka 7,7 SR. Bukan hanya itu, guncangan tersebut diikuti dengan tsunami yang dahsyat. Sedihnya, waktu kejadian menjelang pergantian waktu sore ke malam. Saat di mana masyarakat telah bergegas pulang setelah seharian beraktivitas di luar rumah.

Sedih, pedih, pilu, menyatu jadi satu dalam setiap rongga dada kita seketika. Bagaimana tidak, tiada satu pun menyangka Palu, Donggala dan sekitarnya luluh lantak dalam hitungan menit. Listrik mati. Apalagi jalur komunikasi. Tidak hanya itu, gelombang air laut setinggi 1,5 meter turut serta jadi penyebab putus dan robohnya jembatan Ponulele. Ini belum termasuk jumlah korban jiwa dan korban luka-luka. Intinya, Indonesia kembali berduka.

Sebagai salah seorang pemilik kerabat di Palu, tentu aku ikut merasa sedih dengan berita tersebut. Bermodal jaringan internet yang sesekali tersendat, dari pelosok Maluku sesegera mungkin aku cari kabar terkini Palu dan sekitarnya. Terutama yang berhubungan dengan kerabatku. Apa lacur, meski jejaring internet sedang lancar, tidak satu pun kerabat yang membalas pesan via media sosial. Tidak menyerah dengan ini, aku coba menghubungi mereka lewat telepon seluler. Hasilnya nihil.

Butuh waktu lima jam, akhirnya kanal informasi seputar Palu dan sekitar sudah bisa terdengar. Melalui jalur komunikasi radio. Memanfaatkan jalur frekuensi UHF dan VHF, kondisi terkini lokasi bencana bisa dengan seketika aku dapatkan. Menariknya, walau opsi komunikasi radio di abad 21 tergolong ketinggalan zaman, namun  tetap efektif ketika ada kejadian bencana. Akhirnya aku sedikit lega.

Namun rasa lega ini tidak berlangsung lama, jam demi jam pihak berwenang memperbaharui angka korban yang meninggal. Sontak ingatan tertuju pada kondisi kerabat di sana. Butuh 2 x 24 jam akhirnya berita dari kerabat aku terima. Ada yang meninggal dan ada juga yang masih selamat. Meskipun ada yang cidera dari yang masih selamat tadi. Bagaimanapun, tidak berlebihan kiranya jika syukur kami panjatkan kepadaNya, seru sekalian alam. Alhamdulillah.

***

Maluku Tangguh Bencana (?)

Bagi saya, tidak ada satu pun manusia di kolong langit ini ingin mengalami musibah. Namun, paska kejadian bencana Palu, Donggala, dan sekitarnya, ternyata tidak sedikit pihak yang berdendang riang di atas derita korban. Bentuknya juga sangat beragam. Mulai dari yang paling sederhana hingga corak paling kompleks. Tentu dalam kerangka negatif. Ambillah contoh, beberapa pemilik toko online. Mereka mengawali promosi dengan pernyataan (seolah) prihatin pada kondisi korban namun berujung pada reklame jualan bagi para korban. Bukankah ini membuat kita jadi prihatin sekaligus jengkel.

Tidak hanya itu, pihak yang paling tampak girang dengan musibah ini juga datang dari para pendukung salah satu pasangan calon presiden. Bahkan mereka menganggap malapetaka di Palu, Donggala dan sekitarnya ini merupakan “hadiah” dari sang pencipta akibat (kecurigaan) banyaknya prilaku menyimpang yang dilakukan oleh masyarakat Palu, Donggala, dan sekitarnya. Entah terbuat dari apa hati mereka.

Sudahlah.

Berbicara terkait kejadian di Palu, Donggala, dan sekitarnya, ada beberapa hal yang bisa kita ambil pelajaran. Salah satunya, kesiapan daerah lain dalam penanganan bencana. Karena bukan tidak mungkin, Indonesia yang berbentuk negara kepulauan ini akan terus terancam alami bencana. Terlebih pulau-pulau yang masuk dalam lingkar cincin api.

                                                                                               Gambar 1: Riwayat  Gempa Indonesia selama 50 tahun

Jika kita mengacu pada laporan riwayat gempa di Indonesia dalam lima puluh tahun mulai dari jazirah NTB, NTT, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua adalah daerah yang paling berpotensi (Gambar 1) untuk Indonesia Timur. Karena paling sering mengalami gempa. Bahkan di beberapa titik mencapai kekuatan hingga di atas 8 SR. Fakta ini setidaknya membuka mata kita terkait upaya apa saja yang telah dilakukan, setidaknya dalam rangka memperkecil angka korban jiwa.

Saya akan fokus di Maluku. Sebabnya, saat ini saya sedang menetap di salah satu kabupatennya. Tepatnya kabupaten Maluku Tengah.

Jika kita mengacu pada batasan International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR-2000:24), maka bencana ialah suatu kejadian yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia, terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, sehingga menyebabkan hilangnya jiwa manusia, harta benda dan kerusakan lingkungan, kejadian ini terjadi di luar kemampuan masyarakat dengan segala sumber dayanya.

Berdasarkan batasan di atas, bagaimana dengan Maluku? Lebih spesifik lagi pulau Seram, tempat saya menetap saat ini?

Mari kita bahas.

Salah satu dokumen yang bisa jadi acuan riwayat kejadian gempa di Maluku adalah catatan kuno oleh Georg Eberhard Rumphius (1627-1702). Dalam catatan tersebut, gempa yang pernah mengguncang Maluku dan sekitarnya terjadi pada 17 Februari 1674. Malahan, pada saat itu juga terjadi tsunami. Korban jiwa tidak sedikit. Mencapai angka 2000 orang.

Selain catatan tua itu, informasi terbaru dari Maluku dan sekitarnya ialah pernah diguncang gempa baru-baru ini. Tepatnya bulan Juni 2018. Meski hanya berkekuatan 5,2 SR, tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak memprioritaskan ihwal kebencanaan. Apalagi saat menilik pada peta riwayat diatas. Ini tentu jadi pekerjaan rumah kita bersama. Terutama semua pihak terkait.

Sedikit gambaran dari pengalaman terlibat dalam berbagai program kebencanaan, terkait berbagai hal kebencanaan tidak melulu berhubungan dengan peralatan yang mahal. Karena, bicara soal kebencanaan, apalagi konteks Indonesia sebagai “supermarket” bencana dunia, menurut saya belum terlambat untuk memulai segalanya dengan segera.

Salah satu yang bisa dilakukan ialah memaksimalkan beberapa pengetahuan lokal kedaerahan. Terutama jika berhubungan dengan jenis bencana yang pernah terjadi. Ambillah contoh pengalaman masyarakat pesisir Soahoku ketika mengalami kondisi air nae-nae (istilah lokal untuk kejadian tsunami) ketika tahun 1674 silam. Menariknya, pengalaman musibah 300 tahun silam diturunkan dari generasi-generasi.

Secara tidak sengaja saya pernah mendengar cerita mereka. Menurut pengakuan salah satu keluarga yang dahulu jadi korban, tete-nene (kakek dan nenek) mereka selalu berpesan untuk memastikan ketersediaan “sepotong kain”. Tujuannya untuk jadi pembungkus pakaian jika terjadi sesuatu. Sehingga, di setiap rumah masyarakat pesisir kampung Ruta, selalu saja ada kain bersih yang agak besar. Posisinya pun selalu ditempatkan “strategis”. Agar mudah diambil ketika mereka membutuhkan.

Bukankah pengetahuan terkait “sepotong kain” tadi sebenarnya masih segendang-sepenarian dengan konsep tas siaga bencana? Yang membedakan dengan konsep tas siaga bencana tadi hanya pada apa yang menjadi isi. Jika kemudian isi dari konsep “sepotong kain” disesuaikan dengan komposisi muatan tas siaga bencana, tentu berdampak postif pada peningkatan kualitas ketangguhan masyarakat. Sekali lagi, dengan tidak meninggalkan pengetahuan-pengetahuan lokal yang telah tertanam turun-temurun.

Perpaduan dua konsep tersebut, dalam tataran pelaksanaan tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan yang terpenting, jika kita telisik lebih jauh, sebenarnya masih banyak bentuk-bentuk pengetahuan lokal namun tentu butuh eksplorasi lebih jauh. Sekali lagi, ujung dari semuanya tinggal seberapa besar komitmen kita dalam memandang bencana sebagai masalah mendasar dari segala bentuk penanganannya di Indonesia.

Setidaknya, melalui fakta di atas, besar harapan saya masalah bencana bisa jadi perhatian kita bersama. Bisa dimulai dengan mengkaji secara mendalam riwayat kebencanaan daerah tempat kita menetap saat ini. Kemudian dilanjutkan dengan menggali pengetahuan-pengetahuan lokal terkait bencana dan penanganannya. Dan seterusnya.

Mari bergerak dalam satu nafas dan satu jiwa. Semangat.