Freelance
1 bulan lalu · 107 view · 5 min baca · Budaya 95621_61709.jpg
Foto: voinews.id

Maluku dan Model Persaudaraan Sehari-hari

Maluku punya segudang laku hidup yang berguna untuk merangkai ikatan persaudaraan. Kekuatan persaudaraan di sini dihasilkan dari ruang hidupnya. 

Interaksi orang Maluku dengan alam maupun sesama warganya tak sekadar interaksi biasa. Ia sudah menjadi semacam tradisi yang sarat nilai. Meskipun sarat nilai, tradisi tersebut tetap dipraktikkan secara ringan sebagai aktivitas sehari-hari oleh masyarakatnya. 

Anda bisa menanyakan ibu-ibu penjual ikan di Pasar Mardika Ambon, mereka mungkin tak banyak paham model-model rekonsiliasi ilmiah yang sering dibawakan dalam ruang-ruang seminar. Para nelayan desa hingga sopir angkot juga mungkin tak begitu tahu soal teorisasi sejumlah konsep-konsep ilmiah yang diparadekan dari workshop ke workshop

Mereka juga bahkan tak begitu over bicara tentang toleransi, pluralisme, hingga persatuan Indonesia. Meskipun begitu, kesemua nilai itu telah menubuh dalam praktik mereka di pasar maupun di angkutan kota.

Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya kerap menyoal problem toleransi, pluralisme, atau semacamnya. Namun semacam ada gejala bahwa problematisasi ata sejumlah persoalan itu, alih-alih ingin dinarasikan, justru jarang terpraktikan.  

Senafas dengan itu. Pilkada DKI Jakarta hingga Pemilu kemarin telah cukup membuktikan itu. Orang ramai-ramai menyoal problem toleransi di Jakarta, namun lupa mempraktikannya sehari-hari. Rasanya persaudaraan tak sebercanda itu.


Soal praktiknya, maka kita perlu memandang Maluku secara serius. Berikut beberapa praktik sederhana masyarakat Maluku yang turut merawat nilai persaudaraan di Maluku. 

Minta Api 

Minta api adalah kebiasaan meminta "bara api" oleh tetangga datang ke rumah tetangga yang lain untuk menyalakan tungku (perapiannya). Kebiasaan ini umumnya dilakukan pada siang hari saat hendak masak. Mereka yang datang minta api biasanya adalah ibu-ibu atau anak-anak.

Tradisi minta api sangat sederhana, namun turut memperkuat persaudaraaan di Maluku. Mereka tidak sekadar datang minta api, melainkan bercerita ringan; hanya untuk sekadar menanyakan makan siang.

Saat minta api, obrolan mereka pada umumnya kurang lebih seperti ini: “Bibi, beta minta api jua par kasnai nasi sadiki jua deng tumis ikang yang tadi paitua bawa dari pante tu”. (Bibi, saya meminta api untuk menanak sedikit nasi dan masak ikan yang baru saja dibawa suami dari pantai).

Dalam tradisi minta api, berbagai interaksi sosial masyarakat sebenarnya sedang terbangun. Mereka tak hanya bercerita, melainkan juga berbagi makanan, bahkan saling menanyakan kondisi kesehatan. Mereka turut meramu obat-obatan seadanya jika tetangga itu sedang sakit.

Tak hanya dengan tetangga sebelah rumah, tradisi minta api ini dilakukan juga dengan tetangga yang tinggal berjauhan. Lokasi antartetangga di desa-desa Maluku tak selamanya berdampingan. Ini karena halaman rumahnya yang cukup luas. 

Meskipun berjauhan, mereka tetap datang dengan maksud minta api. Mereka punya maksud lain selain minta api, untuk sekadar mengunjungi saudaranya atau bertukar hasil kebun. 

Akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat desa jika ia punya sesuatu untuk diberikan ke tetangganya. Sebaliknya, ia merasa nyaman jika pemberian tetangganya tak dibalas.

Secara filosofis, tradisi minta api punya makna dalam. Dari bara api yang dibawa itu, seorang tetangga telah ikut menghidupkan nyala tungku bagi makan siang saudaranya. 


Dalam tradisi orang Maluku, tungku (perapian) adalah simbol kehidupan. Tungku berperan penting dalam menyediakan makanan bagi sebuah keluarga. Itu sebabnya di Maluku ada istilah tungku ba-asap (dapur yang berasap). Sebuah metafor untuk menggambarkan kecukupan keluarga dalam memenuhi makan kesehariannya,.

Ini berbeda dengan masyarakat kota pada umumnya. Bukan soal tradisi minta apinya, melainkan langkanya kebiasaan saling kunjung antartetangga. Bahkan kebiasaan berbagi makan antartetangga pun sulit dilakukan. Hampir sebagian besar rumahnya membatasi tetangganya dengan pagar beton yang tinggi, dan pintu rumah yang tertutup 24 jam.

Angkat Parau (Angkat Perahu)

Angkat perahu adalah kebiasaan masyarakat pesisir di Maluku. Para nelayan yang baru pulang melaut biasanya dibantu mengangkat perahunya ke daratan oleh warga. 

Mereka tak perlu saling panggil. Satu-dua orang yang bergerak turun ke bibir pantai untuk menjemput perahu si nelayan, cukup menjadi kode bagi yang lain untuk datang. Jika tak cukup orang di pantai, mereka biasanya memanggil warga lain.

Perahu nelayan itu didorong bersama-sama. Setelah itu, si nelayan akan membagi-bagikan hasil tangkapannya ke mereka yang telah membantunya. Jika tangkapannya tak cukup,
ia akan membagi seadanya saja. Sering kali warga yang membantunya juga menolak jika hasil tangkapnya tak banyak.

Anak-anak kecil yang sedang mandi di pantai biasanya turut membantu angkat perahu, sekadar memperoleh ikan untuk dibakar. Apalagi jika musim ikan tiba, si nelayan tak segan-segan membaginya dalam jumlah yang banyak.

Namun tradisi angkat perahu mengandung nilai persaudaraan yang dalam. Seorang nelayan dengan sukarela berbagi tangkapannya meski seharian dan memperoleh hasil seadanya. 

Sebaliknya, para warga yang membantu mengangkatnya pun menganggap ini sebagai membantu saudara sendiri. Istilahnya, Ini katong pung orang, bukang orang laeng. Ini saudara kita, ia bukan orang lain. 

Terkadang, untuk membalas kebaikan si nelayan, si tetangga yang diberi ikan tadi membalasanya dengan memberikan hasil kebun lain. Ini adalah praktik barter. Selain hemat, dalam tradisi barter, persaudaraan tak bisa dibeli dengan uang.


Saling Bayar Tarif Angkot 

Di Maluku, kebiasaan membayarkan tarif Angkutan Kota (Angkot) penumpang lain sering ditemukan. Meskipun tak saling kenal, para penumpang bisa saling membayar tarif angkot, membantu mengantar si penumpang, juga sopir yang menolak tarif angkot.

Ada penumpang dengan sukarela membayar tarif penumpang lain hanya karena ia tak punya uang receh, tak cukup uang, bahkan tak punya uang sama sekali. Si Sopir pun sering mengerti atau bahkan menolak jika ada penumpang yang tak cukup uang atau jika ia sendiri tak punya uang kembalian.

Pernah suatu ketika, dalam perjalanan dari terminal Mardika, seorang kakek diantar oleh cucunya ke angkot yang kami tumpangi. Si cucu dengan penuh percaya berpesan ke sopir dan penumpang dalam angkot bahwa si kakek akan diturunkan di suatu lokasi. Semua penumpang mengiyakan dan bersedia membantu. 

Saat angkot tiba di lokasi, seorang ibu kemudian turun sebentar dan menemani si kakek mencari ojek. Ibu itu pun membayarkan tarif angkot dan ojek si kakek.

Praktik-praktik di atas tampak sederhana, tapi mereka lakukan dengan sangat spontan. Para penumpang dan sopir pun tak saling kenal. Mereka tak perlu tahu identitas etnis, agama, kelas sosial seseorang. Mereka melupakan semua itu dan fokus memberi bantuan. 

Tepat di atas agama, etni,s dan identitas apa pun yang kamu bawa ke ruang publik, pada akhirnya tunduk pada rasa kemanusiaan. Semua orang dipandang sebagai manusia, bukan lagi dipandang sebagai representasi suatu golongan. 

Ibu-ibu, para penumpang, dan sopir angkot itu tak perlu membaca ratusan halaman yang di tulis Hans Kung tentang dialog agama-agama. Mereka juga tak perlu datang ke ruang-ruang workshop atau ikut mendengar omongan politisi disertai potong pita. 

Mereka cukup mempraktikannya sebagai laku hidup keseharian. Persaudaraan seharusnya begitu. Menubuh, tak dibuat-buat, dan tak disadari saat dilakukan. Persaudaraan bukan citra apalagi laku selfie. Ia tak boleh jadi agenda potong pita, apalagi jualan para pemburu likers.

Artikel Terkait