Di tengah gempuran layar-layar digital berisi bit demi bit informasi dalam keseharian kita, media cetak seperti buku-buku dan koran yang bersifat materiel dan taktil memang terlihat kuno dan impractical.

Bayangan mengenai perpustakaan yang menguarkan bau khas kertas dari buku-buku tua, atau kebiasaan melepas lelah dengan membuka buku tebal dengan kertas menguning selepas bekerja, kini terasa sebagai suatu relitas yang berjarak; suatu gagasan akan gaya hidup yang vintage bahkan sedikit snob.

Kertas sebagai material utama media cetak tentunya hingga kini masih diproduksi dan dikonsumsi dalam berbagai bentuk. Namun, dengan berbagai narasi yang menyertai keberadaannya, kertas bagai menempati posisi yang problematic.

Keberadaan kertas kini diancam oleh isu-isu lingkungan hidup. Daya tariknya sebagai media penyimpan data dan informasi pun tertinggal jauh dikalahkan oleh teknologi teranyar manusia berupa perkakas tampilan dengan berbagai inkarnasinya (LCD, LED, AMOLED, QLED, dan sebagainya).

Namun, tak seperti sepupunya, plastik, yang selalu menjadi kambing hitam dalam sejarah budaya material manusia, kertas masih menempati posisi terhormat. Sifat biologisnya yang organik menjadikan kertas sebagai medium yang diamini oleh mereka yang menyuarakan jargon-jargon semacam eco-friendly atau green-design. Meskipun tak bisa dimungkiri pula, kertas diproduksi dengan menumbalkan hektare demi hektare hutan.

Selain sifat biologisnya, secara kultural, kertas juga menempati posisi yang teramat terhormat. Ia digunakan sebagai tumpuan bagi sejarah atau rekam-tulis berbagai bentuk peradaban manusia.

Ia menjadi media yang mewartakan gagasan-gagasan religius para nabi-nabi besar. Ia juga menjadi alat rekam bagi gagasan para ilmuwan dari masa ke masa. Ia kemudian menjadi pencatat akan jutaan kisah fiktif, prosa, dan puisi-puisi para pujangga. 

Di dunia seni rupa, kertas menjadi tumpuan untuk berbagai citraan yang digoreskan seniman-seniman besar di masa lalu.

Upaya meromantisasi kertas, hemat saya, bukanlah sesuatu yang omong kosong. Sudah lebih dari satu dekade, kita terbiasa bergaul dengan media baru berbasis layar digital. Sama halnya dengan berbagai produk budaya yang disemati adjektiva “digital”, media digital pun tak memiliki wujud materiel seutuh buku-buku dan kertas dengan segala karakteristik fisiknya.

“Kefisikan” kertas memang tidak bisa disusul oleh media digital. Jika ditelusuri lebih jauh, sesungguhnya kita bisa mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi fisik kertas sebagai medium kreatif yang nyaris tanpa batas.

Seperti sudah umum dipahami, kertas pada dasarnya dimanfaatkan secara luas sebagai media penumpu tulisan atau citraan. Namun, ada beberapa kebudayaan di dunia yang memanfaatkan karakter fisik kertas sebagai media kreatif dalam membuat objek-objek seni.

Contoh yang paling mudah dikenal adalah seni melipat kertas di Jepang yang disebut Origami. Bangsa Jepang tampaknya paham betul akan fluiditas kertas sebagai material, yang saat dipadukan dengan kreativitas dan sensibilitas seni, dapat menghasilkan objek seni yang unik dan khas.

Dengan aransemen lipatan yang sudah dipelajari sebelumnya, para seniman origami menyulap kertas, yang semula hanyalah berupa lembaran pipih yang tak memiliki dimensi, menjadi benda-benda dekoratif yang artistik.

Seni Origami berkembang terus hingga saat ini. Jauh dari sekadar bentuk bangau atau kapal laut, seperti yang diajarkan guru-guru TK kita dahulu, seniman origami kontemporer mengembangkan teknik melipat yang kian hari kian canggih.

Coba saja buktikan dengan mencari hasil karya seniman origami kontemporer melalui mesin pencari di internet. Kita akan terheran-heran, kok bisa kertas tipis polos bisa menjadi bentuk-bentuk super rumit hanya dengan teknik dilipat?

Di luar praktik seni tradisional seperti origami, penggunaan kertas sebagai material kreatif mulai dilirik juga oleh para seniman kontemporer. Dalam lingkup internal, hal ini menjadi perkembangan yang menggembirakan. Karena di dunia seni rupa, selama berabad-abad, kertas dikenal sebagai medium basis yang dianggap kurang penting.

Bagi seniman-seniman besar di masa lalu, mulai dari Leonardo Da Vinci hingga Georgia O’Keefe, kertas hanyalah medium preliminary dalam proses penciptaan karya mereka di medium lain (lukisan, patung, dan sebagainya). Mereka bergaul dengan kertas hanya saat mereka memvisualisasikan gagasan ke dalam bentuk sketsa.

Berbeda dengan para pendahulunya, seniman kontemporer saat ini merasakan kejenuhan saat menciptakan karya konvensional seperti melukis atau mematung. Terlebih, saat ini, untuk membuat citraan/gambar dan objek tridimensional, mudah saja dilakukan dengan bantuan teknologi digital, dengan menggunakan software grafis dan ataupun 3D printer (cetak tiga dimensi).

Di saman sekarang, sekadar membuat gambar atau mencipta patung dirasa tak cukup untuk memuaskan insting kreatif para seniman. Eksplorasi medium yang melibatkan kerja tangan secara manual, serta menantang kreativitas saat memformulasikan teknik yang tepat, menjadi trayektori berkarya yang utama bagi mereka. 

Kertas secara mengejutkan ternyata mampu menjadi outlet yang ideal bagi impuls kreatif para seniman kontemporer ini.

Gambar yang menyertai esai ini merupakan karya instalasi paper cutting milik Mia Pearlman. Karya seniman Amerika ini menunjukkan betapa dinamisnya kertas sebagai sebuah material kala dipadukan dengan sensibilitas dan kreativitas sang seniman.

Mia Pearlman memanfaatkan kertas layaknya pematung memanfaatkan tanah liat atau batu granit. Bisa dilihat melalui mesin pencari di internet, foto-foto karya Mia yang berukuran masif, tertempel di dinding dan langit-langit galeri seni, menciptakan efek yang dramatis. Wajar jika publik terkagum-kagum saat menyadari jika karya patung Mia ini sejatinya menggunakan medium seringan dan sesederhana kertas.

Contoh lain yang dapat menunjukkan potensi kertas sebagai medium seni yang dinamis adalah karya seniman Denmark bernama Peter Callesen.

Di tangan Peter, kertas putih berukuran A4 mampu menyajikan kisah yang tragis sekaligus romantis. Bentuk-bentuk seperti tengkorak yang seolah terkelupas dari lubang berbentuk siluet manusia di atas kertas putih; bola salju yang seolah menggelinding dari gunung yang sejatinya terbuat dari kertas; dan guntingan kertas yang membentuk pinggiran sungai; tampak menguarkan kesan sunyi penuh melankoli.

Menengok karya-karya Peter Callesen lainnya menggunakan mesin pencari Google, kita akan paham betapa keputusan Peter untuk menyajikan karya berukuran kecil justru menambah efek rapuh dan emosional dalam karya-karyanya. Ia bahkan beberapa kali menambahkan teknik sobekan, yang menegaskan jika kertas juga mampu menyajikan potensi ekspresif layaknya sapuan cat.

Melihat bagaimana seniman-seniman ini memanfaatkan karakteristik kertas yang secara selintas tampak tak istimewa, sedikit banyak membuat kita tertegun. Kertas telah menjadi bagian dari budaya material manusia selama berabad-abad; dan seringnya kita abai terhadap manfaat dan perannya dalam kehidupan.

Upaya kreatif dalam mengeksplorasi kertas ini menjadi sebentuk penghargaan, sekaligus mengingatkan kita bahwa material sesederhana kertas pun bisa tampil di atas pedestal sebagai ciptaan seni bernilai tinggi.