"Hanya saja, tak ada makan siang gratis. Kontribusi negara Adidaya dimaksud dalam meraih banyak kemenangan tersebut, berbayar mengambil peluang mengelola kekayaan sumber alam di wilayah timur Indonesia, yang begitu menggiurkan."


Kota Malang pernah luluh lantak ketika pasukan kerajaan Belanda memasuki kota berhawa sejuk di Jawa Timur ini pada 31 Juli 1947, hampir dua tahun berselang setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia secara de facto.

Kedatangan pasukan militer pemerintah kerajaan Belanda di kota Malang waktu itu, disambut oleh kalangan sipil warga Belanda maupun Indo Belanda.

Sementara itu, warga Indonesia yang memihak ke berdirinya negara Republik Indonesia (RI) beserta para pejuang kemerdekaan, berupaya mempertahankan kedaulatan yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945.


Argumen 'Bersiap'.

Dalam beberapa dokumen baik film maupun fotografi terdapat potret bagaimana warga sipil Belanda yang merasa lega telah ditolong oleh pasukan militer kerajaan Belanda. 

Menjadi kumpulan arsip sejarah yang menjadi argumen pemerintah kerajaan Belanda bahwa operasi militer tersebut bukan sebagai aksi agresi.

Melainkan, apa-apa saja yang disebut dalam buku-buku sejarah tentang Agresi Militer I dan II Belanda pada kisaran tahun 1946 hingga 1948, adalah upaya pemerintah kerajaan Belanda waktu itu, untuk mengembalikan ketertiban dan tata administrasi umum kepemerintahan kolonial Hindia Belanda, pasca kasus ‘Bersiap’ yang dilakukan oleh golongan Republiken garis keras.

Masa 'Bersiap' dinilai oleh pemerintah kerajaan Hindia Belanda atas euforia dikumandangkan proklamasi kemerdekaan RI. Sementara itu, pemerintah kerajaan Hindia Belanda belum mengakui proklamasi tersebut.

Dampak masa 'Bersiap' berupa aksi-aksi sepihak yang merugikan kalangan sipil yang telah lama menetap di Hindia Belanda/Indonesia, yakni warga Belanda maupun keturunannya dan warga Indo Belanda, yakni warga hasil perkawinan orang Belanda dengan pribumi selama masa kolonial.

Korban berjatuhan di beberapa kota besar di Indonesia, selama masa 'Bersiap' tersebut.


Gengsi Pemenang PD II.

Pertama, pemerintah kerajaan Belanda menugaskan pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yang sebenarnya bukan pasukan kombatan, namun lebih sebagai paramiliter pengaman aparat Pemerintah Sipil Hindia Belanda.

Karena euforia kemerdekaan tak diperhitungkan, lalu NICA kuwalahan. Kemudian diturunkan KST (Korps Speciale Troepen) dan DST (Depot Speciale Tropen), pasukan khusus dalam militer pemerintah kerajaan Belanda, yang kekejaman dalam menjalankan operasi militernya sangat dikenal dalam buku-buku sejarah. 

Aksi yang dikomandani oleh Raymond ‘Si Turki’ Westerling, di Sulawesi Selatan, adalah fakta, sebagai bukti kekejaman pasukan khusus tersebut .

Bahkan, operasi militer selama dua kali aksi polisionil pemerintah kerajaan Belanda di Indonesia selama tahun 1946 hingga 1948 itu pun dikelola khusus dalam satu organisasi militer berskala besar yang dipimpin seorang Jenderal, Simon Spoor.

Sebuah pertaruhan nama baik bagi pemerintah kerajaan Belanda sebagai pihak pemenang Perang Dunia II atas tanah kolonialnya, yang memerdekakan diri pasca kekalahan kekaisaran Jepang dalam Perang tersebut.


Pengakuan de jure.

Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan de facto 17 Agustus 1945 oleh golongan Republiken baik sipil maupun militer, membuahkan pengakuan kedaulatan RI secara de jure pada 27 Desember 1949 melalui pertemuan yang dikenal sebagai Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

Namun, pengakuan kedaulatan RI tak langsung diberikan. Melainkan dengan memenuhi syarat bahwa negara Indonesia hanya diakui sebagai negara berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Banyak negara dalam satu negara.

Sebuah 'Kartu AS' terakhir pemerintah kerajaan Belanda untuk mengadu domba bangsa Indonesia.

Melalui perjuangan diplomasi dan dukungan negara dunia ketiga pula, RIS kembali menjadi RI pada 1950, tak lebih dari setahun pasca pengakuan merdeka secara de jure.


Terkuat Di Asia.

Sejak tahun 1950-1955, Indonesia sempat tercatat menjadi negara kosmopolitan. Stabil secara ekonomi dan politik, juga sosial budaya. Nama Indonesia pun dikenal oleh dunia.

Pasca 1956 sejak Dwi Tunggal Sukarno-Hatta pecah, Indonesia berubah menjadi lebih muram karena berbagai pemberontakan.

Beberapa upaya memadamkan api pemberontakan tersebut berbuah melatih pengalaman dan kemampuan angkatan bersenjata RI, baik fungsi perhananan pun keamanan. Sehingga pada awal tahun 1960-an Indonesia diakui memiliki kekuatan militer mumpuni sewilayah Asia.

Puncaknya pada tahun 1962 ketika Papua berhasil direbut dari pemerintah kerajaan Belanda, meski tanpa melalui sebuah perang besar.


Sebuah Roadmap.

Menarik jika ditelaah dalam cakupan memaknai jalannya sejarah, bahwa ada peran pihak ketiga dari kekuatan negara Adidaya untuk memenangkan segala ‘pertempuran’ baik terbuka maupun diplomatik yang turut membebaskan Indonesia atas cengkeraman kolonial selama ratusan tahun oleh Belanda.

Hanya saja, tak ada makan siang gratis. Kontribusi negara Adidaya dimaksud dalam meraih banyak kemenangan tersebut, berbayar mengambil peluang mengelola kekayaan sumber alam di wilayah timur Indonesia, yang begitu menggiurkan.

Tragedi dini hari 1 Oktober 1965 di Jakarta adalah puncak ketidak sabaran dari negeri Adidaya dimaksud, yang menjadi pihak ketiga sebagai kontributor adanya penggulingan sebuah orde pemerintahan sah di RI.

Satu kelimpahan alam di Papua, wilayah paling timur RI pun dikuasai baik pengelolaan maupun keuntungan sejak tahun 1967, bagi negeri Adidaya dimaksud.

Betapa jalan sejarah yang menuai hikmah bahwa memenangkan sebuah perang besar, butuh strategi panjang yang bertahap, meski mungkin sering kalah dalam banyak perang kecil, pertempuran.

Bagi generasi mendatang, maka jalan sejarah perlu dimaknai dalam bingkai berbaik sangka. Agar, membuahkan satu pemahaman jernih atas hikmah sejarah, sebagai bekal meniti jalan terang menuju masa depan. Sebuah Roadmap berbangsa.