Bagi sebagian orang, malam Minggu adalah malam yang spesial. Kespesialan tersebut dinilai dari bersama siapa, di mana, atau pada perayaan apa malam Minggu dilewati. Apalagi jika malam Minggu diisi dengan menghadiri forum diskusi dengan pembicaraan terkait tema tertentu. Tentu akan menjadikan malam spesial tersebut bukan sekadar nongkrong atau mengeluarkan residu selama satu pekan, tapi juga memiliki ‘bekas’ tersendiri.

Pada tahun 2002, UNESCO menetapkan tanggal 20 November sebagai Hari Filsafat Dunia (World Philosophy Day / WPD). Namun sejak 2005 UNESCO baru rutin menyelenggarakan peringatan WPD. Tahun ini, 20 November jatuh pada hari Minggu.

Memang akan lebih asyik jika peringatan WPD dihelat pada malam Minggu, bukan dengan alasan substansial sebenarnya, lebih kepada agar orang-orang lebih bebas dalam menikmati peringatan WPD tanpa terganggu aktivitas yang menunggu keesokan harinya. Tentu kita semua sepakat hari Minggu merupakan hari libur dan merupakan waktu untuk rehat.

Warkop Sahabat, Pamulang, Tangerang Selatan, menjadi tempat yang pas bagi anak-anak muda yang tertarik dengan filsafat untuk mendengarkan celoteh ‘berisi’ dari beberapa narasumber.

Sebut saja Muhammad Nur Jabir sebagai Direktur Eksekutif Rumi Institute, Raidong Habibi Rambe dari Komunitas Makrifat (Koma), Hendra Januar selaku ‘suhu’ Warung Filsafat, bahkan Luthfi Assyaukanie yang merupakan founder Qureta turut hadir dalam menyumbang ilmu dengan cara yang apik seputar filsafat. Diskusi ringan tapi lagi-lagi ‘berisi’ ini dipandu oleh moderator yang keren, yaitu Rasid Ante Amirudin.

Petanyaan-pernyataan terlontar seputar tema besar dari WPD kali ini, yakni tentang Aku Narsis, Aku Eksis. Frasa yang persis dijadikan judul tulisan oleh Amor Fati—yang juga hadir di Warkop Sahabat—dan sudah dipublikasikan di hari yang sama ketika acara berlangsung. Tema ini menyinggung eksistensi dari filsafat di era digital seperti sekarang, juga pada pemanfaatan media sosial sebagai sarana narsisme bagi para pemakainya.

Sesuatu yang mungkin menyentil sebagian penyuka filsafat saat disebut bahwa filsafat telah mati. Berbagai sanggahan dan komentar kerap diutarakan. Luthfi Assyaukanie menyebut bahwa di masa sekarang, filsafat sudah tidak lagi menjadi queen atau mother of science. Namun filsafat sebagai sebuah disiplin akan terus ada dan diajarkan.

Paradoks pun terjadi saat Amor Fati justru berkata bahwa filsafat sebagai disiplin ilmu sudah mati. Yang tersisa dari filsafat hanyalah sebatas senam otak, supaya tidak pikun. Amor melanjutkan, setelah Newton mengumumkan kematiannya, dia memang menggunakan kata-kata filosofis naturalis. Padahal sebenarnya filsafat alam telah berubah menjadi fisika, biologi, dan ranah kajian lainnya.

Kierkegaard pernah memaparkan pemikirannya tentang eksistensialisme. Bahwa kebenaran itu bukanlah suatu totalitas yang objektif, tetapi kebenaran adalah individu yang bereksistensi. Eksistensialisme sendiri muncul akibat dari kritik yang diutarakannya kepada Hegel.

Sebelumnya, seperti yang dikutip dari buku Para Filsuf dari Plato sampai Ibnu Bajjah yang ditulis oleh Wahyu Murtiningsih, Hegel menyatakan bahwa kebenaran sebagai totalitas objektif, yang dilukiskan Hegel dengan proses dialektika historis Hegelian dengan proses tesis, antitesis, dan sintesis. Dialektika ini akan terjadi secara terus-menerus, yang Hegel sebut sebagai Roh Absolut.

Terlebih ketika kita sandingkan dengan realitas sosial yang terjadi di era digital seperti saat ini. Eksistensi menjadi sesuatu yang penting untuk menunjang identitas seseorang. Caranya adalah dengan bernarsis ria di media sosial yang memiliki pengguna sekitar tiga miliaran orang di seluruh dunia. Di sisi lain, identitas berubah menjadi sesuatu yang bias. Hal ini pula yang kemudian menjadi menarik untuk diperbincangkan.

Amor Fati dalam diskusi mengatakan konsep dari bias identitas itu dengan gamblang. Dia pun menambahkan bahwa, “Di dalam dunia ‘nyata’, eksistensi kita terbatas. Dunia digital membuka kemungkinan itu.”

Dapat ditafsirkan bahwa sebenarnya diri kita justru akan lebih terbuka di ruang digital tanpa memedulikan batas-batas terkait kebiasaan yang tercitra di dunia nyata. Hilir dari pembahasan ini adalah bahwa eksistensialisme selalu berkelindan dengan pengakuan identitas, mulai dari diri sendiri sampai orang banyak.

Di tengah arus digitalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, orang-orang ‘dituntut’ untuk terus mengikuti perubahan. Jika tidak, tenggelam dalam kehampaan dan pengharapan akan pengakuan menjadi pilihan. Dalam konteks ini, entitas bukan lagi sesuatu yang diprioritaskan. Namun sejauh mana eksistensi yang dibangun di ranah media sosial yang kerap menjadi tolak ukur ke-‘ada’-an seseorang.

Malam semakin merapat. Di sela-sela diskusi yang kian menarik, hiburan tidak pernah luput dari perhatian. Warkop Sahabat semakin gempita oleh tepuk tangan pengunjung dan suara yang mengiringi beberapa lagu yang dibawakan oleh bintang tamu. Bukan sekadar nyanyi bersama, karena Emperan Pamulang (Empang), Dapoer Sastra Tjisauk (DST), Teloe Doloer, Lief Band, dan Indah Winar menyajikan kelas hiburan yang berada di atas kasta biasa.

Baik para narasumber, peserta, dan panitia diskusi menghela kepuasan tersendiri yang belum tersentuh diksi. Malam Minggu menanti pagi. Warung Kopi bertransformasi menjadi ruang diskusi. Eksistensi, narsisme, dan digitalisasi masih terus mencari jati diri dan menyuarakan keberadaannya lewat kanal-kanal baru, yang masih akan terus disambangi sebagai bentuk dari pengakuan akan keberadaan.

(*) Pamulang, 4 Desember 2016