Tak ada kopi malam ini.
Terdiam tuk menunggu esok pagi.
Agar bisa menghirup aroma yang tak pernah kusesali.
Dan rasa yang buatku jatuh hati.
Sangat indah sekali.

Kurindu seduhannya, nikmat.
Apalagi saat malam kurasakan, hangat.
Ah Tuhan, kumohon sembuhkan sakit yang kurasakan.
Kuingin kembali seduh, secangkir larutan menawan.

Semoga esok hari kubisa kembali rasakannya.
Bercampur memutar dalam setiap adukannya.
Sendiri, atau bersama seseorang dengan canda tawa.
Dan meneriakkan sebuah cerita, dalam tulisan lembaran bertinta.

Espresso terpahit, pun tak sepahit ketika ku kehilanganmu.
Ini jawaban seorang barista dalam ranah rindu.
Kisah yang sudah lama terlalu membunuh.
Hingga dia jatuhkan amukannya ke dalam biji kopi gayuh.
Akankah dia berhenti, atau terus melangkah maju?

Tanpa secangkir kopi malam ini, diriku tak sadar terlempar dalam panggung kebencian.
Peristiwa silam, datang mengutuk kenyamanan.
Haruskah kujelaskan dengan bahasa keras nan jahat?
Tak usah, biar kebencian itu hancur dalam putaran waktu, meski terkadang membunuh.

Ucapmu padaku.
Terbunuh untuk terhidup.
Carilah cahaya dalam ruang redup, buka mata, dan buka rasa.
Jikalau sudah ketemu, jagalah cahaya itu.
Agar kau tak mudah kalah, dengan pertempuran saat datangnya kebencian.

Sudah larut malam, mari akhiri tulisan ini.
Dan kita mulai lagi, dinihari nanti.
Kopi, salam dari hati.