Selama seminggu, berturut-turut, seorang lelaki yang sama, pada jam yang sama, 16.30 WIB, mendatangi rumah makan yang terletak di pinggir jalan yang terhubung dengan satu pertigaan jalan raya Legosonia – yang biasanya tiap pagi dan sore menjadi titik kemacetan.

Sang pemilik warung tidak menyadari keadaan itu. Terhitung hari ketiga, keempat, kelima, keenam dan ketujuh, barulah ia menyadari kemiripan itu: lelaki yang sama, jam yang sama, dengan pesanan yang sama: sepiring nasi, satu macam sayur dan telor dadar. 5000 rupiah untuk sepaket itu.

Di hari ia mulai menyadari itu, sang pemilik warung tidak mencoba bertanya. Sang pemilik warung memegang etika yang ketat yang entah darimana kekakuan etika itu ia dapatkan. Bunyi etika yang ia pegang itu berbunyi: sang pemilik warung hanya boleh menanyakan pelanggannya mau makan apa, sayur apa, lauk apa. Titik. Jika dia mau menanyakan hal-hal di luar itu, maka pertama-tama ia harus mengajukan kata “maaf, boleh… blab la bla”, begitulah etika yang ia pegang.

Dan sampai hari keenam, sang pemilik warung tak merasa penting untuk menanyakan kejanggalan itu.

*

Di hari ketujuh, suasana warung tidak terlalu ramai pengunjung. Si pemilik warung punya banyak kesempatan untuk duduk santai sambil berfilsafat. Tetapi lelaki yang ditunggu-tunggu, di jam yang sama, lelaki yang sama, telah datang, dan segera memesan satu paket makanan dengan menu dan lauk yang sama: nasi, sayur dan telor dadar.

Selepas makan, sang pemilik warung mendekatinya.

“Maaf, boleh saya cerita”, suara setengah berbisik untuk tidak mengganggu pengunjung yang lain.

Tori memandang ke arah suara.

“Boleh, aku siap mendengarkan. Setidaknya ceritamu bisa menghiburku dan aku bisa lapar lagi karena hiburan itu”. Sang pemilik warung tertawa.

“Begini selama satu minggu, tepatnya sejak hari ketiga, kau terlihat membayar lebih untuk satu paket makananmu”.

“Iya betul”.

“Sekarang saya boleh tanya?”

“Baiklah”.

“Kenapa?”

“Maksudmu?”

“Harga satu paket nasi, dengan hanya satu macam sayur dan telor dadar, saya hanya menjualnya dengan harga 5000. Tapi tiap hari, selama seminggu, kau selalu membayarnya lebih. Kadang 7000. Kadang 6000”.

Lelaki itu tidak kesusahan untuk menjawab pertanyaan si tukang warung seolah-olah seluruh gagasan tentang itu ia rawat baik-baik dan dipersiapkan untuk menghadapi hal-hal remeh seperti ini. Ia tersenyum.

“Begini, saat aku membayarmu 7000”, kata Tori mulai menjelaskan, dengan suara yang lirih, “di luar pengetahuanmu aku memakan dua gorengan yang masing-masing harganya 1000”.

Sang pemilik warung menyimak. Tori melanjutkan.

“Saat, aku membayarmu 6500, saat itu aku mengambil minuman yang harganya 1500. Di saat, aku membayarmu 8500, aku mengambil minuman dan dua gorengan. Tentu saja kau tak bakal tau. Kau sendiri sibuk melayani pelanggan-pelanggan yang lain, bukan?”

Sang pemilik warung hanya menyimak dan lalu mengangguk saja. Tapi dalam hati dia bersumpah selama ini dia sudah memperhatikan betul keanehan ini. Dia tidak melihat kenyataan yang diceritakan oleh si pembeli itu. Dia ingin mendebatnya. Tapi segera ia teringat pada etika yang dia pegang teguh: kau tidak boleh menyulitkan pembelimu selama si pembeli tidak mempersulit dirimu.

Maka dia hanya diam saja.

*

Hanya dalam beberapa hari, cerita itu telah mengalir kemana-mana. Tiap-tiap pengunjung yang datang membeli bisa mengetahui cerita itu. Dan si pemilik warung telah memberi tambahan cerita dengan bualan yang kurang masuk akal tapi enak didengar. Si pemilik warung yang selalu antusias bercerita selalu mengimbuhi akhir cerita dengan tawa dan kebahagiaan.

“Masih ada orang baik di dunia ini yang tak ingin dikenal kebaikannya, itu luar biasa bukan”, celotehnya sambil melayani pembeli.

“Dia mengatakan kepadaku kalau dia telah makan ini dan itu, mengambil menu ini dan tambahan minuman ini, tapi semua itu, aku berani bersumpah, dia hanya mengkhayal saja. Dia tidak melakukan itu”.

“Mengapa kau tidak mengembalikan uang itu kepadanya kalau memang kamu yakin dia hanya makan nasi, satu sayur dan telor dadar”, salah seorang di antara pembeli bertanya.

“Aku bersumpah aku telah memaksanya. Tapi dia menolak. Bahkan dia bilang, kalau kamu tidak mau menerima uang ini, kamu bisa berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Yang penting, urusanku beres denganmu. Bayangkan, dia begitu baik bukan”.

“Iya, jika itu benar begitu, baik sekali orang itu”.

Lalu pengunjung yang lain mendesak si penjual untuk menceritakan asal-usul orang baik itu.

“Sungguh aku tidak sempat bertanya identitasnya. Bayangkan saja, saat aku mendengarkan dia berbicara, dan kebaikan-kebaikan yang dia utarakan, aku merasa berhadapan dengan malaikat. Aku tertegun. Seluruh inisiatifku untuk bertanya menjadi lumpuh”.

Pembeli yang lain menggodanya.

“Kau pernah melihat malaikat?”

“Entahlah, itu hanya perasaanku. Orang itu sangat baik”.

Para pembeli sepakat untuk mendengarkan kelanjutan dari cerita itu. Mereka menunggu cerita mengenai asal usul orang baik itu. Tapi hari ke-8, -9, -10, 11, hingga hari ke-365, orang baik itu tidak datang lagi ke warung itu.

Si pemilik warung akhirnya menutup seluruh cerita orang baik itu. Dia hanya akan mengenangnya dan mengambil seluruh kebijaksanaan dan nilai-nilai yang memancar dari seluruh perkataannya.

“Lelaki itu mungkin seorang malaikat yang sengaja diutus ke warung makan ini, atau mungkin di beberapa warung makan lainnya. Mungkin Tuhan menitipkan pesan kepadaku dan semua orang-orang yang ada di warung makan agar selalu berkenan berbuat baik kepada semua orang”.

Kesimpulan si tukang warung itu tentu saja tak bisa diterima akal. Para pembeli lainnya tak pernah percaya ada malaikat datang ke rumah makan. Tapi soal caranya si tukang warung mengambil hikmah dari cerita yang tak masuk akal, tak ada yang memprotesnya. Justru mereka berdoa untuk harapan-harapan itu.

Sejak saat itu, pemilik warung mengubah nama warung makannya menjadi “Warung Makan Orang-orang Baik”. Saat itu juga, si tukang warung menjadi lebih murah hatinya ketika mendapati pengamen, pengemis atau siapa pun yang kelaparan. Dan hampir kepada setiap pengunjung, si tukang warung berceramah tentang kebaikan memberi makan.

Beberapa minggu kemudian, warung itu semakin ramai. Para pengemis, pengamen dan orang-orang kelaparan yang tak punya duit bahkan bergerombol di sana. Rupanya si tukang warung, dengan kebaikannya, menyediakan beberapa bungkus makanan yang secara khusus dijatahkan kepada mereka yang kelaparan dan tidak punya uang.

*

Cerita si pemilik warung itu sampai juga akhirnya pada lelaki yang jadi bahan cerita. Dalam hati, dia tersenyum betapa indahnya cerita itu. Bahkan saat ia mendengar kalau si tukang warung menyimpulkan kalau dirinya itu adalah malaikat, bertambah lagi kebanggaannya.

Lelaki itu melangkah ke dalam rumah. Dan ia tersenyum-senyum penuh gembira.

“Aku sudah mendengar juga cerita itu”, temannya langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan duduk di dekatnya.

“Serius?”

“Kau sudah jadi sesosok malaikat di mulut pemilik warung itu”.

“Tentu saja kau juga sudah mendengar kan, kalau tiap hari warung itu selalu diserbu orang-orang kelaparan yang tak punya uang”.

“Untuk semua itu, aku sepakat. Tapi kenapa kau tidak datang lagi ke sana, Tori? Kenapa kau membuat orang-orang bingung sampai kau disebut malaikat. Kau ingin disebut malaikat?”.

“Oh kawan, dengarkan aku. Tidak penting apakah aku malaikat atau manusia biasa. Bukan itu yang penting. Sekarang yang penting adalah bualan si pemilik warung itu. Tiap hari, dia akan menanamkan kebaikan kepada orang-orang yang datang. Gagasan tentang kedatangan sesosok malaikat telah mengubah pemilik warung itu untuk bersikap lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi. Biarkan gagasan tentang malaikat menguat dalam pikirannya, mengental dan menjadi mitos”.

“Tapi segala cerita itu tidak masuk akal. Tiap hari dia membual tentang sesuatu yang bodoh, takhayul, tidak masuk akal”.

Lelaki itu terdiam dan mengkhayalkan sesuatu. Dan seluruh khayalan itu segera menjadi jawaban dalam pikirannya. Pikirannya segera mewujud suara.

“Nilai kebaikan kadang bersumber dari sesuatu yang kita nilai sebagai takhayul, mitos, tidak ilmiah, atau apapun itu. Tapi apa pedulinya kita jika kebaikan itu dirasakan sebagai kebaikan”.

“Baiklah aku tak ingin berdebat, tapi apa alasanmu berbuat baik dengan cara yang aneh itu?”

Lelaki itu hanya tertawa. Ia terus tertawa geli. Hingga tawa itu ia bawa ke dalam mimpinya.

*

Tak kan pernah ada yang tau di balik kebaikan aneh yang diciptakan oleh lelaki itu. Tapi suatu hari, gerakan gaib membawa temannya memasuki kamar lelaki itu. Gerakan gaib itu mengarahkan temannya untuk mengambil sebuah buku. Jari-jemarinya terus bergerak membuka halaman demi halaman buku itu.

Seluruh kejadian itu membuatnya tertegun. Dia merasa takut dengan gerakan gaib itu. Tapi semua itu segera buyar saat matanya secara tak sengaja fokus pada suatu tulisan di salah satu lembaran di buku catatan itu.

Saat ia menyadari tulisan itu, ia sudah bisa menguasai dirinya. Gerakan gaib itu sudah tidak ada. Dan ia segera membawa buku itu ke kamarnya.

Seminggu kemudian, lelaki ‘malaikat’ itu kebingungan mencari bukunya. Dia bolak balik masuk ke kamarnya. Berulang kali membuka laci mejanya. Tiap lemari dibukanya. Kesibukan itu berlangsung seminggu dan ia tak pernah mau bercerita mengenai buku catatan yang hilang itu.

Suatu sore, kawannya mengajaknya menonton pertunjukan teater. Lelaki itu segera tertarik dengan alur cerita itu dan makin lama makin ia merasa ada kemiripan dengan yang pernah dikhayalkannya. Cerita itu seakan sedang memperagakan dirinya. Tapi dia lupa. Terlalu banyak yang dikhayalkannya. Tapi ia yakin kalau khayalan itu telah dituliskannya. Kapan dan di mana?

Sebuah suara muncul dari sang narator:

“Seorang lelaki menyelinap di antara kerumunan orang-orang di sebuah warung makan. Seperti orang-orang lain, ia memesan sepiring nasi, sayur dan telor dadar. Tapi di akhir makan, lelaki itu kebingungan. Ia tak menemukan apapun di kantongnya. Seluruh keringat mengucur di dahinya. Keringat tipis. Keringat itu mengalir di tubuhnya, di sepanjang lengan tangannya, di selangkangannya, mencapai lutut, mengalir di betisnya hingga ke kakinya. 

Pada keringat terakhir yang menetes ke lantai warung makan itu, sebuah ide cemerlang muncul. Dibimbing kecemerlangan ide itu, yang ia yakini sebagai arahan dari malaikat, ia berdiri perlahan. Lalu ia bergerak perlahan mendekati kerumunan orang-orang yang berdiri menunggu pesanan makanan. Ia menyelinap di antara mereka hingga sampai di luar warung makan. Merasa terlepas dari si pemilik warung, lelaki itu berjalan pulang.

Di jalan pulang, ia dipenuhi dengan kebimbangan. Muncul pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan-tuduhan yang membuatnya merasa bersalah: “Kau telah berdosa meninggalkan warung makan tanpa membayar. Kau itu mencuri”. Tapi suara lain memberinya pembelaan dan ketenangan: “tenang, jangan takut. Tuhan tahu kesulitanmu. Kamu hanya tak ingin dipermalukan di depan banyak orang kan. Itu manusiawi. Tuhan juga tahu kalau kau tak berniat mencuri. Anggaplah ini cara berhutang yang aneh. Dan sebagai hutang kau akan menggantinya di lain waktu”.

Di rumah, sekali lagi dibimbing kecemerlangan idenya – yang ia pikir bimbingan malaikat, lelaki itu membuat skenario yang baik untuk melunasi hutang-hutangnya. Skenario itu ia catat dengan baik. Mengikuti catatan itu, selama seminggu berturut-turut, lelaki itu mendatangi warung makan itu. Tiap kali makan, ia membayarnya dengan lebih. 

Keanehan itu tak ada yang tahu. Bahkan si pemilik warung yang dalam hatinya bersumpah melihat keanehan itu tak bisa berbuat apa-apa. Si pemilik warung justru menerima kejadian ini sebagai pesan dari Tuhan untuk menjadi baik. Dan lelaki itu – yang tak diketahui identitasnya – merupakan sosok malaikat dalam pikiran si tukang warung. Kejadian itu berdampak besar: si pemilik warung telah mengubah nama warungnya dengan nama: “Warung Makan Orang-orang Baik”.

Kejadian sederhana telah mengubah menjadi luar biasa. Kebaikan kadang bisa datang dari sesuatu hal yang aneh.

Para penonton bertepuk tangan. Ada rasa geli. Ada rasa senang. Dan di antara penonton ada yang berbisik-bisik: “versi ini jauh lebih masuk akal ketimbang versi yang diceritakan oleh si pemilik warung makan”.

“Tapi kita tahu, baik si pemilik versi ini atau si pemilik warung itu, sama-sama tukang bual”.

Keduanya tertawa-tawa. Orang-orang di sampingnya yang mendengar juga ikut ketawa. Temannya yang duduk di sampingnya juga ikut ketawa – semula dari hati dan akhirnya muntah dari bibirnya. Dan lelaki yang merasa ada dalam cerita itu juga ikut tertawa – dengan pura-pura menggerakkan bibirnya agar terlihat tertawa.

Lokasi rahasia, 17 Mei 2019