“Mohon izin teman-teman saya dibantu, ada yang bilang kalau mudik itu beda dengan pulang kampung. Tolong pencerahannya.”

Begitu kata chat di grup WhatsApp, sebuah grup “Literasi” tempatku bergabung. Chat itu dikirim oleh Naz (bukan nama sebenarnya) yang dikirim sekitar jam sepuluh malam yang baru kubaca keesokan paginya, 23 April tahun ini. Kalimat pertanyaannya menurutku sederhana.

Namun, setelah ditanggapi banyak oleh pegiat literasi di grup itu, aku jadi tahu kalau pertanyaannya berhubungan dengan "perkataan" Jokowi tentang berbagai hal. Tapi, yang paling "enak digoreng" memang persoalan Mudik dan Pulang Kampung (pulkam). 

Pegiat-pegiat di dalam grup itu menanggapi dengan; auto melihat video langsung alias tabayun melihat utuh video wawancara Presiden Jokowi dengan Najwa Shihab yang terpotong-potong via kiriman di Twitter itu. Kemudian, pengertian mudik, pulang kampung versi KBBI, walaupun, menurut seorang teman di grup, penjelasan Pak Jokowi sepertinya bukan berdasarkan kamus (namun persepsi beliau sendiri).

Aku pun menanggapi dengan mengirimkan tulisan dari Denny Siregar panutanku yang menulis hasil wawancara Narasi TV tersebut dengan memfoto tulisan dengan redaksi begini;

Begitu juga ketika Najwa bertanya, apa beda mudik dan pulang kampung?

Jokowi kembali menjawab dengan elegan, “Pulang kampung itu orang yang mencari uang di kota dan pulang ke rumahnya yang ada di kampung lain. sedangkan mudik, khusus pulang untuk Idul Fitri…”

Dan Jokowi kembali menjelaskan, bahwa jika sejak awal orang yang tidak boleh pulang ke kampungnya, sedangkan di kota sudah tidak ada lagi kerjaan, maka mereka akan menimbulkan masalah baru, yaitu masalah sosial.

Sedangkan khusus orang yang mudik, orang itu tidak punya masalah dengan ekonominya dan memutuskan untuk pulang saat Idul fitri. Ini yang dilarang karena tidak berkaitan dengan masalah ekonomi dan sosial.

Ini kemudian ditanggapi lagi oleh anggota grup, dengan berkata; pulang kampung bisa jadi mereka yang bekerja di Jabodetabek menggunakan KRL, commuter line. Namun, tinggal di luar Jabodetabek.

Tapi, oleh Naz, postingku ditanggapi dengan kata-kata; konteks diskusi terkait (dengan) perpindahan virus. Jadi, kalau pulang kampung virus tidak tertular sementara mudik menularkan virus. Pelarangan mudik agar virus tidak menular ke daerah asal. Yah, sama dengan pulang kampung.

Kemudian, dia balas lagi; niat sekali Denny Siregar membela, untuk masalah ekonomi dan sosial di wilayah yang menjadi zona merah pandemi hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah. Poinnya selesaikan pandemi.

Memangnya pemerintah tidak lagi sibuk menyelesaikan pandemi sekarang? Kepada bangsa yang besar ini? Rakyat Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 271 juta jiwa ini. Kenapa tidak langsung ke intinya, Bung? Pura-pura menanyakan arti kata di "Grup Literasi" tetapi ujung-ujungnya mau bahas politik.

Satu kesimpulanku, Kapret!

Sudahlah, kita masih jelas kok, masyarakat kita (masih) terbagi atas Kapret dan Cibi! Ah, gak usah jauh-jauh, aku adalah cebong. Si Naz menanggapi tulisan Denny Siregar dengan "menuduhnya" membela presiden, jadi dia adalah Kadrun. Aku sendiri yang mengambil narasumber dari Denny Siregar adalah Cibi (cebong imut).

Tapi, tenang masih banyak kok yang netral. Mereka yang dulu golongan putih (golput) di saat pemilihan presiden yang kini menjadi netral pada apapun. Kata seorang teman yang netral, harusnya pak Jokowi mengatakan yang pulang kampung itu adalah seseorang atau sekelompok orang yang sedang mengungsi jadi mereka adalah pengungsi bukan pemudik.

Apalagi, dia mengirimkan, gambar tentang pengungsi Covid-19 Jawa Tengah. Di sana tertulis;

Dalam "mengungsi" karena pandemi Covid-19, banyak alasan yang terlihat muncul. Misalnya karena takut tertular Covid-19, aktivitas ekonominya terhenti, Wfh, di-PHK, dan dirumahkan. Di kampung disemprot dengan disinfektan, atau dikarantina 14 hari.

Mereka pulang kampung bukan mudik tapi mengungsi!

Sumber: Koalisi Rakyat Bantu Rakyat (KOBAR) Jawa Tengah.

Jejak Digital Mudik Jokowi

Kemudian, ketika banyak tulisan yang "mendukung" Jokowi dengan mengatakan; kalian saja tidak bisa membedakan mana yang oplas dan mana yang digebukin. Atau Jokowi menggunakan "Ilmu Semantik" yaitu makna kata. Bagi presiden makna mudik dan pulang kampung memiliki makna yang berbeda. 

Namun, balasan dari "grup sebelah" muncul lagi. Mereka mendapatkan jejak digital Jokowi. Dari Facebook, Presiden Joko Widodo, tanggal 28 Juni 2017, 09.04.

Seperti anda yang pulang kampung saat Idul Fitri, saya pun mudik di hari kedua lebaran.

...

yang mudik tahun ini, apa kegiatan anda di kampung halaman?

Di sini, kata pulang kampung, dan mudik sama saja bagi pak Jokowi. Tetapi, menurutku, bisa jadi yang menulis status di FB ini bukan Jokowi, tapi stafnya. Dan asumsiku lagi, posting itu di tahun 2017. Nah sekarang, sudah 2020, beberapa tahun yang lalu, bro-sis.

Seperti kata seorang kawan; orang bisa berubah, dalam waktu relatif singkat, 5 menit. 

Apalagi ini yang sudah bertahun-tahun. Pergeseran "makna" sesuatu saja bisa berubah. Apalagi dunia ini. Sebelum ada virus "Kirana" kita bebas pergi melanglang buana, setelah "Kirana" kita hanya bisa bersemedi dan beraktivitas dari rumah. Aktivitas dunia bergeser, bumi berubah jadi lebih baik yang ditandai dengan lebih birunya langit.

Tahun lalu, 2019, seorang teman melakukan puasa medsos, yaitu dengan tidak banyak menggunakan media sosial. Namun, kini dia banyak menjadi pengguna aplikasi Zoom. (Jadi, puasa apa dong istilahnya? Puasa Zoom?).

Sesuatu berubah, sesuatu bergeser. Tapi tenang, aku tidak berubah, dan bergeser karena hatiku tetap padamu (oh, no). 

Damai ya, Pret dan Ceb, Met puasa.