Kata “Ubi” apabila dibaca dari belakang menjadi “Ibu.” Kata walikkan yang sering ditemukan di Kota Malang. Bermula dari kota tersebut, pandangan tentang ibu mulai berbeda. Ubi yang berarti Ibu. Banyak makna dapat disampaikan setiap anak kepada orang tuanya.

Sebelum merasakan hidup merantau di kota orang, sebagai anak rasanya hampir tiada hari tanpa dimarahi. Apalagi ditambah masa kecil yang sering mendapat kekerasan verbal maupun non verbal dari ibu.

Hal ini mungkin menjadi pengalaman yang hampir dirasakan oleh semua anak. Saat itu saya tidak memahami alasan ibu terlalu keras pada anaknya. Kedekatan komunikasi antara anak dan ibu menjadi sangat kurang.           

Bermula sejak tinggal di Kota Malang. Terpisah jarak cukup jauh dengan orang tua. Sehingga untuk bisa bertemu memerlukan waktu lama dan tidak bisa setiap hari bertatap muka. Mungkin hanya via suara.

Dulunya ibu saya hidup dengan segala keterbatasan dan orang tua berpisah. Hidup bersama ibu tiri dan mbah, berpindah-pindah. Menikah dan memiliki anak di usia yang masih sangat belia.

Kondisi emosional yang belum siap menjalani kehidupan rumah tangga. Ditambah kondisi ekonomi yang belum tertata, pengalaman tidak menyenangkan semasa hidupnya, membuat ibu masih memiliki trauma, sehingga berdampak dalam pengasuhan anak.

Bekerja di salah satu Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak di Kota Malang. Kegiatan belajar mengenai parenting seringkali saya ikuti saat bekerja. Pengalaman inilah pada akhirnya mengubah pandangan terhadap ibu.

Pengalaman masa lalu yang telah membentuk ibu untuk mendidik anaknya keras secara verbal dan non verbal. Sejak itu, saya mulai belajar menerima dan memahami apa yang dilakukan oleh ibu.          

***

Sejak memutuskan menikah dengan laki-laki yatim piatu, saya menjadi ibu bagi suami sendiri. Meninggalnya kedua orang tua di usia 8 tahun. Selama 20 tahun ia hidup tanpa kehadiran ibu. Tidak lagi bisa merasakan perhatian serta kasih sayang secara langsung dari ibu kandung.

Menjadi istrinya adalah tugas tersendiri bagi saya. Tentu saja harus bisa menjadi istri yang tepat baginya. Harus mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan. Dua puluh tahun bukanlah waktu singkat baginya.

Dulu, suami saya pernah menyampaikan bahwa salah satu tujuan ia menikah adalah ingin ada teman setiap waktu, yang bisa memperhatikan hidupnya, mendapat kasih sayang yang selama 20 tahun sudah hilang.

Sebagai istri dari laki-laki yatim piatu, akhirnya memutuskan untuk tidak bekerja setelah menikah. Fresh Graduate yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga. Harus siap menghadapi segala macam pertanyaan dan pernyataan tentang gelar yang sudah saya dapatkan.

Pada waktu itu setelah dinyatakan resmi menjadi seorang istri, tidak lagi peduli tentang komentar orang di luar. Suami saya adalah prioritas. Tidak bekerja demi memiliki waktu lebih untuk suami.

Apalagi pekerjaan suami yang sangat fleksibel dan lebih banyak tugas yang bisa dikerjakan di rumah. Sehingga waktu bersama keluarga akan lebih banyak. Apa yang terjadi apabila saya bekerja di luar sedangkan suami sering di rumah sendirian?

Statusnya memang menikah. Menjadi suami dan istri. Namun, dibalik statusnya tersebut apabila saya bersikeras bekerja di luar, maka hatinya akan tetap merasa sendiri. Pandangan bagi sebagian orang mungkin tidak sejalan dengan pilihan saya ini. Namun, saya berusaha menjadi istri sekaligus menjadi obat untuk suami yang telah kehilangan kasih sayang seorang ibu selama ini.

Lebih memilih di rumah dengan tujuan memiliki banyak waktu bersama suami. Menyiapkan sarapan, mendengarkan keluh kesahnya, menjadi teman bersenda gurau. Saya memang kehilangan kesempatan menjadi fresh graduate yang bisa langsung bekerja. Namun, saya mendapatkan gelar istri sekaligus ibu bagi suami yang belum tentu didapatkan oleh fresh graduate lainnya. Ini adalah bagian kebahagiaan dari rumah tangga saya.

***

Merasakan nikmatnya menjadi ibu. Setelah sembilan bulan mengandung. Perjuangan melahirkan manusia baru dari rahim seorang perempuan. Bertaruhkan nyawa tidak lagi menjadi ketakutan seperti sebelumnya.

Memiliki anak untuk pertama kalinya. Awal kehamilan bersamaan sulitnya finansial keluarga kami. Ibu hamil yang sering mengalami mual muntah. Ditambah tidak punya uang untuk membeli makan ataupun susu ibu hamil untuk menambah tenaga. Saat itu harus berhutang dan meminta pekerjaan kepada seseorang.

Pengalaman awal menuju jadi seorang ibu bagi saya waktu itu adalah pengalaman yang tidak pernah bisa dilupakan. Menjadi waktu pertama kali untuk bisa menikmati keluhan-keluhan yang muncul pada ibu hamil. Menahan sakit punggung dan sulitnya tidur karena perut mulai membesar. Sakit yang semakin menjadi saat bayi mau keluar.

Setelah lahir, barulah merasakan nikmatnya mengandung dan melahirkan. Merawatnya dengan penuh cinta. Tidur kurang, waktu makan kadang terbengkalai karena hanya bersama suami merawatnya. Dari sinilah merasakan menjadi orang tua adalah perjuangan. Apalagi seorang ibu.         

***

Di hari ibu ini, pasti banyak ungkapan yang disampaikan. Pada kesempatan kali ini penulis juga ingin menyampaikan bahwa menjadi ibu itu memang pengalaman yang menyenangkan sekaligus berat.

Pada posisi ibu saya, usianya yang tergolong sangat belia harus berperan sebagai istri dan seorang ibu. Ditambah lagi finansial yang belum stabil. Perhatian serta kasih sayang dari sosok ibu yang kurang, karena orang tua berpisah.

Hingga waktunya memiliki anak dan harus menjadi seorang ibu, emosionalnya masih belum terlalu siap. Pola asuh yang masih belum tepat adalah pengalaman ibu saya memiliki anak pertama. Kini, memiliki anak kedua dengan pengalaman yang semakin bertambah, pola asuh yang dulu salah tidak lagi dilakukan.

Belajar dari masa lalu ibu saya dan pengalaman diasuh oleh beliau, penulis terus belajar untuk menjadi orang tua yang tepat dalam mengasuh anak. Tidak lagi terbawa oleh pengalaman pola asuh masa lalu untuk pengasuhan anak saya.

Hari ibu tahun ini adalah spesial bagi penulis, karena bisa belajar menjadi ibu dari ibu saya sendiri. Penulis menjadi ibu bagi suami yang kehilangan dua puluh tahunnya selama ini. Pun sekarang penulis juga menjadi ibu dari anaknya sendiri.

Tidak akan bisa membayar ataupun membalas perjuangan dari seroang ibu. Dari rahimnya kita tumbuh dan dibesarkan penuh cinta. Peran dan keberadaan seorang ibu tidak terikat oleh waktu. Penghargaan kepada seorang ibu tidak hanya di 22 Desember saja. Setiap detik kita semua bisa memberikan penghargaan kepada ibu, karena kasih sayang kepada ibu bisa dilakukan kapanpun.

Seorang pahlawan, pejuang atau orang yang memiliki nama besar lainnya, mungkin akan dikenang namanya setelah mereka tiada. Namun, seorang ibu setiap waktu namanya akan selalu besar untuk terus diingat. Setiap hembusan nafas kita, bahkan tangan penulis yang digunakan untuk menulis tulisan ini, tidak akan berdaya tanpa adanya seorang ibu.

Terima kasih ibu. Jariyahmu akan berjalan setiap waktu.