Kata peribahasa pastinya sudah tidak asing lagi bagi kita. Karena peribahasa sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pada novel, poster-poster di jalan, sekolah, dan lain-lain.

Peribahasa itu merupakan kata-kata kiasan. Fungsi dari peribahasa itu sendiri yaitu untuk memperindah kosa-kata (bahasa cakap), dan memberikan nasihat. Selain itu, masih ada fungsi peribahasa lainnya. Namun, kedua hal itulah yang paling menonjol dalam fungsinya menurut saya.

Peribahasa juga banyak digunakan dalam karya sastra novel dan drama. Salah satunya yaitu pada novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati. Peribahasa yang terdapat dalam novel Sengsara Membawa Nikmat itu banyak ditemui pada nilai pendidikan karakternya.

Novel Sengsara Membawa Nikmat adalah karya Tulis Sutan Sati yang diterbitkan pada tahun 1929 di Balai Pustaka. Novel ini menceritakan tentang kebangkitan seseorang dari keterpurukannya, dan menunjukkan sebagian kehidupan masyarakat di tanah Minang pada zaman kekuasaan Belanda.

Jadi, novel Sengsara Membawa Nikmat menceritakan penderitaan dan kesulitan hidup rakyat yang mereka alami terutama dengan ketidakadilan hukum pada masa itu. Namun, dari kesengsaraan yang dialami itu akan mendapatkan berkah dari Tuhan atas teguhnya iman kepercayaan dan kebaikan hati kita. Kita juga bisa mengambil banyak hikmah dalam novel tersebut, terutama bagi kalangan remaja.

Nilai pendidikan karakter yang terdapat pada novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati itu ada enam macam. Selanjutnya, mari kita simak bersama-sama makna peribahasa nilai karakter dalam novel Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati.

1. Cinta kepada Tuhan dan Semesta Beserta Isinya

Peribahasa yang mengandung nasihat untuk cinta kepada Tuhan dan semesta beserta isinya dapat kita dilihat pada kutipan cerita berikut. “…Yang sejengkal itu tak mau jadi sedepa,…” (hlm. 66).

Makna peribahasa dalam novel Sengsara Membawa Nikmat pada kutipan ‘sejengkal’ yang dimaksud itu adalah takdir yang kecil atau sedikit, sedangkan ‘sedepa’ adalah takdir yang besar atau banyak.

Kemudian, dapat kita simpulkan bahwa peribahasa di atas mengandung makna takdir yang sudah tetap dan tidak dapat berubah lagi. Peribahasa di atas menganjurkan kepada kita untuk beriman dan percaya sepenuhnya kepada Allah Swt., karena takdir seseorang itu sudah ditentukan oleh Allah Swt.

2. Tanggung Jawab dan Mandiri

Peribahasa yang mengandung nasihat untuk bertanggung jawab, dan mandiri dapat dilihat pada kutipan berikut ini. “Berani karena benar, takut karena salah…” (hlm. 30).

Makna peribahasa dalam novel Sengsara Membawa Nikmat pada kutipan ‘berani karena benar’ yang dimaksud itu adalah akan timbul keberanian pada seseorang, apabila tidak berbuat kesalahan, maka jangan takut atau lari dari masalah. Sedangkan ‘takut karena salah’ adalah akan timbul rasa takut apabila melakukan kesalahan.

Kemudian dapat kita disimpulkan bahwa peribahasa di atas mengandung makna berani berbuat berani bertanggung jawab, dan menanggung resiko apapun untuk membela kebenaran.

3. Hormat dan Santun

Peribahasa berikut mengandung pandangan dan nasihat supaya bersikap hormat dan sopan santun kepada guru. “…setitik menjadi laut, sekepal menjadi gunung…” (hlm. 31).

Makna peribahasa dalam novel Sengsara Membawa Nikmat pada kutipan ‘setitik menjadi laut, sekepal menjadi gunung’ yang dimaksud itu adalah dari sedikit menjadi banyak.

Kemudian dapat disimpulkan bahwa peribahasa di atas mengandung makna bahwa nasihat yang sedikit bisa membawa kebaikan. Peribahasa dalam kutipan di atas juga mengajarkan nilai-nilai untuk hormat dan santun kepada setiap orang. Santun atau sopan terhadap sesama merupakan sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang, terutama kepada guru kita.

4. Kasih Sayang, Peduli, dan Kerja Sama

Sikap kasih sayang, peduli, dan kerja sama ini tercermin dalam kutipan kutipan berikut ini. “…..Tertelentang sama terminum air, tertangkup sama termakan tanah, menyuru sama bungkuk, melompat sama patah,….” (hlm. 77).

Makna peribahasa dalam novel Sengsara Membawa Nikmat pada kutipan ‘tertelentang sama terminum air, tertangkup sama termakan tanah, menyuruk sama bungkuk, melompat sama patah’ yang dimaksud ialah sama-sama merasakan keberuntungan atau kerugian, kelaparan atau kekenyangan, kesakitan atau kesembuhan, dan kesenangan atau kesedihan.

Maka dapat kita simpulkan bahwa peribahasa di atas mengandung makna yaitu sama-sama setia dalam suka dan duka. Nilai yang dapat kita ambil dari peribahasa di atas adalah kepedulian, kerja sama, dan rasa kasih sayang dalam berteman.

5. Kerja Keras dan Pantang Menyerah

Nilai kerja keras dan pantang menyerah dapat kita lihat pada kutipan berikut.“….belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas…. (hlm. 23-24).

Makna dalam novel Sengsara Membawa Nikmat terselip pada kutipan ‘belajar sampai ke pulau’ yang dimaksud ialah menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ‘berjalan sampai ke batas’ adalah melakukan usaha sampai selesai.

Maka dapat kita simpulkan bahwa peribahasa di atas mengandung makna melakukan segala sesuatu sampai tergapai atau sampai tuntas. Peribahasa belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas menyampaikan pesan bahwa kita itu harus berusaha dengan bersungguh-sungguh sampai pekerjaan itu selesai.

6. Baik dan Rendah Hati

Peribahasa yang mengandung nasihat baik dan rendah hati bisa dilihat pada kutipan berikut ini. “….contohnya ilmu padi, kian berisi kian runduk…” (hlm. 29).

Makna dalam novel Sengsara Membawa Nikmat pada kutipan ‘contohnya ilmu padi’, yang dimaksud ialah untuk mencontoh bagaimana tumbuhan padi itu hidup, sedangkan ‘kian berisi kian runduk’ adalah perihal sifat seseorang yang tidak sombong.

Maka dapat kita simpulkan bahwa peribahasa di atas itu mengandung makna semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Orang cerdas dan pandai, makin tinggi derajatnya makin merendah kepada orang-orang.

Jadi, setiap karya sastra novel itu memiliki nilai pendidikan karakter. Ada karakter baik, ada juga karakter yang jahat. Namun, kita harus mengambil contoh yang baiknya saja, jangan sampai kita mengambil contoh karakter yang jahat, apalagi pembaca dari kalangan remaja. Karena itulah, kita sebagai pembaca yang baik, harus dapat membedakan mana karakter yang baik dan karakter yang buruk.