18121_95223.jpg
Foto: TheJAK
Politik · 3 menit baca

Makna Hashtag Teks Politik; Pertarungan Menepis Keraguan

Zaman now adalah zaman yang sangat tidak memungkinkan untuk berpaling dari wacana politik. Hal tersebut disebabkan oleh pemberitaan di media mainstream yang selalu dijejali dengan informasi politik. 

Selain itu, perbincangan di media sosial juga ikut meramaikan dengan atmosfer yang jauh lebih kental daripada media mayor. Persinggungan antarkelompok tergelar berhadap-hadapan dengan saling melontarkan dukungan terhadap tokoh maupun partai tertentu. Di sisi lain, juga terlihat cemoohan terhadap tokoh dan partai yang dianggap tidak berkenan di hati.

Perbincangan yang sangat ramai hingga saat ini mengenai hashtag 2019 ganti presiden. Wacana tersebut menjadi kata kunci yang sangat populer untuk sekadar mengukur tensi politik masyarakat saat ini. 

Hashtag tersebut memiliki dua fungsi, satu sisi berfungsi menjadi urat nadi oposisi pemerintah, di sisi yang lain menjadi beban tantangan yang harus disudahi oleh kubu koalisi. Demikianlah dua kubu itu hidup berhadap-hadapan untuk saling mempengaruhi, mengungguli, sekaligus nantinya memenangi kontestasi.

Fenomena yang sangat menarik tersebut sangat disayangkan untuk dilewati, paling tidak harus ditelaah dan ditempatkan sebagai ornamen zaman. Menempatkan sebagai ornamen berarti tidak dalam rangka berdiri di kubu tertentu, akan tetapi sebatas mengagumi dan menghayati pesan-pesan yang mungkin dapat diurai dari obyek yang indah tersebut.

Hashtag 2019 ganti presiden (#2019gantipresiden) berlawanan dengan hashtag 2019 tetap Jokowi (#2019tetapjokowi). Dua hashtag tersebut hadir sebagai dua sisi yang tidak harus saling meniadakan.

Keduanya adalah kenyataan, satu sisi kenyataan naratif, sementara di sisi yang lain bermakna suatu anyaman kenyataan faktual yang sedang-ingin diwujudkan. Artinya, di balik teks sederhana itu, terdapat satu keyakinan politik, bahwa kenyataan hakiki itu adalah kristalisasi ide.

Apabila mau disederhanakan bahwa hashtag 2019 ganti presiden tanpa dilawan secara naratif sekalipun dengan hashtag 2019 tetap Jokowi, sebenarnya hashtag yang pertama tersebut juga sedang melawan antitesanya sendiri untuk mewujudkan kristalisasi dari ide tersebut. 

Jika kemudian terungkap secara naratif dengan hashtag yang kedua, hal tersebut tidak lebih hanya sebagai penguat, bahwa ide mengganti presiden tahun 2019 adalah suatu ide besar yang tidak hanya berhadapan dengan ide (ide vs ide), akan tetapi juga berhadapan dengan tantangan dan kenyataan faktual.

Jika paparan di atas agak sulit dipahami karena mungkin cukup berbelit, barangkali penulis akan sedikit menurunkan pada penyelidikan terhadap teksnya saja. Dalam pandangan Derrida, relasi teks dengan pengarang akan selalu terdapat retakan jarak antarkeduanya.

Meski bahasa adalah simbol dari ide, namun teks dan pengarang tidak persis sama seperti halnya relasi cermin dan orang yang berdiri di depan cermin, di mana cermin akan memantulkan secara sempurna bayangan orang yang berdiri depannya. Dalam hal ini, antara si pengarang dan teks selalu terdapat wilayah terselubung (blind spot).

Hastag pertama (#2019gantipresiden) memuat susunan teks yang dirasa kurang sempurna, sementara yang kedua (#2019tetapjokowi) juga tidak sempurna. Keduanya memuat blind spot yang mengisyaratkan adanya keraguan, baik hastag yang pertama maupun yang kedua. Walaupun mungkin masing-masing kubu telah memahami ide yang terkandung di dalamnya, namun bagi pihak ketiga sebagai pembaca teks akan memiliki pemahaman yang berbeda.

Blind spot yang berupa keraguan hashtag pertama akan mengantarkan pada pertanyaan, sosok atau siapa yang akan mengganti, sementara yang kedua Jokowi tetap sebagai apa di tahun 2019? 

Dua blind spot ini barangkali oleh kita yang sedang hidup bersamaan dengan teks itu lahir tidak akan membaca adanya blind spot tersebut. Karena asumsi kita, hashtag pertama akan menunjuk pada  beberapa tokoh kuat tertentu yang berdiri tegak di balik hashtag tersebut. Sementara untuk hashtag yang kedua tentu maknanya adalah Jokowi tetap presiden di tahun 2019 untuk yang kedua kalinya.

Walau kesadaran publik tidak berhasil membaca adanya blind spot berupa keraguan pada teks tersebut, namun hasil analisa teks yang independen itu juga tidak dapat diabaikan. Bagaimanapun sisi yang tidak terungkap tersebut adalah makna yang sekaligus juga menggambarkan pesan tersirat dari si empunya teks, yaitu keraguan.

Dari dua model pendekatan di atas, dapat dipahami bahwa munculnya hashtag, teks dan pesannya merupakan babakan baru atmosfer demokrasi di negeri ini. Terdapat pertarungan ide yang terus disuarakan agar kemudian ide tersebut menemui realitas faktualnya. 

Walau demikian, politik dan arah suara rakyat masih terlalu dini untuk dihitung. Oleh karenanya, teks-teks yang bertebaran itu juga masih menyimpan keraguan yang diselubungkan. 

Segala kemungkinan masih sangat terbuka. Pergumulan masih sangat panjang. Dan hanya pertarungan ide yang elok saja yang akan menepis keraguan itu. Siapa yang berani tampil elegan, maka dialah yang akan membawa ide dan teks itu pada kepastian faktualnya.