Setiap daerah memiliki keanekaragaman budaya lokal dan menjadi ciri khas pada daerah tersebut. Salah satunya yakni budaya lokal di Desa Tegalrejo, Banyuurip, Purworejo. Daerah tersebut termasuk daerah yang memiliki kebudayaan yang berbau mistikMasyarakatnya merupakan golongan kejawen.

Tradisi Rajab Sumur merupakan budaya lokal yang harus dilestarikan. Tradisi tersebut merupakan budaya peninggalan dari nenek moyang.

Pada Tradisi Rajab Sumur terdapat berbagai macam simbol yang sudah ditentukan oleh nenek moyang. Masyarakat tidak berani mengganti atau merubah ketentuan yang sudah ada. Generasi muda saat ini meneruskan secara turun-temurun.

Tradisi tersebut mempunyai pengaruh positif bagi kehidupan masyarakat. Pengaruh yang dimaksud yaitu menuntun manusia untuk selalu senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Rasa syukur itu diungkapkan melalui simbol-simbol.

Simbol-simbol tersebut hanya digunakan sebagai perantara, bukan untuk menyekutukan Tuhan. Salah satu simbol tersebut adalah ubarampe yang terdiri dari berbagai macam jenis. Pada intinya, semua ritual yang ada dalam Tradisi Rajab Sumur hanya sebagai perantara.

Kepercayaan terhadap ritual tersebut harus dilandasi dengan keimanan. Hal itu diperlukan agar nantinya tidak salah dalam mengartikan makna simbol-simbol yang ada dalam Tradisi Rajab Sumur.

Tradisi Rajab Sumur merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Rajab pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Tradisi Rajab Sumur sudah ada sejak zaman Mataram, ketika agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Dari dahulu sampai sekarang, Tradisi Rajab Sumur masih terus dilestarikan.

Banyak simbol yang terdapat dalam tradisi tersebut, seperti memotong kambing, doa saat ritual, dan berbagai macam ubarampe. Kekhasan dari tradisi tersebut adalah pelaksanaannya dilakukan di sumur yang berbeda pada setiap dukuh.

Empat sumur tempat pelaksanaan Tradisi Rajab Sumur, yaitu: sumur petilasan Ki Poleng Tambang Jaya, sumur petilasan Raden Bagus Kenthus, sumur petilasan Baru Klinting, dan sumur petilasan Nyai Rantam Sari. 

Tradisi Rajab Sumur dilaksanakan untuk memperingati pepundhen yaitu Ki Poleng Tambang Jaya, Raden Bagus Kenthus, Baru Klinting, dan Nyai Rantam Sari. Selain itu, tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk wujud syukur kepada Tuhan. Pelaksanaan Tradisi Rajab Sumur di Desa Tegalrejo tidak bersifat musyrik, melainkan hanya merupakan selamatan bumi.

Bentuk prosesi Tradisi Rajab Sumur di Desa Tegalrejo, Banyuurip, Purworejo yaitu pra pelaksanaan, prosesi pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan. 

Pra pelaksanaan Tradisi Rajab Sumur meliputi: musyawarah iuran pembelian kambing, menyiapkan tempat penyembelihan kambing, membersihkan sekitar sumur, memasak ubarampe, meletakkan ubarampe di pojok sumur, dan membuat bumbu-bumbu untuk memasak kambing.

Prosesi pelaksanaan Tradisi Rajab Sumur meliputi: membakar kemenyan, menyembelih kambing, mengantar iwak wedhus siji yang masih mentah ke pemasak sesajen, memasak kambing, membongkar tenong, membagi dalam takir, dan kenduri.

Pasca Pelaksanaan Tradisi Rajab Sumur yaitu setiap kepala keluarga mendapatkan satu takir di dalam besek atau cething masing-masing. Takir berisi daging kambing yang sudah dimasak dan dibagikan sebelum kenduri dimulai. Takir sisa dari pembagian tersebut dimakan bersama-sama setelah kenduri selesai. Takir yang berisi iwak wedhus siji juga dimakan bersama-sama.

Pelaksanaan Tradisi Rajab Sumur menggunakan beragam jenis ubarampe. Ubarampe merupakan salah satu unsur terpenting dalam sebuah tradisi kejawen. Pada umumnya, ubarampe diletakkan di dalam tenong. Tenong adalah suatu tempat yang berbentuk melingkar, terbuat dari anyaman bambu. Tenong terdiri dari alas dan tutup yang berfungsi untuk membawa dan meletakkan makanan.

Jenis ubarampe yang digunakan dalam Tradisi Rajab Sumur, antara lain: pala kependhem dan pala gumantung: simbol untuk mengucapkan rasa syukur terhadap bumi sebagai sumber rezeki, pelas buntil: simbol penghormatan kepada Dewi Fatimah dan Dewi Sri, godhong  dhadhap: simbol pengharapan masyarakat agar hatinya selalu tentram.

Ubarampe lainnya yaitu lauk pauk: simbol untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas masakan dari hasil bumi, kemenyan: simbol untuk memanggil arwah, ingkung ayam dan iwak wedhus siji: sebagai aqiqah walimahan, sega tumpeng: simbol mengungkapkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, dan lain sebagainya.

Melalui Tradisi Rajab Sumur, masyarakat dapat mengutamakan kebersamaan. Unsur kebersamaan itu seperti proses penyembelihan kambing, memasak bersama, makan bersama, dan doa bersama saat kenduri. Hampir semua warga mengikuti tradisi tersebut.

Dari dahulu sampai sekarang tidak ada konsekuensi untuk warga yang tidak mengikuti. Tradisi tersebut tidak bersifat memaksa. Keikutsertaan warga adalah kesadaran dan keikhlasan dari warga itu sendiri.

Masyarakat Desa Tegalrejo memiliki kepercayaan terhadap air sumur tempat pelaksanaan Tradisi Rajab Sumur. Sebagian masyarakat Desa Tegalrejo menganggap bahwa air sumur tersebut merupakan air keramat. Ada beberapa warga Desa Tegalrejo dan warga di luar Desa Tegalrejo memanfaatkan air sumur tersebut untuk ritual kejawen.

Kepercayaan terhadap air sumur masih tetap ada sampai sekarang. Hal tersebut tidak berarti bahwa masyarakat Desa Tegalrejo menyekutukan Tuhan. Kepercayaan terhadap air sumur tersebut melambangkan jika manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pada Tradisi Rajab Sumurterdapat beberapa larangan atau pantangan. Saat pelaksanaan tradisi tersebut, semua harus dilakukan oleh laki-laki. Memasak kambing dilakukan oleh laki-laki sebanyak empat sampai enam orang dan saat memasaknya tidak boleh dicicipi. Daging kambing dibagikan kepada warga saat kenduri.

Perempuan hanya memasak sesajen, itupun dilakukan oleh perempuan keluarga perangkat desa. Dahulu pernah ada warga yang melanggar pantangan, yaitu mencicipi bahkan menyate saat memasak kambing. Beliau sakit, dan sembuhnya setelah menebus dengan iwak wedhus siji. Sebenarnya musibah merupakan ketentuan dari Tuhan.

Tradisi Rajab Sumur disebut juga Tradisi Rejeb Sumur. Pada istilah ini terdapat perbedaan versi. Rajab adalah nama bulan dalam kalender Islam, sedangkan Rejeb adalah nama bulan dalam kalender Jawa. Istilah Rajab Sumur atau Rejeb Sumur memiliki makna selamatan yang dilaksanakan setahun sekali pada bulan RajabPersamaan dan perbedaan istilah tersebut ada karena kepercayaan masing-masing individu.