Merayakan momen dengan kesederhanaan, mengapa tidak? Cukup dengan tertawa lepas.

Tertawa adalah sumbangsih luar biasa untuk tiap momen. Rasanya, ada yang kurang jika tiada tawa mewarnai.

Maksudnya, ya bukan modal tertawa saja untuk perayaan momen. Tetap membutuhkan persiapan lain untuk menunjang hari-hari bahagia dalam hidup kita.

Namun, percaya atau tidak, tertawa menjadi hal yang paling penting. Tanpa menomorduakan aspek-aspek lain, tertawa memiliki kedudukan tersendiri bagi seseorang yang menilai sesuatu tidak selalu dari materinya.

Misalnya, kita bisa melihat dari cara orang berpose dalam tiap fotonya. Ada yang mengedepankan aspek materi dengan memamerkan barang-barang bermereknya. Ada juga yang hanya memamerkan tawa paling lepasnya.

Indah sekali melihat kesederhanaan pose foto tertawa lepas. Seperti tak ada beban hidup yang memberatkannya.

Beda, lho, pose tertawa yang direncanakan dengan yang tak sengaja tertawa. Hasil menakjubkan ini tak lepas dari si pemotret yang luar biasa lihai dalam mengambil gambar.

Tentu saja begitu. Soalnya, jika tertawa itu direncanakan, maka akan terlihat kaku. Nah, si pemotret yang pintar memanfaatkan situasi dan menyinkronkan dengan kamera akan menghasilkan gambar yang "manis".

"Manis" di sini berarti jauh dari kekakuan. Foto tersebut akan terlihat mengalir seperti air. Jarang pemotret yang bisa seperti ini, apalagi yang difoto bukan orang yang "paham" kamera.

Untuk sebagian orang yang masih "gagap" kamera, harus dipertemukan dengan pemotret yang bisa memahami dan berjiwa seni tinggi.

Orang-orang seperti ini bukan berarti harus berprofesi sebagai pemotret. Orang-orang awam seperti kita juga bisa menghasilkan foto "cair nan manis". Tidak harus mengeluarkan biaya mahal untuk sebuah foto. Gratis tis tis!

Kenapa demikian? Karena kecanggihan teknologi, tiap gawai ada fitur kameranya. Ya, cukup dengan meminta tolong kepada teman untuk mengambilkan gambar.

Sayangnya, tak semua teman yang kita mintai pertolongan untuk memotret adalah orang yang bisa memahami situasi dan menyinkronkan dengan kamera. Hasilnya, tentu saja foto-foto dalam bentuk yang kaku.

Yasudahlah, memang tak semua orang memiliki bakat itu (pemotret gratis, hehe). Namanya juga "minta tolong", pasti hasilnya berbeda dengan yang "bayar dong".

Eits, tapi foto satu ini sangat bagus, di mana objeknya tak terlihat kaku sekali. Aku sangat mengapresiasi temanku yang mengambilkan gambar ini.

Tak bosan-bosan aku memandang foto satu ini. Terlihat sekali tiada beban yang memberatkan, padahal sebenarnya tidak demikian. Jadi, di foto itu terlihat sangat bahagia tanpa beban. Dan, aku suka foto-foto seperti ini.

Tulisan ini adalah bentuk apresiasiku untuknya. Tidak selalu hal-hal "besar" yang harus diapresiasi. Hal remeh-temeh seperti hasil foto seorang teman sangat butuh diapresiasi.

Terima kasih, ya, temanku yang sudah menghasilkan foto sebagus ini. "Cair" sekali! Apalagi untukku yang tak begitu paham kamera, lebih sering terlihat kaku daripada "cair", sangat menyukai foto ini.

Meskipun aku tak pintar berpose di depan kamera supaya tak terlihat kaku, tapi aku menyukai pose yang terlihat "alami" tanpa dibuat-buat. Maka dari itu, harus bertemu dengan orang yang pintar mengambil gambar (lebih tepatnya pintar dimintai tolong memotretkan, hehe).

Sudah menjadi kewajaran jika kita bergantian dengan teman dalam hal pengambilan foto. Bersyukur sekali kali ini menemukan teman yang sesuai kehendak hati.

Soalnya, foto bukanlah sembarang asal ambil gambar dan selesai. Bukan seperti itu. Ada momen di balik foto itu. Ada cerita yang dikenang tiap kali melihat foto itu. Jadi, harus benar-benar menemukan satu foto yang bisa mewakili semua perasaan pada momen ketika foto itu diambil. Tak sekadar gambar saja. Tidak!

Aku memaknai sebuah foto bukan sebagai gambar remeh-temeh belaka. Foto memiliki arti yang dalam bagiku, karena tiap kali melihatnya, ada putaran ulang memori di otak mengenai peristiwa yang melatarbelakangi sebuah foto.

Beruntung sekali orang-orang zaman sekarang, mau foto di mana dan kapan saja bisa. Hanya dengan menggunakan gawai saja, sudah bisa menghasilkan foto yang bagus.

Memang seharusnya demikian, kita harus memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengabadikan momen-momen dalam hidup kita.

Dari sebuah foto, kita juga bisa menilai sesuatu. Ini sifatnya lebih pribadi sih. Sebagian orang ada yang bisa mengerti kepribadian orang lain melalui fotonya. Sayangnya, bagian ini terkadang hanya disimpan dalam hati untuk keperluan pribadi saja.

Nah, foto bukanlah hal sederhana. Ada banyak makna yang bisa tergali hanya dari sebuah foto. Dan, aku menyukai foto-foto yang posenya tidak dibuat-buat. Seperti tertawa lepas yang tak sengaja terambil gambarnya. Betul sekali, inilah yang paling kusukai.

Ketika melihat orang lain berpose seperti itu, rasanya ada keakraban tersendiri yang tercipta. Sama seperti ketika aku melihat foto seseorang yang tertawa lepas, ingin aku menjadi sebab dari tawa lepasnya itu, eaaa malah baper sendiri.