Tidak ada Indonesia tanpa masyarakat adat. Hilangnya satu suku menandakan lunturnya Indonesia kita. Di setiap daerah kaya akan budaya dan tradisi yang masih sangat dijaga kelestariannya. 

Tidak terkecuali, adat budaya Kutai yang kini dikembangkan sebagai atraksi budaya untuk mengembangkan pariwisata Bontang. Salah satu tradisi yang memiliki keunikan dan ciri khas adat Kutai yang ada di Kota Bontang namanya, Pesta Adat Erau Pelas Benua.

Pesta Adat Erau Pelas Benua berasal dari tradisi Keraton Kutai yang sudah diadakan sejak zaman dahulu dan masih dilestarikan oleh masyarakat Guntung hingga saat ini. Pada awal berdirinya Kota Bontang, masyarakat suku Kutai mayoritas tinggal di kelurahan Guntung. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini dikembangkan dan dijadikan daya tarik wisata oleh pemerintah.

Kini, Pesta Adat Erau Pelas Benua menjadi wisata budaya yang dimiliki oleh seluruh masyarakat Bontang dan mulai menarik perhatian banyak orang karena pesta adat tersebut terkenal dengan tradisi belimbur atau lebih dikenal dengan siram-menyiram yang memiliki makna filosofi didalamnya.

Erau berasal dari bahasa Kutai, eroh yang berarti ramai, riuh, atau keramaian. Pelas yaitu pembersihan kampung dari unsur-unsur negatif dengan melakukan ritual dengan memberi makan ke bumi dengan mengorbankan hewan dan darahnya dipercikan ke permukaan bumi.

Hal tersebut mengandung makna ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kehidupan dan rezeki. Erau Pelas Benua ini sebagai pesta yang mengandung makna bahwa kampung tidak saja bersih secara fisik tetapi bersih setiap jiwa yang penghuninya terlihat baik maupun jahat dari hal-hal jahat.

Erau Pelas Benua dilaksanakan setahun sekali biasanya di pertengahan tahun, antara bulan Juli-September. Kemarin, Erau Pelas Benua 2019 dilaksanakan di tanggal 3-8 September 2019 di kawasan pemukiman adat Kutai Guntung.

Adapun rangkaian acara Erau Pelas Benua ini dimulai pada tanggal 3 September 2019 dengan kegiatan pembukaan oleh Walikota Bontang sambil diiringi penampilan ragam suku tarian. Selanjutnya pada tanggal 4 September 2019 terdapat kegiatan lomba olahraga tradisional, lomba Tari Jepen kreasi antar kelurahan, dan lomba lagu daerah Kaltim antar kelurahan.

Pada tanggal 5 September 2019 terdapat kegiatan lomba belogo  tingkat RT, pertunjukan bemamai, final lomba daerah Kaltim, dan pengumuman pemenang lomba. Kemudian tanggal 6 September 2019, terdapat kegiatan lomba gasing, asen naga, dan hiburan etnis. Pada tanggal 7 September 2019, terdapat kegiatan lomba behempas bantal dan hiburan umum.

Kemudian di hari terakhir, tanggal 8 September 2019, diakhiri penutupan dan acara puncak belimbur atau siram-menyiram. Bepelas benua, belian, dan puncak belimbur merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu bagi warga Bontang.

Sebelum acara Erau Pelas Benua, ribuan warga Bontang dan adat Kutai melakukan bepelas benua atau keliling menuju empat titik kota Bontang, sambil ritual memercikan darah hewan ke empat titik lokasi tersebut. Ritual ini memberikan makna mengenai persembahan kurban kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai rasa syukur atas rezeki yang diberikan.

Tak hanya keliling saja, ribuan warga Bontang juga dapat menyaksikan belian atau upacara adat Kutai pada pagi hingga malam hari untuk menjauhkan dari musibah dan membebaskan dari segala penyakit.

Pasukan belian berjalan demi selangkah sambil membawa juhan tujuh tingkat yang berisikan kalengkang selungkit, didalamnya terdapat nasi, tambak, dan nasi beragi ayam panggang. Makanan tersebut dibuat oleh warga Guntung dengan menggunakan cara tradisional adat Kutai dan proses pembuatannya juga dilakukan di rumah-rumah warga Guntung.

Dalam upacara belian terdapat dukun adat melakukan tari-tarian seolah-olah sedang berkomunikasi dengan roh. Kemudian dukun tersebut menaruh makanan dan sesajen yang dibawanya untuk para dewa yang turun ke bumi.

Upacara belian diikuti oleh warga adat Kutai, dukun adat, dan sejumlah warga Bontang yang ikut menyaksikannya. Pakaian yang mereka kenakan serba kuning seperti warna bendera Kerajaan Kutai yang menandakan seorang dewa. Nuansa upacara Belian semakin khidmat yang dilengkapi dengan musik-musik oriental adat Kutai.

Begitu acara puncak belimbur atau siram-menyiram dimulai maraknya warga Bontang dan sejumlah wisatawan dari luar negeri saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat adat Kutai. Air yang telah disediakan sampai tumpah-tumpah, mereka berusaha sekuat tenaga sampai berlari-lari untuk saling siram.

Yang tak kalah meriahnya lagi, pembukaan Pesta Adat Erau Pelas Benua dihadiri oleh Walikota Bontang, Neni Moerniaeni dan Sultan Kutai XXI, Ing Martadipura Adji Pangeran Keumo Putro yang ditandai dengan menyalakan obor brong dan pendirian rondong ayu.

Walaupun warga Bontang suka sibuk dengan pekerjaannya demi mencari sesuap nasi, mereka masih tetap melestarikan tradisi adat yang mengadung makna filosofi di dalamnya. Terdapat dua tradisi yang ada di Kota Bontang yaitu Pesta Adat Erau Pelas Benua dan Pesta Laut Bontang Kuala. Dengan adanya tradisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas budaya lokal dan toleransi antar sesama warga Bontang.

Dapat dibuktikan ketika Walikota Bontang, Neni Moerniaeni, sedikit menyampaikan pepatah bahwa "Kota Bontang sangat komitmen terhadap pelestarian budaya, walaupun pemerintah pusat menetapkan Bontang sebagai kota gas dan kondensat yang diapit dua obvitnas. 

Tetapi sebagai warga yang baik, kami akan senantiasa mempertahankan budaya. Kedepan Guntung akan kami jadikan destinasi wisata budaya leluhur". Penyampaian Walikota tersebut ditulis oleh Pemkot Bontang dan dimuat melalui media online “Aktual dan Menginspirasi” pada 4 September 2019.

Wahai kaum millenial yang berada di Kota Bontang!. Perlu diketahui bahwa Bontang ini terdiri dari berbagai suku dan etnis. Pentingnya menjaga unggah-ungguh antar sesama warga seperti dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika “ walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu”.