Penerapan physical distancing akibat merebaknya pandemi virus korona memaksa sebagian besar universitas untuk menerapkan kebijakan kuliah daring (online). Terhitung sudah dua bulan berlalu sejak metode belajar mengajar tersebut diterapkan. 

Bagi para mahasiswa, ujung semester genap kali ini sudah di depan mata. Akan tetapi, tampaknya masih belum menemukan tanda akan kembali seperti sedia kala—masa sebelum pandemi merebak. Sehingga, tak menutup kemungkinan apabila metode kuliah daring akan mengalami perpanjangan hingga akhir tahun ini. 

Kuliah daring tentunya memiliki tantangannya sendiri, mengingat metode ini sebelumnya sangat jarang bahkan belum pernah diterapkan di beberapa universitas. Adapun kendala teknis seperti jaringan internet, besarnya kuota yang digunakan, hingga lingkungan sekitar yang tak mendukung sering kali menjadi keluh kesah para mahasiswa ketika menghadapi budaya baru ini.

Meskipun demikian, ternyata banyak makna yang diberikan dari metode pembelajaran secara daring tersebut. Yuk kita simak apa saja maknanya!

1. Makin Dekat dengan Orang Rumah

Sebelum pandemi virus korona mewabah, para mahasiswa biasanya menghabiskan sepanjang harinya di kampus. Entah itu berkutat dengan jadwal kuliah, kegiatan organisasi, ekstrakulikuler hingga kerja kelompok. 

Oleh karenanya tak jarang jika mahasiswa lebih banyak berada di luar rumah dibanding di dalam rumah. Waktu untuk berbincang dan bertatap muka dengan orang di rumah—entah itu ayah, ibu maupun saudara, menjadi lebih sedikit pula. 

Namun, setelah pandemi merebak, kebijakan kuliah daring telah meningkatkan kemungkinan mahasiswa untuk tetap berada di dalam rumah. Sehingga para mahasiswa tidak perlu lagi menunggu waktu liburan datang untuk menyempatkan diri berbincang empat mata serta menghabiskan quality time dengan orang tersayang di rumah.

2. Relatif Lebih Hemat

Kegiatan perkuliahan di luar rumah tak jarang merogoh gocek kantong mahasiswa. Adapun pengeluaran seperti makan, uang ngeprint dan fotocopy hingga ongkos transportasi sering kali menjadi alasan uang jajan ludes dalam sehari. 

Akan tetapi, dengan adanya kuliah daring ini, pengeluaran tersebut relatif lebih rendah daripada biasanya. 

Selain menghemat uang yang kita keluarkan, kuliah daring juga menghemat tenaga dan kertas yang kita pakai. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa tak perlu bersusah payah untuk bersolek dan datang ke kampus untuk menghadiri kuliah yang ada. 

Dengan kuliah daring, cukup dengan menyalakan komputer dan internet saja, mahasiswa sudah dapat menghadiri kuliah yang ada. Tugas dan materi yang diberikan pun dikumpulkan dalam bentuk soft file sehingga tak perlu menghabiskan banyak sumber daya kertas. Wah, sangat bermanfaat ya, sobat!

3. Tidak Hanya Kuliah

Kuliah daring ternyata memberikan fleksibilitas kepada para mahasiswanya. Sebelum pandemi merebak, fokus dan tenaga para mahasiswa cenderung terarah pada penuntasan kewajiban berupa kuliah fisik, tugas, serta kegiatan organisasi. 

Namun setelah pandemi, mahasiswa dapat dengan leluasa melakukan hal-hal baru di luar rutinitas perkuliahannya. Adapun hal-hal baru tersebut berupa mencoba hobi baru, mengasah kemampuan di luar bidangnya hingga berkreasi pada hal baru. 

Mengingat hal tersebut didukung dengan lebih banyaknya waktu luang yang tersedia akibat dari penerapan kuliah daring serta banyaknya platform online yang menyediakan fitur gratis kala pandemi ini. Tentunya kesempatan tersebut akan sangat amat disayangkan apabila dilewatkan begitu saja. 

4. Belajar Mengatur Waktu dengan Baik

Kuliah daring ini secara tidak langsung memaksa para mahasiswa untuk dapat memanajemen waktunya sebaik mungkin. Hal tersebut dikarenakan adanya tantangan baru terkait keseimbangan antara kehidupan perkuliahan dengan kehidupan sehari-hari. 

Para mahasiswa dituntut untuk menuntaskan kewajiban kuliahnya. Namun di sisi lain, para mahasiswa juga memiliki sejumlah agenda kegiatan di rumah. 

Sehingga, tak jarang mahasiswa membuat jadwal untuk mengatur waktunya agar dapat menciptakan keseimbangan antara belajar dengan kegiatan ­non-belajar. Tentunya jika tak ada pengaturan waktu yang baik maka keseimbangan antara belajar dengan kegiatan waktu sulit untuk tercapai.  

5. Memahami Pentingnya Tatap Muka

Sebelum physical distancing diterapkan, sebagian dari kita banyak yang menyia-nyiakan kesempatan bertemu face-to-face yang ada. Baik itu bertemu dengan teman maupun bertemu dengan dosen di kelas. Tak jarang pula yang memilih untuk bermain gawainya ketika kesempatan tatap muka berlangsung. 

Namun, setelah kesempatan bertatap muka menjadi sulit selama masa pandemi ini, membuat pertemuan secara fisik terasa sangat penting dan krusial. Bahkan alternatif seperti kuliah daring pun tidak secara sempurna dapat menggantikan peranan dari kuliah bertemu secara fisik. 

Sehingga, dengan merasakan sulitnya bertemu langsung dengan orang lain, harapannya kita dapat menghargai setiap detik pertemuan yang ada ke depannya.

Nah, setelah mengetahui makna dari penerapan kuliah daring di atas, semoga kita semua dapat mengambil hikmah serta hal positif yang terjadi dari “bencana” yang sedang kita alami saat ini. Sehingga kita dapat menghadapi wabah ini dengan tulus ikhlas dan bersama-sama mengakhiri wabah ini dengan baik. 

Dengan hati serta pikiran yang positif, kita pasti bisa!