Pada sebuah sesi akhir ujian sidang yang di kampus saya, Universitas Sumatera Utara terkenal dengan nama Sidang Meja Hijau, saya bertanya kepada mahasiswa bimbingan saya,

“Apa yang kamu rasakan selama dibimbing saya?”

Mahasiswa saya mulai terisak. Saya kaget. Ia terkenal sebagai mahasiswa yang “jagoan” meskipun perempuan. Ia terkenal galak saat membina mahasiswa. Namun di hadapan saya dia tertunduk malu. Lalu kata demi kata terucap sambil air matanya menetes.

“Saya awalnya mengira bapak itu keras dan killer. Beberapa senior pernah bilang, susah kalau dibimbing Bapak. Tapi semua anggapan saya salah.”

“Hmmm…menarik ini.” Bisik saya dalam hati sambil memperbaiki sikap duduk saya agar nampak serius.

“Bapak sangat sabar membimbing saya. Sampai hal yang kecil mau mengajari saya.”

Saya mulai garuk-garuk kepala, benarkah saya sesabar dan sebaik itu. Tahan, jangan melayang dulu, ia belum selesai. Jangan-jangan saya dihempaskan di akhir kalimatnya. Mahasiswa saya lalu melanjutkan,

“Saya ucapkan terima kasih atas bimbingan Bapak. Saya tidak bisa membalas segala kebaikan Bapak, huhuhuuuuu.”

Tangisan asli benar-benar pecah. Mahasiswa jagoan, pinter, galak, anak gunung dan hutan ini pecah tangisnya saat ujian. Ia :bertekuk lutut dihadapan saya. Cieee

Tapi jangan bangga dulu ya. Setelah itu pertanyaan yang sama saya sampaikan setiap habis ujian kepada mahasiswa bimbingan saya. Hasilnya juga sama. Tetap menangis sambil memuji tapi dengan ekspresi yang berbeda. Juga beberapa mahasiswa bukan bimbingan saya juga menangis saat mengucapkan ucapan akhir jelang ujian selesai.

Saya merenung sejenak, apa makna tangisan dan lelehan air mata mereka. Saya menemukan beberapa hasil analisa meski tidak ilmiah, tapi saya meyakini ini berdasarkan pengalaman saya mengajar dan membimbing mahasiswa lebih dari 15 tahun.

Air mata menunjukkan banyak makna. Ia bisa berarti kebahagiaan, kegembiraan dan rasa haru atas kesuksesan. Atau ba bisa sebaliknya yaitu kesedihan,  kesakitan atau rasa pilu. Menangis adalah respon alami dari tubuh terhadap emosi. Saya sempat menanyakan ke mahasiswa usai ujian, mengapa mereka menangis.

Air mata mahasiswa mengucur usai ia ujian menunjukkan betapa akhir perjuangannya bisa tuntas. Ia sudah melalui banyak onak dan duri dalam belajar. Perjalanan studinya yang tak selalu mulus akhirnya bisa dilaluinya.

Ada mahasiswa selama dibimbing dosennya sering membuat kesalahan. Ada yang menjadikan kesalahan ini sebuah pelajaran berharga. Namun ada yang menghindarinya sehingga ia malah menambah masalah baru yaitu menghilang dari dosennya. 

Mahasiswa yang belajar dari kesalahan dan akhirnya lulus sangat rasanya mendapatkan “kebebasan hidup” dari koreksi bertubi-tubi dosennya, hehehe. Kemerdekaan dari perbaikan draft skripsi dari dosen adalah momen yang harus dirayakan dengan tetesan air mata.

Ada mahasiswa menangis usai ujian sidang karena amanah dari orang tuanya sudah dituntaskan. Amanah agar lulus menjadi sarjana adalah tugas maha berat khususnya mahasiswa dari kampung. Ia membayangkan emaknya akan memeluk erat dan ayahnya akan mengadakan hajatan tujuh malam berturut-turut. Mungkin itulah bayangan di benak mahasiswa usai ujian sehingga air matanya mengucur.

Nah ini ada lagi yang unik. Mahasiswa meneteskan air mata usai ujian karena dalam kondisi gamang. Satu sisi ia lulus tapi sisi yang lain perbaikan dari hasil ujian sidang begitu mengerikan. Ia tidak sanggup membayangkan dan akhirnya meneteskan air mata. 

Habis ini ia membayangkan bakalan gak bisa piknik, karena perbaikannya sama saja bikin skripsi baru, hahaha. Kapok dah.

Terakhir, ada mahasiswa meneteskan air mata, mengingat bahwa tadinya orang tuanya harus cari pinjaman buat bayar uang SPP lagi kalau sampai ujiannya mengulang. Ia sangat bahagia, emaknya gak jadi ngutang kemana-mana buat bayar SPP semester baru karena ia berhasil lulus. 

Laksana bebas dari kejaran debt collector, mahasiswa ini tak kuasa mengalirkan air matanya di hadapan dosen-dosennya. Tapi ini gak diucapkan saat ujian ya.

Eh tapi ada mahasiswa yang tidak bisa meneteskan air mata usai ujian sidang. Apa itu? Ia adalah mahasiswa yang disuruh mengulang ujian karean gagal alias tidak lulus. Ia susah mengalirkan air mata di depan dosennya. Entah kenapa, mungkin menangis atau meneteskan air mata yang ia skenariokan sebelumnya beda dengan suasana hati kenyataanya.

Dari beragam ekspresi mahasiswa yang menangis usai ujian sidang, menunjukkan bahwa mahasiswa setidaknya memiliki tanda-tanda sikap positif. Menurut situs Magister Psikologi Universitas Medan Area ada enam fakta psikologis orang yang mudah menangis. Dari enam fakta yang dipaparkan lima diantaranya menunjukkan makna yang positif. Lima hal positif tersebut anatara lain :

Pertama, orang yang mudah menangis tidak mudah stres. Kedua, orang yang mudah menangis memiliki kecerdasan emosi yang lebih unggul. Ketiga, orang menangis adalah bentuk kejujuran tanpa memandang gender. Keempat, mereka yang menangis lebih kuat secara fisik dan mental. Kelima, menangis adalah salah satu bentuk kejutan.

Beberapa fakta mahasiswa yang menangis usai sidang yang saya sebutkan diatas mewakili makna positif secara psikologis. Menangis bernilai positif bila dilakukan secara alamiah. Positif maknanya bila menangis terjadi secara spontan tanpa paksaan.

Saya menilai mahasiswa yang menagis saat ujian sidang sebagai sebuah emosi yang alami tanpa dibuat-buat.  Secara umum mahasiswa belum banyak mencicipi asam garam kehidupan nyata. Tangisan mereka lahir dari kelembutan hati. Tangisan mereka bukan bentuk kelemahan. 

Tangisan mereka adalah bentuk kejujuran, kewajarann dan kecerdasan emosi . Ekspresi menangis usai sebuah kesuksesan lulus dari momen besar adalah ekspresi yang wajar bahkan seharusnya.  

Terpesona. Saya terpesona melihat tangisan mahasiswa. Bahagia. Saya bahagia melhat tetesan air mata mahasiswa. Bila mereka bisa menangis berarti mereka masih punya hati yang lembut.  Mereka yang bisa menagis berarti masih memiliki mental yang sehat dan sisi positif. 

Saya merasa bahagia karena saya tidak hanya bisa membimbing mahaiaswa memiliki nalar, logika dan berpikir analitik, tapi juga mampu menggunakan emosinya secara cerdas. Saya malah agak curiga bila melihat mahasiswa tidak bisa meluapkan emosinya usai lulus sidang dengan sedikit saja air mata.

Semoga tangisan di ujung masa studi mahasiswa ini menjadi modal untuk memelihara kelembutan hati, kejujuran dalam bersikap dan mampu melepaskan emosi dari tekanan stress dan cara menjaga kesehatan mental. Ini merupakan modal besar untuk menjadi sosok yang sukses di dunia pasca kampus nantinya.