Isu toleransi selalu menarik dibicarakan. Bahkan LSM maupun organisasi sipil di Indonesia sangat sering melakukan penelitian terkait isu ini. Umumnya penelitian dilakukan secara deskriptif dengan sederet angka persentase. Penelitian terus dilakukan, namun sayang intoleransi tetap tumbuh subur.

Sebagai negara dengan keragaman agama dan suku serta ras, Indonesia berpeluang menjadi negara barbar. Sebaliknya, Indonesia berpeluang pula menjadi contoh keragaman yang harmonis.

Politik identitas yang akhir-akhir ini begitu kuat muncul ke permukaan menimbulkan ancaman disintegrasi bangsa. Karenanya tak bisa dianggap sepele apalagi didiamkan. Bukan hanya urusan politik, persoalan agama juga mengalami pembelahan. Intoleransi terhadap yang berbeda agama maupun seagama, namun beda pemahaman kerap terjadi.

Beberapa penelitian menyebutkan fanatisme agama menjadi sumber intoleran dalam beragama. Padahal kebebasan beragama dijamin dalam konstitusi negara kita.

Satu studi yang dilakukan tim LIPI mengidentifikasi sikap intoleran dilihat dari identitas agama dan etnis. Studi itu dilakukan tahun 2018 dengan metode SEM (Structural Equation Modelling).

Dari beberapa temuan mereka, yang menarik ialah makin sekuler seseorang, makin tinggi sikap tolerannya. Sebaliknya, fanatisme agama menunjukkan sikap intoleran.

Sekuler dalam penelitian itu diukur bukan hanya terkait nilai keyakinan dan agama yang dianut seseorang. Lebih dari itu, sekuler juga terkait pandangan seseorang tentang peran negara dalam melindungi hak warga negara yang berbeda agama.

Ada pemahaman di kalangan sementara orang bahwa sekuler berarti kurang patuh atau taat beragama. Namun saya kurang setuju dengan pendapat itu. Saya menilai sekuler terkait keilmuan seseorang. Mereka tidak menganggap agama sebatas warisan, namun sebuah temuan.

Mendudukkan agama sebagai temuan berarti beragama secara berakal. Akan beragama secara subtantif ketimbang formalistik. Bila agama hanya sebatas warisan, tidak ada usaha mengembangkan nilai-nilai agama tersebut.

Muncul fanatisme yang dengan semena-mena menganggap apa yang dipercaya orang lain salah besar. Harusnya agama dapat beradaptasi dengan perbedaan-perbedaan. Pada saat itulah dibutuhkan kecerdasan kultural.

Kecerdasan kultural terkait dengan kemampuan seseorang secara kognitif dan afektif dalam beradaptasi dan mengelola lingkungan budaya yang berbeda. Kecerdasan ini membantu kita hidup harmonis di antara perbedaan-perbedaan. Kita tidak terburu-buru bereaksi negatif terhadap keyakinan yang berbeda. Kita lebih mengedepankan dialektika ketimbang kekerasan dalam menyiasati perbedaan.

Seorang yang sekuler bukan memisahkan kehidupan bernegara dan agama sebagaimana lazimnya dipahami segelintir kita. Namun ia mampu memasukan nilai-nilai agama dalam kehidupan bernegara. 

Mereka menolak formalisasi ajaran agama dalam kehidupan bernegara, terlebih politisasi agama. Bagi mereka, yang utama adalah nilai agama diimplementasikan dalam kehidupan bernegara.

Mereka menolak khilafah dan memilih demokrasi. Bukan karena khilafah buruk, namun demokrasi lebih representatif. Bagi mereka, yang terpenting ialah bagaimana demokrasi memiliki nilai spiritual. 

Demokrasi dijalankan dengan jujur, bukan dengan kecurangan apalagi melibatkan kekuasaan. Demokrasi menghadirkan toleransi bukan barbar. Nilai ini kita dapati dalam Islam maupun agama lain yang memiliki subtansi kedamaian.

Dalam Islam, ajaran toleransi termaktub dalam surah Al-Kafirun. Toleransi bukan mengikuti keyakinan agama lain, bukan pula memaksakan keyakinan pada orang lain. Toleransi berarti dapat menjalankan ibadah dengan bebas tanpa hambatan maupun penolakan.

Kehidupan bernegara harus bebas dari sikap intoleran. Harus bebas dari agama yang hanya dijadikan warisan. Agama harus dikembangkan menjadi sesuatu yang berkah. Dalam hal ini, agama menambah kebaikan bukan sebaliknya. Agama menjadi pemersatu bangsa ini usai pesta demokrasi yang merobek tenunan kebangsaan kita.

Jadi, seorang sekuler bukan agnostik maupun ateis bukan pula kelompok yang tidak taat beragama. Mereka adalah orang-orang yang beragama secara subtantif bukan formalistik.

Bagi mereka, agama bisa berkolaborasi dan berdampingan dengan kebutuhan zaman. Itu artinya agama dan sains saling mendukung, bukan saling curiga. Agama dan politik bisa bekerja sama, bukan saling menistakan apalagi saling menunggangi.

Keragaman agama di Indonesia merupakan modal, bukan alat untuk saling mencaci apalagi membunuh. Melalui perbedaan agama, seorang penganut akan makin bersyukur pada agama yang dianut.

Seorang yang sekuler tidak ingin agama dijadikan pemecah. Biarlah agama diposisikan pada tempatnya. Biarlah agama mengisi batin yang sudah tercemari kerakusan harta dan takhta.

Menggunakan agama dalam politik tidak dilarang selama agama tidak dipolitisasi. Tapi yang terpenting bagaimana nilai-nilai agama memasuki ruang politik kita yang kosong. 

Melalui pemahaman agama yang benar, kita akan menemukan pemahaman pentingnya keharmonisan dalam perbedaan. Jadi, sekuler bukan musuh agama, namun cara lain mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan beragama.

Hanya fanatisme agama yang membenci orang-orang sekuler. Mereka tidak siap dengan dekonstruksi. Mereka anggap dekonstruksi sebagai pelecehan atas apa yang pahami selama ini.

Padahal dekonstruksi hanya menunda sebuah pemaknaan yang selama ini sudah dianggap benar. Padahal keterbukaanlah yang membuat kita mendapat hidayah kebenaran. Setujuhkah Anda bila dikatakan makin sekuler makin tinggi sikap toleran?