“Mohon maaf Bu, saya sudah diterima kerja di perusahaan A.”

Begitulah para pencari kerja itu menolak tawaran kerja dari saya. Minggu ini, saya sudah ditolak tiga kali, setelah melalui berbagai tahap rekrutmen mulai dari seleksi administrasi, sesi wawancara, tes tulis dan psikotes, hingga surat tawaran kerja diterbitkan bagi kandidat yang lulus semua tahap tersebut. Bukan proses yang singkat tentunya, setidaknya perlu satu hingga dua minggu bagi kami untuk menyeleksi kandidat satu per satu.

Alih-alih merasa kecewa, sebagai seorang recruiter, saya justru merasa bahagia mendengar kandidat tersebut menolak tawaran kerja saya dengan alasan sudah mendapat pekerjaan lain. Meski itu artinya saya harus mengulang proses seleksi mulai dari memasang iklan lowongan pekerjaan lagi. Membayangkan betapa bahagianya keluarga dan orang - orang terdekat kandidat tersebut membuat hati saya bersyukur, apalagi jika mereka adalah tulang punggung.

Bagi saya, dengan begitu tugas saya membantu kandidat tersebut untuk mendapatkan pekerjaan telah tertunaikan dengan baik, meskipun pada akhirnya bukan bekerja untuk perusahaan kami. Selalu saya selipkan pesan pada kandidat yang menolak saya bahwa saya akan memasukkan namanya ke dalam talent pool , dan memintanya untuk keep in touch , agar jika suatu saat saya punya lowongan yang sesuai dengan kualifikasinya, dan kebetulan dia sedang mencari pekerjaan atau ingin berpindah tempat kerja, saya bisa memanggilnya lagi.

Namun mungkin tidak demikian dengan saya  10 tahun yang lalu. Saat jiwa muda saya masih menggebu-gebu melihat segala proses kehidupan ini seharusnya berjalan linier dan teratur. Di fase itu, saya akan memandang penolakan dari kandidat itu sebagai sesuatu yang menyebalkan, tidak profesional, dan buang-buang waktu. Lambat laun, saya mulai belajar, bahwa ketika saya mulai berkomitmen untuk menekuni dunia Human Resources, maka saya juga harus siap menghadapi manusia dengan segala dinamikanya, dan selalu mampu mengambil sisi positif darinya.

Mungkin hal ini terdengar klise, namun dinamika kehidupan manusia kadang memaksa kita untuk mengambil pilihan yang tidak selalu mudah. Sering kali para pencari kerja dihadapkan dengan terbatasnya lowongan pekerjaan yang sesuai dengan passion atau keahlian mereka, hingga akhirnya mereka terpaksa melamar pekerjaan seadanya saja. Lalu saat proses rekrutmen berlangsung, kandidat tersebut tiba-tiba menemukan perusahaan lain memasang lowongan pekerjaan yang sesuai dengan passion atau keahliannya.

Dalam situasi tersebut perusahaan dan kandidat dalam posisi kemungkinan yang sama, 50-50. Perusahaan dapat menolak kandidat karena tidak memenuhi kualifikasi, dan kandidat dapat menolak perusahaan karena mendapat kesempatan lain yang sesuai passion dan keahlian. Dalam kasus lainnya, bisa saja seorang kandidat mendapatkan penawaran kerja yang sama - sama sesuai passion-nya, dan dengan segala pertimbangan matang ia harus memilih salah satunya, dan menolak yang lainnya.

Ilustrasi tersebut hanya salah satu contoh kecil dalam dinamika rekrutmen, masih banyak lagi faktor- faktor lain seperti masalah keluarga, jarak ke tempat kerja, besaran gaji yang ditawarkan, dan lain-lain. Jadi, kenapa harus kesal? Bukankah kita semua juga pernah mengalami hal tersebut?. Dalam situasi seperti inilah rasa empati kita terhadap sesama manusia diuji. Kemampuan  kita menempatkan diri pada sepatu orang lain menunjukkan kualitas pribadi kita.

Begitulah saya menikmati peran saya di dunia Human Resources hingga mampu bertahan dan tetap enjoy bekerja sampai saat ini. Penolakan demi penolakan dalam proses rekrutmen tidak lagi menjadi sesuatu yang menyebalkan, melainkan sesuatu yang harus disyukuri. Karena dengan semakin banyaknya penolakan, maka makin banyak jiwa yang terselamatkan dari pengangguran. Bekerja juga tidak melulu tentang pencapaian, kadang kegagalan justru memberi banyak pelajaran yang membuat kita menjadi lebih bijaksana. Dengan semakin seringnya saya melakukan proses rekrutmen, skill dan insting saya juga akan makin tajam terasah.

Bagi para pencari kerja yang masih berjuang di luar sana, tetaplah bersemangat, jangan takut mencoba kesempatan dan peluang baru. Ada jutaan pintu rezeki diluar sana, dan yang perlu anda lakukan adalah tetaplah mengetuk!. Sembari terus berusaha mencari kerja, persiapkan diri anda dengan baik. Pastikan curriculum vitae anda selalu up-to-date, dan pelajari skill-skill baru yang bisa menjadi nilai tambah anda di mata perusahaan. Selalu jaga motivasi dan perluas networking anda dengan berpartisipasi aktif dalam organisasi - organisasi profesional.

Bagi para recruiter dan pelaku bidang Human Resources, tetaplah istiqomah pada prinsip kita dalam ‘memanusiakan manusia’, membantu mereka menemukan potensi terbaiknya demi men-support perusahaan dalam mencapai goal-nya. Tak perlu lekas marah atau kesal saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai harapan,  karena jika anda benar benar menghayati pekerjaan ini, anda akan menemukan bahwa kenikmatan dan kepuasan terbesarnya adalah saat anda mampu menyelam tanpa harus tenggelam dalam dinamika manusia, sama seperti memilih menari dalam hujan, saat orang lain menggerutu takut kebasahan.