Sambil rebahan di kasur, terbayang sejenak, "Besok mau ke kampus pakai baju yang mana, ya?" Ini model pertanyaan empat tahun lampau ketika semester awal perkuliahan. Memikirkan outfit of the day (OOTD) keesokan hari lebih menyita waktu daripada persiapan kuliah perdana itu, hehehe.

Pikiran disibukkan akan hal-hal remeh-temeh. Misalnya, pencarian baju-baju di lemari dan padu-padannya. Baju hijau, hijabnya juga harus hijau dong. Kalau kata orang mah, "Biar matching." Belum lagi sepatunya, mau model pansus atau kets. Halah, aku dulu ribet banget pokoknya.

Sebagai pembelaan diri, itu semua wajar-wajar saja. Sebab, masih masa peralihan dari SMA ke perguruan tinggi. Yang tadinya tiap hari berseragam, sekarang bebas berpakaian asal sopan. Pun segudang karakteristik masih dipengaruhi masa-masa remajaku yang serbaribet. Baju warna ini harus beli jilbab warna ini biar serasi. Pokoknya, dari ujung kepala sampai kaki tiada yang terlewat disoroti.

Keribetan yang hakiki adalah menjelang hari raya Idulfitri. Kenapa? Ya itu tadi, dari ujung kepala hingga kaki harus serbabaru. Tak mengherankan jika lemari penuh pakaian aneka warna bagai taman bunga. Ckckck.

Mengenang masa-masa itu menjadi perihal paling menggelikan. Alangkah ribetnya aku masa-masa yang lalu. Menatap lemari nan warna-warni bak pelangi malah menjadi garuk-garuk kepala sendiri. "Kok bisa ada baju seperti ini di lemari (pura-pura amnesia)?"

Selera berpakaianku waktu itu memang ekstrem, semua model terbaru wajib dibeli. Hingga perjalanan panjang ini mengubah seluruh hidupku, termasuk selera berpakaian. Perubahan yang sebagian besar dibentuk oleh ibuku sendiri. Dia lebih memikirkan kualitas daripada kuantitas.

Hal menakjubkan adalah pakaian si ibu yang sekarang diwariskan kepadaku. Semuanya masih terlihat baru, modelnya tidak kuno, bahannya berkualitas, dan tiada kesan lawas. Padahal pakaian itu telah seperempat abad lewat.

Aku suka semua pakaian yang diberikan ibu kepadaku. Bahkan menjadi pakaian terfavorit dan kesayangan.

Solusi dari aneka pakaian fase perfase hidupku adalah agenda bongkar lemari. Tiap ada waktu luang kusempatkan mengobrak-abrik isi lemariku dan menyusun baju-baju yang simpel-simpel saja; kemeja polos, kaus, baju rajut. Pakaian "pelangi" otomatis kuberikan pada saudara-saudaraku yang mau menerimanya; yang tidak mau, ya dimasukkan kardus.

Sudah jarang banget beli pakaian. Yang dipakai juga cuma itu-itu saja; warna hitam, dongker, pink, cokelat. Aku sekarang menyukai semua kesimpelan. Dari pakaian, gaya hidup, pun pencarian pasangan.

Lebih menikmati yang ada, tidak lagi mengharapkan yang belum ada. Dan, tak memaksakan apa-apa yang belum kupunya. Apalagi masalah warna harus beli ini-itu, sudah tak terpikir. Mungkin aku harus lebay seperti dulu baru merasakan nikmatnya kesederhanaan seperti saat ini.

Prinsip dulu: tidak ada, ya diusahakan harus ada. Prinsip sekarang: ada, ya disyukuri; tidak ada, yasudah.

Beralih ke perihal perasaan. Rumit adalah kemutlakan. Sudah tentu kuhindari. Sudah kubilang, aku benci dengan kerumitan!

Dalam suatu hubungan yang membutuhkan dua orang, pasti susah sekali menemui "searah dan sejalan". Entah kenapa, aku menemui kelelahan yang sangat terhadap segala kerumitan hidup ini. Maunya rebahan saja gitu, termasuk "merebahkan" perasaan.

Tiada lagi selera berhubungan dengan lawan jenis yang penuh keklisean. Apakah aku masih normal? Sangat, hanya saja aku perlu menarik napas sejenak dan menata ulang hatiku. Ternyata, menjadi dewasa itu simpel sekali; rumit, tinggalkan!

Jika dulu aku harus punya pasangan, sekarang bingung gunanya pasangan untuk apa. Apakah berguna jika hanya menguras perasaan? Tidak. Yang ada malah menambah beban pikiranku. Itu artinya kerumitanku bertambah kuadrat.

Aku tak lagi memaksa. Pun tak ingin bersama siapa-siapa dulu. Hingga aku bertemu sosok yang mampu menyederhanakan hidupku, bukan justru mempersulit.

Semakin bertambah umur; semakin berkurang jatah hidup di dunia. Agaknya ini yang memantik kesadaranku untuk berlama-lama bercengkrama dengan kesederhanaan hidupku saat ini. Rasanya, tak ingin dicemari dengan kerumitan model apa pun.

Melangkahkan kaki sendirian, why not? Tidak ada perintah harus ke mana-mana berpasangan, bukan? Tak ada sama sekali ketakutan dalam kesendirianku. Aku lebih takut bersama dengan "sesuatu/seseorang" yang pada akhirnya merusak kenyamananku.

Duduk sendiri sambil ngopi terasa lebih nikmat daripada adu mulut dengan pasangan. Yakinlah, akan tiba saat-saat yang melelahkan dalam hidup ini dan hanya ingin sendiri saja. Kenapa? Karena tidak ada yang mengerti diri selain pemiliknya (individu itu sendiri).

Bukan menyarankan menjadi individualis, tapi bijak memilah itu lebih baik. Ada kalanya harus berbaur dengan masyarakat; ada kalanya harus merenung sendiri. Agar hidup menjadi harmoni.

Makin bertambah usia, idealnya makin dewasa. Ya, dewasa pola pikirnya dan penuh penerimaan atas diri. Tidak ribet membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Intinya, makin dewasa pasti ingin yang sederhana saja.