Tentunya kita sudah tidak asing dengan slogan "gak ada lu gak rame", yang menggambarkan serunya kedekatan dalam hubungan pertemanan.  Saya mencoba menebak-nebak karakter seseorang yang disebut "lu" dalam slogan tersebut, yang bisa membuat suasana pertemanan menjadi ramai.

Kemungkinan pertama "lu" adalah seseorang dengan karakter friendly, yang bisa membuat hubungan pertemanan menjadi seru dan menyenangkan. Kemungkinan kedua "lu" adalah seseorang yang bisa membuat hubungan pertemanan menjadi ramai dengan pemikirannya yang ruwet.

Keberadaan makhluk dengan pemikiran ruwet ini sebenarnya menghadirkan dinamika. Kita jadi menyadari bahwa setiap manusia mempunyai isi kepala yang berbeda dan pribadi yang unik. Keunikan ini menjadi pembeda manusia satu dengan yang lainnya, dengan karakter dan keruwetan masalahnya masing-masing.

Contoh yang paling ekstrim dari perbedaan karakter ini, dapat kita lihat pada sebuah sinetron. Coba kita bayangkan, bagaimana jadinya sinetron tanpa tokoh antagonis. Pastinya jalan cerita sinetron akan terasa hambar dan membosankan.  Tokoh antagonis yang identik dengan karakter negatif ini memang membuat penonton gemas dan kesal. Tapi keberadaannya justru membuat sinetron menjadi seru, dan penonton pun dibuat penasaran ingin mengikuti terus jalan ceritanya.

Makhluk Ruwet dalam Hubungan Formal

Dalam hubungan pertemanan yang formal di lingkungan kantor, makhluk dengan pemikiran ruwet ini dapat membuat suasana kerja menjadi ramai dengan keunikan karakternya, tapi dapat juga membuat suasana kerja jadi menjengkelkan. Karakternya yang nyeleneh, seringkali membuat teman-temannya gemas dan kesal. 

Saat orang-orang jalan ke kanan dia ingin jalan ke kiri, hal yang mudah dibuat susah, hal yang bukan masalah dijadikan masalah. Atau malah sebaliknya, ketika ada masalah dia malah tenang-tenang saja. Semua hal diukur dengan dirinya sendiri, sehingga jarang ada hal yang benar di matanya, serta kurang bisa memberikan respon yang tepat dalam berbagai situasi.

Dan biasanya dia kurang bisa bekerja sama dengan orang lain. Performa kinerjanya justru akan maksimal bila bekerja sendiri, tanpa campur tangan orang lain. Bila harus bekerja sama dengan orang lain, kehadirannya akan membuat suasana ramai dengan perdebatan hingga perselisihan.

Pokoknya kalau gak ada "lu" gak ramai. Gak ada yang ngajak berdebat, gak ada yang ngajak berantem, gak ada yang dijadikan bahan cerita. Meskipun demikian, kehadirannya tetap diperlukan di dalam tim. Pemikirannya yang tidak umum terkadang malah memunculkan ide-ide out of the box, yang dapat menjadi faktor pendorong positif bagi kemajuan tim. Hanya saja memang perlu treatment khusus untuk membuatnya berdaya guna dan diterima dengan baik di lingkungan kerjanya.

Makhluk Ruwet dalam Hubungan Informal

Dalam hubungan pertemanan yang informal, makhluk dengan pemikiran ruwet ini cenderung dihindari. Orang-orang berpikir simpel dalam tujuan pertemanan, yaitu untuk mencari kenyamanan. Ketika mereka merasa tidak nyaman dengan seseorang, mereka lebih memilih untuk menghindarinya.

Tapi hal itu tidak berlaku pada pertemanan informal yang lebih bersifat heterogen, dimana kita tidak bisa memilih siapa teman yang cocok dan siapa teman yang harus dihindari. Contohnya dalam grup-grup obrolan online yang kita punya, dimana berbagai karakter manusia berkumpul disana. Bahkan sebenarnya kita pun sulit menilai karakter seseorang secara tepat, karena pertemuan kita hanya terbatas di obrolan online.

Saya pribadi malah senang dengan kehadiran mereka di grup-grup obrolan online. Mereka inilah yang membuat suasana grup menjadi ramai. Pemikirannya yang tidak umum bisa menjadi bahan diskusi yang seru dan menarik. Karakternya yang nyeleneh menjadi hiburan tersendiri bagi penghuni grup. Kita bisa dibuatnya tersenyum-senyum bahkan tertawa, walaupun kita juga sering dibuatnya kesal.

Dan bagi saya kehadiran mereka juga bisa menginspirasi. Kita jadi punya bahan untuk instropeksi diri bahwa sebenarnya manusia tidak ada yang sempurna. Tapi justru ketidaksempurnaan itu yang membuat kita bisa saling melengkapi satu sama lain. Sehingga tercipta hubungan pertemanan yang sehat dan solid.

Cara Menghadapi Makhluk Ruwet

Cara menghadapi makhluk dengan pemikiran ruwet dalam hubungan pertemanan formal maupun informal dijelaskan sebagai berikut:

Pertama berikan peran yang tepat, khususnya di lingkungan kerja formal. Berikan tugas sesuai dengan karakter yang dimilikinya, sehingga tidak terjadi benturan dengan orang lain. Bila terpaksa harus bekerja sama dengan orang lain, dari awal sudah harus ditekankan aturan dan komitmen bersama, serta pembagian tugas yang jelas.

Kedua gunakan data dan fakta yang jelas untuk memperkuat argumentasi. Mereka biasanya senang mempermasalahkan berbagai hal. Mereka tidak segan berdebat untuk mempertahankan pendapat. Gunakan data dan fakta yang jelas untuk menjawabnya, dan tidak perlu terpancing emosi saat menjelaskannya.

Ketiga jangan dipikirkan dan jangan diambil hati. Kita harus bisa menghadapi mereka dengan tenang dan pikiran positif. Ditanggapi saja dengan santai, bahkan kadang kita perlu mengikuti sedikit pemikiran mereka yang tidak umum. Ikut-ikutan nyeleneh sejenak untuk bisa memahami keruwetan pemikiran mereka. Berikan tanggapan serius bila diperlukan, tapi jangan diambil hati. Kita harus bisa bersikap dewasa dan bijaksana untuk membuat suasana pertemanan tetap kondusif.

Keempat gunakan topik-topik yang netral dan aman bila berdiskusi dengan mereka di forum umum. Hindari topik-topik sensitif yang mungkin membuat suasana jadi rusuh atau membuat orang lain tersinggung. Tentunya kita juga ingin merasa nyaman ketika terlibat diskusi di dalamnya. Jangan memancing-mancing hal sensitif terkait prinsip atau cara pandang yang pastinya berbeda, seperti masalah politik atau SARA. Cari bahan diskusi yang ringan, untuk membuat suasana menjadi ramai tanpa perdebatan dan perselisihan.

Dunia Sepi Tanpa Makhluk Ruwet 

Walaupun pemikirannya tidak umum dan karakternya nyeleneh, nyatanya makhluk dengan pemikiran ruwet tetap selalu dirindukan. Dunia ini akan sepi tanpa mereka, yang bisa membuat hidup kita menjadi lebih berwarna. Mereka juga bisa menjadi ujian bagi kedewasaan kita, dalam menghadapi suatu permasalahan. 

Ketika semua orang sepemikiran dengan kita, pasti terasa kurang tantangan. Kita juga perlu pemikiran dari sisi lain yang berbeda sebagai koreksi, agar pemikiran kita menjadi lebih baik. Itulah dinamika, manusia dengan beragam karakternya dapat membentuk komunitas yang solid dan saling membangun. 

Dan sejatinya tidak semua masalah membutuhkan solusi, sehingga tidak perlu harus selalu dicari benar atau salahnya. Demikian pula dengan karakter dalam hubungan pertemanan tidak perlu diributkan baik atau buruknya, selama hal itu tidak merugikan orang lain. Bukankah hidup itu indah, maka yang mudah jangan dibuat susah. (IkS)