Freelancer
5 bulan lalu · 90 view · 7 min baca · Cerpen 95044_63928.jpg

Makhluk Koordinasi

Bapak akhir-akhir ini suka berbicara dengan kucing, tapi bapak tidak sedang unjuk kebolehan teaternya. Tingkah itulah yang membuat ibu selalu terisak-isak melihat bapak. 

Saat pembicaraan bapak dan hewan berbulu itu masih berlangsung, ibu berlari mengagetkan nenek di kamar. Putri sulungnya tiba-tiba saja menubruk kakinya induknya yang renta itu.

“Aduhh, Ihh! Ketuk dulu Yanti?  Masyallah aku kira ajalku tadi,” sentak nenek ke ibu.

Sambil menggosokan bulu romanya, nenek melanjutkan mengaji sampai di baris terakhir. Sembari nenek menuntaskan bacaannya, ibu mengusap air matanya ke sarung batik jambi yang dikenakan nenek. Kesedihan yang dicurahkan ibu ke nenek terlihat ganjil, anehnya nenek malah terkekeh saat keluh-kesah itu disampaikan.

“Sudah tidak tahan Mak,” keluhnya.

“Kalau matamu selalu basah! aku lebih baik mati daripada gila, atau kau cari laki baru saja!” menyudutkan ibu.

“Tidak bisa diganti dengan emas sekalipun mak!”

“Dari pada kau yang gila, kau ganti sajalah heee.. , “ canda nenek ke ibu.

Setelah menyapu bulir air matanya sampai bersih, ibu mengibarkan sulur selendangnya menggendong si Yakin. Mereka pergi kepersimpangan lampu merah dengan tergesa-gesa. 

Alasannya, si anak bungsu menghardiknya dengan tangisan yang keras. Permintaan bocah gempal itu ingin melihat polisi yang menari-nari sambil mengatur lalu lintas di jalanan simpang desa.

“Ayo buk, ayok…” tutur bocah gempal itu.

“Pritttt… Prittt…” mengibar-ngibarkan siulnya yang nyaring ke arah jalan.

Polisi itu lincah bak penari robot di jalanan Area Wall of Fame, New York City, menggerakan-gerakan tangannya patah-patah mengatur lalu lintas.

“Seluruh penghuni rumah hanya aku yang masih waras, tampaknya. Aku bisa dapat gelar sarjana FISIPOL dengan keadaan waras dan fokus seratus persen, tapi asalkan surat sakti rektor tidak terbang ke rumah ini aku bisa mempertahankan kewarasanku hmm…”

“Kamu siap di DO kan?” bentaknya.

Perbekalan teori sudah aku persiapan semua, tapi otakku sesak bertanya apa aku siap membawa bapak ketempat wisuda, alih-alih makin waras aku bisa gila memikirkan ini.

Semuanya tidak akan seperti ini jika bapak menolak  tantangan Wak Budi sekitar 4 bulan lalu, sebelum PEMILU serentak.

“Wo turun tangga jadi warga kalau dia kalah jd No.1?” tantangnya.

“Siap, tapi kau tidak lagi jd satpam. Jika aku yang menang, adil bukan?” tebas serang balik Bapak.

“Aman…Aman… Wo,” tersenyum remeh.

Wak Budi sebenarnya saingan bapak ketika pemilihan Kades 10 tahun yang lalu, tapi kalah dan pindah rimba ke kota untuk mengadu nasibnya.

“Pasti sudah kaya si Budi. Pernah jadi satpam perusahaan, rumah artis, anggota dewan katanya, terlatih lagi,” sampai warga ke bapak.  

Sebenarnya mereka berdua satu tongkrongan pos ronda. Wak Budi tidak terlalu pusing dengan ocehan politik dibandingkan bapak. Akan tetapi, niat seseorang bisa berubah kapan saja tergantung jumlah uang di dompetnya.  

“Sekarang katanya lebih ingin berbakti sama kampung, keamanan kampung khususnya. Dia bercerita dilatih oleh tentara, sehingga semangat patriotismenya menggebu untuk menolong sesama,” tutur Buya yang tinggal di sebelah rumah Wak Budi.

Akan tetapi, siapa yang mengira kalau  jiwa pratiotismenya diam-diam menggunting dalam lipatan surat suara. Dia sibuk mencari masa setelah pulang dari kota. Kegiatan ronda menjadi ajang mencari suara tambahan untuk pembesar pilihannya.

“Si Budi katamu," kaget mendengar kabar itu.

Bapak mengecap-ngecap kopi manis yang menggincu  hitam di bibirnya, dan memuntahkan balik ampasnya setelah mendengar kabar itu.

“Dan Kalian baru bicara sekarang, berarti seminggu ini kalian kemana? Koordinasi… koordinasi Sayad,” teriak bapak ke kaur-kaurnya.

“Selesaikan KTP-KTP ini warga pasti senang, lalu bagikan dan tahan KTP Istri Budi,” tegasnya menyelesaikan berkas KTP yang membeku di laci kantor desa itu.

Bapak sigap berkoordinasi dengan staffnya, walau sebenarnya telah dilarang oleh ibu. Kepala daerah harus lah netral di depan warga, sanksi,  terang-terangan menunjukkan keberpihakan dan warna bendera.

“Pak Muradi seorang Kepala Desa Danau pelangi jatuh jabatan gara-gara tangan telunjuknya. Lain lagi Pak Iwet yang fotonya tersebar bersama salah satu caleg. Alhasil, dia didamprak dari jabatan kades oleh bupati gara-gara selembar foto. Pegawai sipil yang tercium mendukung calon pembesar bisa turun pangkatnya,” terang Sumardin, senior kampus yang sedang menawarkan kredit motor ke rumah-kerumah warga.

***

Bapak kagum ketika akademisi berceloteh. Terhipnotis oleh pemahamannya. Seluruh teori yang diucapkan oleh praktisi akan dilafalkan berulang-ulang kali. Bergegas mencatat yang didengarnya, bapak akan pulang ke rumah, mengisi setiap dinding yang sekarang mirip papan tulis orang kuliahan.

“Teori-teori ini disasar ke rumah, warung, pangkalan ojek, pasar, dan dunia virtual. Dengan retorika persuasif, kita mengarahkan pilihan ke paslon tertentu,” kuliah bapak ke kaur-kaurnya minggu lalu.

“Diundang makan di rumah lebih baik,ya, sakadar basa-basi dan cari amunisi,” lanjut jelasnya. Akibatnya, ibu sering kewalahan masak besar tiap hari.

Malam ini orang-orang mufakat menyaksikan tontonan mereka di Pos ronda, termasuk  Bapak dan Wak Budi. Tidak perlu jadi ahli teori atau jadi kau elite dulu untuk mengerti tontonan ini. Semua orang bebas mencukupi pengetahuan politiknya, dan hidup sebagaimana mestinya.

Malam itu beberapa kulit kepala penonton tampak basah, sambil sekali-kali mengibaskan udara ke jidatnya. Permukaan kulit kering itu mendadak gerimis, yang memaksa sebagian orang pulang. Mereka lebih memilih menikmati pemutar kipas,AC, di rumah, ketimbang berlama-lama di pos ronda yang gerah itu.

Menjelang hujan datang, udara mulai panas, bulan lelarian dengan awan hitam, berbunyi serak menakuti orang-orang. Justru keadaan di pos ronda semakin panas menyaksikan diskusi dan tuan rumahnya yang parau itu.

Tinggal berdua di pos ronda, Bapak dan Wak Budi khidmat menyaksikan siaran TV. Kumpulan praktisi dari pelbagai penjuru yang paham falsafah dan teori dunia moksa dalam diskusi, saling dorong teori untuk menunjukkan siapa pahlawan, malaikat, dan iblisnya.

Bapak yang mulai siap mencatat argumen-argumen, terperangah melihat Wak Budi menirunya.

“Hei… kau meniruku Budi!” Mencegat Wak budi. Barangkali gemes, Bapak menonjok temannya dengan jempol kakinya.

“Aww.. aww.. lagi catat kata-kata berjalan itu Wo…”

Running teks,” bentak Bapak.

“Biasalah survey harga sayur-mayur buat istri,” tunduknya sambil menggosok-gosokan pahanya.

“He,mana istri mu? itu sudah jadi bini orang Budik, memangnya untuk apa kau nafkahi!”menyudutkan Wak Budi.

“Calon yang Lain Wo! Kalau  yang lama masih mau, aku siap menafkahi lahir batin” berkilat mencari alasan, sambil sesekali tersenyum berharap Bapak terhibur juga.

Udara menganguk-anguk, mengutuk Wak Budi beku malam itu. Bersambut dengan cuaca yang mulai gerimis, dia mematung di sebelah Bapak seperti arca. Sepertinya, dia tidak sepadan berdebat dengan kades itu, dan bergegas pulang ke rumah dengan persaan setengah kesal.

“Kalau bukan Kades DBSB-Desa Baru Sarang Burung sudah kucabut engsel lehernya, kupanggil saja Jaja, nama aslinya. Jadi bodoh aku memanggil Wo,abang, padahal seumuran.”

***

“Pak kades… Pak Kades… Budi Pak!” gagap seorang yang memecah suasana rapat siang itu.

“Dia mengundang orang-orang makan pak,” jelas Dedeng, sedangkan  Sayad menilih menunggu di luar.

“Lah terus, bukannya bagus kalau syukuran ?” bingung kadesnya.

“Dengar-dengar dia cari suara pak, sudah 2 hari berturut-turut makan besar dirumahnya.”

“Heh, Sudah 2 hari, kalian kemana, lalu kemana Sayad?” celinguk mencari kehadiran Sayad.

“Maaf Pak,” Dedeng tertunduk.

Sayad menggosok-gosok cat mowilex yang lengket ditangannya, perlahan-lahan menyelinap keluar pagar besi rumah kadesnya, berharap tidak menjadi sasaran marah yang kedua.

“Kumpulkan orang-orang, kabarkan hingga ke kampung sebelah bahwa 2 hari lagi Kades DBSB-Desa Baru Sarang Burung mengadakan Makan besar di rumahnya,” komando bapak.

Pada hari besar itu kucing-kucing mengedap-endap melihat sisa kulit daging ayam, tapi tidak berani mendekati sebaskom ayam yang sedang dijaga juru masak. Orang-orang dari seluruh penjuru desa muncul mendengar kabar itu, rentetan keturunannya juga tumpah ruah di halaman, menanti lauk-pauk gilirannya.

Ibu cuman tertunduk dikte Bapak saat surat tanah telah dijual. Biaya makan besar membengkak, sama membengkaknya dengan cukuran seorang cucu presiden.

Terengah-engah  mencari kadesnya, terlihat Sayad dan Dedeng menjadi pusat perhatian orang-orang. Mereka melambaikan sebuah surat kabar, diangkat tinggi-tinggi agar tak kucel bersenggolan dengan warga yang berdesakan. Seketika orang-orang yang sedang makan bingung apa yang terjadi, dan tersendak kaku oleh lauk di tenggorokannya .

“Pak kades… Pak Kades.. Wak Budi meninggal Pak,” teriak kaurnya, memecah suara yang ramai di halaman depan rumah.

Innalillahi…. Semua warga mengusap dada mendengar kabar itu.

Dari surat kabar yang dibawa kaurnya, kabar meninggal Wak Budi menjadi perbincangan warga-warga. Beberapa orang dilarikan kerumah sakit, sebagian lagi terkapar dijalan. Pemicu bentrokan di tugu emas itu disinyalir ada salah kelompok pendukung yang menyusup ke area pendemo resmi, sambil membawa bendera hitam mereka keos. jumlah korban meninggal sebanyak 30 orang, dan salah satunya adalah Wak budi.

Terlihat daftar nama  orang-orang yang meninggal tersusun rapi sesuai abjad. Bapak jutru terpaku dengan konklusi berita yang menyatakan : Pemilihan Presiden dibatalkan.

“Budi mati!”

“Bagaimana ini, Haaaa…” teriak bapak, mencegat pendengaran tamu-tamu itu.

“Sabar Pak…” tenang ibu.

“Mana mungkin… ini, seharusnya kau Koordinasi Dulu Budik! kalau mau mati Budikkkk… lalu bagaimana tanahku!”

Orang-orang mencengkram kaki dan tangan bapak yang meronta-ronta, ayam yang dikunyah berserakan. Nenek khidmat menyuap nasi ke mulut si Yakin tanpa menghiraukan suasana yang rusuh. Tenaga bapak perlahan habis karena meronta-ronta, dan perlahan orang-orang yang memeganginya mulai berkurang.

Perhelatan makan-makan ini mirip pemakaman sekarang. Orang-orang mulai mundur karena udara tercemar umpatan bapak, semerbak mengacaukan niat bertamunya siang itu. Udara terik mulai serak lagi, isyarat petaka dari ulah makhluk hidup yang diciptakan oleh tuhannya.

Wak budi tampa Koordinasi dan teori sudah menang telak menjatuhkan bapak dengan nyawanya. Tidak ada yang tau pasti tindakan Wak Budi pahlawan atau pecundang. Jabatan dan harta tidak dimiliki lagi oleh bapak karena ulahnya. Semuannya habis karena  kucing koordinasi ciptaannya sendiri.

Artikel Terkait