Pernahkah sesekali kau berpikir menentang arus utama sosial? Kau melawan arus kebiasaan masyarakat di mana kau tinggal. Tatkala kerumunan orang menjalani hidup dengan standar normal yang diciptakan oleh konstruksi sosial yang ada, kau memilih untuk menjadi tidak populer dengan menentang kebiasaan.

Sekali kau mencoba, kau akan dianggap aneh dan tidak normal. Kau divonis sebagai manusia yang tidak wajar. Lantas rasa takut, gelisah dan risau menyelubungi pikiran dan perasaanmu itu. Kemudian, dunia menjadi tempat yang begitu membingungkan. Atau mungkin, bukan dunia ini yang membingungkan? Kita, kitalah manusia yang telah membuat kebingungan itu hadir di atas dunia.

Tiba-tiba saja aku teringat dengan mendiang Kant. Di nisannya tertulis sesuatu yang menarik yang kurang lebih seperti ini: dua misteri yang nyata dan menggelitik perhatianku ada dua. Pertama, adalah langit di atas kita. Kedua, hati di dalam diri kita.

Kalau seorang pemikir besar seperti itu berani membandingkan “hati” dan “langit” sebagai misteri yang setara, maka boro-boro para saintis ingin menyingkap alam semesta dengan semua kecanggihan teknologi yang ada, sedangkan rahasia hati kita, yang terpaut dekat dalam diri ini masih menyisakan pengetahuan yang nol besar.

Aku bersyukur menyadari ini lebih awal. Di masa SMA, seorang teman mengingatkanku bahwa hanya ada dua hal yang membuat hidup manusia kesusahan: pikiran dalam kepala kita, dan hati di balik dada kita. Keluguanku di masa remaja membuatku agak kebingungan untuk menafsirkannya sejelas sekarang.

Rupanya itu pengetahuan yang harus didasarkan pada pengalaman di samping pengetahuan murni saja. Aku mengerti, bahwa sebagai manusia itulah yang membuat kita utuh. Aku dan kau bukanlah manusia, tanpa dibekali akal dan hati.

Akan tetapi, jangan terburu-buru dulu. Aku bukanlah orang yang menerima sesuatu apa adanya (an sich) sesederhana itu (taken for granted). Aku ingin kita sama-sama memikirkan ini, sesuatu yang telah lama mendekam dalam diri kita yang tidak pernah berhasil kita ungkap secara jelas dan tuntas.

Apakah akal itu? Apakah sekadar tumpukan daging yang bersembunyi di balik kerangka kepalamu? Apakah hati itu? Apakah sekadar daging yang tersembunyi di dalam tubuhmu? Lantas apakah manusia itu? Tanpa otak dan hati? Kalau otak dan hati, hewan pun punya, lalu kenapa tidak kita sebut saja manusia mereka itu?

Kalau hewan dikatakan makhluk rendahan karena memangsa dengan taring dan cakar mereka, maka kita apa? Kita membunuh dengan nuklir, korupsi, pengkhianatan, pisau dapur, bambu runcing, gergaji, tali dan lain sebagainya. Kita juga makhluk buas, berbeda dengan hewan, alat yang kita pakai sedikit lebih canggih dan modern.

Lalu makhluk apa aku ini? Apakah aku adalah tumpukan daging dan tulang belulang yang memiliki kesadaran? Hewan juga begitu. Oh, rupanya yang membedakan kita dari spesies lain adalah akal dan intuisi. Tapi hewan juga punya otak dan hati. Semakin kujawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu, semakin aku kebingungan dan kelelahan. Lalu suara itu datang kembali, kudengan dia secara seksama mengemukakan pendapatnya.

Bukankah manusia yang sudah tidak bernafas, fungsi hati dan otaknya telah lenyap, tidak sekadar dari daging yang terbungkus kulit? Kan itu artinya, mayat-mayat manusia bukanlah manusia. Sama ketika kita memperlakukan hewan. Kita hanya memakan mereka tatkala fungsi otak dan hatinya telah mati.

Kenapa tidak mampu kita lakukan itu pada bangkai manusia? Bisakah kau membuang mayat orangtuamu di tempat sampah depan rumah tatkala mereka sudah mati? Bukankah tumpukan daging dan tulang belulang yang terbungkus kulit hanya sekedar benda mati saja.

Kita bisa saja melihat bangkai seekor tikus tatkala berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Kita akan melihat itu sebagai sebuah fenomena biasa. Bayangkan bila yang tergeletak itu adalah mayat manusia! Bukankah ketakutan dan rasa iba tiba-tiba seakan menjelma pisau dan menikam batinmu? Lalu kau hendak berujar, “Malang sekali ada manusia yang tidak dikuburkan dengan cara yang baik.” Kalimat yang tidak kau keluarkan tatkala melihat hewan mati.

Bayangkan juga bagaimana sekiranya kau akan berekspresi. Tatkala mengetahui ibu dari teman sekolahmu dikoyak-koyak oleh hewan buas, jantungnya terkelupas dari bilik dada, tangan, kaki serta kepalanya terpisah dari tubuh. Dengan hati penuh amarah akan kau caci hewan tersebut, meski itu bukan ibumu, dan meski kau tidak mengenal nama teman sekolahmu, anak dari yang mati itu.

Bayangkan bagaimana posisimu, bila kau terlahir sebagai seekor ayam. Yang dipelihara dalam kandang selama bertahun-tahun. Telah menyaksikan anak-anaknya, yang dia erami mulai dari fase ketika masih belum menetas, menjadi cicit-cicit kecil dan tumbuh dewasa. Bayangkan bagaimana perasaan ayam itu tatkala anaknya kau renggut dan kau bakar hingga matang, dan kau makan bersama sayur-sayuran di dapurmu.

Kita seringkali memaki seorang pembunuh di kantor polisi dengan teriakan, “Anjing, binatang, hewan, tidak punya perasaan....” Tapi kita rupanya adalah pembunuh tiap harinya. Apabila membunuh diartikan merenggut fungsi otak dan hati yang mengatur regulasi tubuh, maka sudah berapa mayat nyamuk yang kau lenyapkan wahai manusia?

Kitalah para pembunuh itu. Setiap hari dan setiap waktu, kitalah yang menebar horor di atas dunia yang beku ini. Kitalah para pembunuh yang dengan wajah lugu dan polos tidak berdosa, berani memakan makhluk hidup di atas piring makanan kita.

Kita tidak bersisik, tak bersayap, tak berdecit, tak mengesot seperti ular, tak berekor, tak bertanduk, tak berbebelalai, dan lain sebagainya. Kita hanya tumpukan daging yang tersusun rapi membalut tulang belulang yang tertancap kokoh dan terbungkus kulit. Tapi kitalah yang lebih buas daripada binatang, namun tidak berani kita hadapi kenyataan itu.

Tidak berani kita hadapi kenyataan objektif itu dengan kejujuran bahwa kita lebih anjing dari anjing dan lebih hewan dari hewan. Maka, makhluk apa aku ini?