Suara bising tetesan hujan bergema memenuhi setiap sudut kamarku. Dengan segala pikiran memenuhi kepala yang terasa sedikit berat. Ingin rasanya ku mengeluhkan segala penat. Namun, apalah daya seseorang yang sempurna sepertiku ternyata masih mengeluhkan nikmat Tuhan. Aku tau kalau Tuhan pastilah amat menyayangiku sehingga tanpa ragu memberikan keistimewaan yang tidak terduga dan amat sangat special. Lamunanku pecah saat seseorang mengelus pundakku pelan.

“Sayang, kamu belum tidur?” Bunda, suara khasnya menyadarkanku jika sejak tadi mataku tetap terbuka. Aku hanya menggeleng perlahan.

Bunda menutup mulutnya seketika, tercekat dengan jawabanku. Selalu seperti ini tiap malam bahkan jika bunda mengira aku telah tertidur. Seperti malam-malam sebelumnya tiap kali Bunda selesai sholat malam selalu menyempatkan menjengukku. Dan mendapatkanku berdiri menghadap jendela kamar. Aku tidak pernah keluar rumah bahkan untuk sekejap semenjak lulus dari sekolah menegah pertama. Dan aku tidak lagi ingin melanjutkan pendidikanku.

 Aku melangkah mendekati ranjang. Perlahan merebahkan tubuhku yang sudah kaku karena terlalu lama berdiri kedinginan.

“Tidurlah nak. Bunda akan membangunkanmu setelah selesai sholat shubuh nanti.” Perlahan bunda melangkah keluar membiarkan pintu tetap terbuka.

Tubuhku terlalu lelah sekarang, mengingat beberapa hari terakhir aku terus berjuang melawan kekebalan tubuhku sendiri. Rasa sakit yang luar biasa terus menerus membuatku berada dalam keadaan tak menentu meski hatiku kuat menolaknya namun tubuhku terus menerus menerimanya.

“Nak, lekas dimakan biar kamu ada tenaga.” Pagi harinya Bunda membawakanku segelas susu dan sepotong roti untuk sarapan. Aku masih terduduk lemas diatas sajadahku untuk kemudian Bunda membantuku duduk ditepi ranjang.

“Kita pergi kedokter hari ini ya. “ sembari menyuapi sarapan Bunda berbicara perlahan berharap mendapatkan tanggapan dariku yang tetap mematung mengunyah sarapan.

Belum sempat aku menjawab dengan benar pertanyaan dari Bunda, terdengar suara salam dari pintu depan. Suara khas yang tanpa izin menyelinap masuk kerelung hati paling dalam. Setelahnya Bunda beranjak memeriksa, membawa sesosok wanita paling cantik selain Bunda dalam hidupku.

“Ihkam sedang sarapan ya? Kebetulan sekali saya membawa sop ayam kesukaan Ihkam. Tapi kalau Ihkam sudah kenyang bisa dibuat nanti makan siang.”

“Terimakasih Dhilla. Sepertinya biar dimakan nanti siang saja ya. Emosi Ihkam sepertinya tidak terlalu baik pagi ini. Biar Bunda bawa ke dapur ya nak. Tolong kamu jaga Ihkam sebentar.” Bunda beranjak kebelakang tepat setelah anggukan dari Dhilla.

 Dhilla menghembuskan nafas pelan sembari menatapku yang tengah melamun. Kali ini Bunda benar, Aku tidak seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya saat Dhilla datang menjenguk Aku akan terus melihat wajahnya, kali ini aku justru mengabaikannya. Dhilla adalah mahasiswi kedokteran semester 5 sekaligus kerabat dekat. Selain paras yang elok dipandang mata, Dhilla juga mempunyai hati yang sangat jernih. Terlalu indah untuk kugapai dengan keadaanku sekarang. Entah berapa lama lagi aku akan bertahan untuk tetap memaksakan hidup.

“Ihkam, Jangan pernah menyerah pada hidupmu. Kamu tau apa yang terjadi jika kamu sendiri meyerah tepat saat pertarungan ini dimulai? Kamu akan lebih banyak kehilangan termasuk diri mu sendiri. Dan..Aku tidak ingin kamu menyerah dengan mudah. Tuhan sangatlah adil, Dia tidak pernah menciptakan seseorang yang sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah milikNya.” Lambat laun kudengar suara isakan yang semakin jelas. Dhilla bergegas menutup mulutnya sebelum isakan itu benar-benar keluar dengan bebas tanpa peringatan.

 Aku tau ini adalah saat-saat terakhirku. Sepanjang rasa sakit yang kualami setiap malam Aku yakin Tuhan telah mendengar doaku. Didalam mimpiku yang singkat bahkan Aku bertemu dengan Ayah yang ingin menjemputku. Beberapa kali berbicara dengan Ayah dalam mimpi, Ayah hanya berkata singkat. ‘Ayah akan menjemputmu sebentar lagi nak’. Belum saatnya Aku pergi, masih ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan sebelum benar-benar pergi bersama Ayah.

Pagi yang cepat berlalu dan waktu yang terasa amat sangat singkat. Bunda membawaku ke Rumah Sakit ditemani Dhilla. Hari ini dia akan ke Kampus sedikit terlambat. Ini adalah kali keduaku berobat ke Rumah Sakit setelah melalui perjalanan panjang. Bunda hanyalah pedagang sayuran dipasar. Kami membutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengobatiku. Karena itulah sebenarnya aku selalu menolak jika Bunda memaksaku berobat. Dengan uang tabungan yang Bunda kumpulkan berbulan- bulan. Juga sedikit bantuan dari Dhilla dan keluarga dekat, Bunda akhirnya membawaku ke Rumah Sakit.

“Sampaikan salam Bunda pada Karmila, Dhilla. Bunda sangat berterimakasih dia mau membantu.” Ucap Bunda sekembalinya kami dari Rumah Sakit.

“Ibu tidak masalah Bunda. Yang penting adalah kebahagiaan Bunda dan Ihkam. Bunda adalah sosok Ibu yang tegar, tidak pernah Dhilla menemukan sosok setegar dan setabah Bunda sebelumnya. Kelak Dhilla akan meniru apa yang Bunda contohkan. Dhilla ingin punya hati seperti Bunda.” Dhilla menampilkan senyum yang sangat tulus. Senyum indahnya yang sempat membuatku ingin bertahan dari gangguan dalam tubuhku.

Bunda ikut tersenyum untuk kemudian Dhilla pamit meningglkan kami. Waktunya dia kembali ke Kampus. Saat itulah, Pertarungan yang sebenarnya telah dimulai. Mulanya setelah meminum obat dari Dokter tubuhku sempat menolaknya. Mungin itu adalah efek samping yang akan berangsur baik beberapa menit kemudian. Namun, jangankan membaik tubuhku benar-benar menolaknya. Kejadian yang tidak Bunda inginkan, hari itu terjadi kembali. Aku berteriak memecah lengang. Meraung keakitan seperti yang selalu digambarkan di sinetron televisi saat tokoh utamanya sedang sekarat.

Dengan wajah panik Bunda mencoba menenangkanku yang terus memberontak didalam pelukannya. Dan dengan segera tetangga dekat sebelah rumah berbondong- bondong menuju asal muasal teriakan. Dengan cepat berhitung situasi, dibatu tetangga sekitar Bunda kembali membawaku ke Rumah Sakit.

Cepat saja kejadian itu berlalu, Akhirnya aku terbaring lemah diranjang Rumah Sakit. Tidak ada yang bisa dilakukan pihak Rumah Sakit. Sebelumnya Bunda memang tidak mebuatku rawat inap. Apalah daya keuangan tidak cukup memadai. Bunda hanya memnita resep obat untuk mencegah gangguan dalam tubuhku menyebar terlalu cepat.

“ Kami sungguh minta maaf Bu. Anak Ibu butuh perawatan yang lebiih memadai atau situasi buruk akan terjadi. “ Setelah mengurus administrasi bersama Bapak kepala desa Bunda berbicara dengan Dokter.

“Ya Tuhan, Saya mohon Pak Dokter. Tidak bisakah Anda menyembuhkan penyakit anak Saya.?”

“Sebelumnya Saya memang belum yakin dengan apa yang dialami anak Ibu. Tapi kali ini anak Ibu menunjukkan dua gejala. Dia mengalami Syndrome Jacob dan Cotard sekaligus. Maafkan kami bu, Pengetahuan kami amat sangat terbatas untuk gangguan tersebut. Rumah Sakit disini tidak bisa menangani syndrome seperti itu Bu. Pengobatan terbaik bisa dilakukan di luar negeri.”

“Ibu Anna, sebaiknya kita diskusikan masalah ini terlebih dahulu. Saya akan ikut membantu bersama warga sekitar.” Bapak kepala Desa memberikan kemungkinan solusi yang dapat diterima. Bunda tetap menggeleng pelan.

“Jika tidak ditangani secepatnya anak Ibu tidak akan bertahan lama…”kalimat Dokter dihadapan Bunda terputus.

“Sebenarnya gangguan seperti apa yang dialami anak saya Pak? Beberapa bulan yang lalu dia amat sangat sehat, amat sangat pintar. Anak lelaki Saya tumbuh lebih cepat dari perkiraan. Menjadi lelaki tampan nan gagah, Gangguan apa yang dapat membuatnya 180° berbeda.” Bunda tidak dapat menahan terlalu lama perasaan yang selalu dia pendam. Pada akhirnya Bunda terisak, tangisannya tidak dapat ditahan terlalu lama lagi.


 Kabar menyedihkan itu datang terlalu cepat. Suster yang sedang merawatku datang tergopoh-gopoh menemui Dokter yang sedang berbincang dengan Bunda. Masalah ini bukan hanya sekedar ujian hidup sederhana yang menimpa kebanyakan manusia. Tidak ada solusi terbaik selain mengikhlaskan apa yang sudah menjadi takdir Tuhan.

Mungkin kita terlalu berpikir bahwa kita mampu mengatasinya sendiri dengan cara seorang manusia. Namun keangkuhan egoisme mengendalikan semuanya diatas nafsu seorang manusia itu sendiri. Apakah sudah saatnya aku pergi meninggalkan sesosok wanita yang mencintaiku lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Aku yakin Bunda akan baik-baik saja setelah ini. Tugasku telah selesai meski tidak semaksimal mungkin. Bunda, jangan terlalu sering meratapi keadaan anakmu yang akan segera menempuh kehidupan selanjutnya mendahuluimu.

Siang hari itu, Aku sudah meninggalkan dunia yang sejatinya bukanlah tempat abadi. Malam-malam sebelumnya saat rasa sakit itu datang. Dengan senang hati aku memberikan segala tabungan milikku dikala aku masih sehat dan pintar. Hanya untuk Bunda seorang. Aku tidak menyesal telah lahir dalam dunia yang kejam meski hanya sekejap. Aku percaya jika Tuhan telah mempersiapkan scenario terbaik untuk setiap hambanya.

“Ihkam sudah tenang disana Dhilla.”terang Bu Karmila ketika Dhilla dengan nafas terengah-engah menyusul ke Rumah Sakit setelah dihubungi Ibunya. Wajahnya seketika pucat pasi, Dhilla menatap Ibunya untuk kemudian menddapati Bunda disamping Ibunya terdiam tanpa mengeluarkan tangisan lagi. Air matanya seolah kering secara tiba-tiba.

“Proses pemakaman akan dilakukan sebentar lagi Bu. Saya sudah menghubungi warga sekitar untuk segera bertindak. Saya sungguh turut berduka cita atas musibah yang terjadi. Bu Anna, segalanya telah Tuhan tetapkan dengan takdir yang begitu indah.” Tukas Bapak Kepala Desa menghampiri Bunda yang tetap terdiam ditempatnya duduk.

Sejatinya kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan memanggil kita. Pertemuan hanyalah syarat sebelum terjadinya sebuah perpisahan.