Sastra Indonesia berduka. Itulah kiranya reaksi para penikmat majalah sastra legendaris Horison saat berhenti terbit versi cetak. Taufiq Ismail, pendiri Horison beralasan saat ini biaya cetak sangat mahal. Selain itu, tidak efektifnya distribusi ke berbagai daerah membuat Horison semakin sulit bertahan, di tengah honor untuk penulis yang masih sangat jauh dari kata layak.

Namun, beberapa waktu lalu penulis menjenguk Horison Online, ternyata tidak banyak karya-karya sastra “biasanya” yang ditampilkan. Bahkan headline utama Horison Online masih tentang Orasi 50 Tahun Horison oleh Emha Ainun Najib, pada Juli lalu.

“Tumbangnya” majalah Horison yang justru terjadi pada capaian usia setengah abad tersebut, ibarat fenomena gunung es. Dalam catatan guru besar FIB UI, Maman S Mahayana, pada dekade 1950-an saja, jumlah majalah sastra Indonesia bisa mencapai 140-an majalah, sebagaimana tercatat di perpustakaan nasional.

Saat ini, di daerah Solo sendiri, penulis sudah sangat sulit menjumpai majalah sastra yang terbit berkala. Barangkali hanya Pawon Sastra Solo dan majalah jurusan sastra kampus. Maka, seiring dengan “tumbangnya” Horison, dapat dipastikan redaksi majalah sastra lain segera memperhitungkan langkah serupa.

Padahal, sastra Indonesia dibesarkan oleh majalah-majalah sastra. Para peniliti sastra, seperti Sapardi Djoko Darmono meneliti pemuatan 1829 cerpen, 30 drama, serta 2930 puisi dan 770 esai yang terbit pada majalah Sastra dasawarsa 1950-an . Juga dicatat Kratz, dalam 55 majalah pada dekade 1950-an adalah 6291 puisi, 5043 prosa (cerpen + cerbung), dan 75 naskah drama.

Bahkan menurut Maman S Mahayana (2016), peta kesusastraan Indonesia waktu itu mustahil tergambarkan jika hanya mengandalkan karya-karya sastra yang diterbitkan sebagai buku, sebagaimana dilakukan Teeuw.

Geliat Antologi

Namun secara tidak kita sadari, kuantitas penerbitan buku-buku antologi justru semakin ramai. Gejala penulisan sastra—terutama puisi dan cerpen—secara kolektif ini ramai di berbagai daerah, serta memunculkan nama-nama baru. Itu bisa kita jumpai pula di media massa. Biasanya identitas penyair selalu dilengkapi dengan karya sastra—sebagian antologi—yang pernah ditulisnya.

Selain maraknya konsep penerbitan indie, rupanya biaya cetak memang tidak lagi menjadi pertimbangan. Bahkan untuk biaya distribusi, banyak pembeli rela membayarkan ongkos pengiriman yang tentunya menjadikan harga buku itu semakin mahal.

Antusiasme kaum muda untuk menjadi penyair sangat besar, terutama jika namanya terpampang sebagai penulis buku sastra. Banyak sekali perlombaan digelar dengan iming-iming penerbitan buku antologi (baik hanya pemenang maupun untuk setiap peserta). Di media sosial, saat terdengar kabar suatu penerbit menerima tulisan untuk penerbitan buku antologi, ratusan penulis mengirimkan karyanya. 

Melihat hal ini, tentu kita patut apresiasi. Meski begitu, saya melihat gejala ini lebih sebagai gejala narsisme semata. Seperti diungkapkan Marhalim (2016), kebanggaan menjadi penyair dewasa ini tidak lebih dari terpampangnya nama di cover buku, terselip di halaman rak-rak buku sastra. Juga kebanggaan dapat tampil membacakan puisi di depan publik, lalu dipuji romantis oleh sang kekasih, bahkan dijadikan sebagai mahar dan pengisi undangan pernikahan.

Padahal urusan sastra lebih dari itu. Sastra adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam orasi Emha Ainun Najid saat itu disampaikan “Terserah apa dan bagaimana sastra dipandang, dituliskan, digagas, dialami, dihayati, diilmukan, diteorikan. Yang utama, saya sangat menikmati kenyataan bahwa sastra tidak bisa mati, bahkan pun mungkin sesudah manusianya mati.”

Rela, Tidak Rela

Sekali lagi, kegairahan anak muda dalam bersastra melalui penerbitan antologi patut kita jaga. Namun jika disalurkan melalui majalah, anak-anak muda kita dididik langkah demi langkah kemampuan untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Baik diawali dengan penolakan pemuatan, lalu berkorekspondensi dengan redaktur, serta “berguru” pada penyair ternama.

Kualitas sastra dalam majalah paling tidak telah melewati tahap penyaringan beberapa kali. Baik proses editing bahasa, rapat pemimpin redaksi, serta kualifikasi dan tanggung jawab penulisnya. Namun, jika sebatas online, rasanya kita masih belum ikhlas dan rela karena sudah terbiasa menikmati identitas: layout serta karikatur khas majalah sastra.

Sebagaimana penutup tulisan-tulisan yang klasik adalah harapan kepada pemerintah. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada Desember 2015 lalu telah mencanangkan program literasi nasional. Meski ternyata sudah berganti menteri, boleh tidak kiranya, saya mengusulkan agar majalah-majalah sastra diberikan subsidi, agar mereka “hidup” seperti geliat buku “sastra Antologi”?