Sambil mengendap-endap Alex, seorang ibu muda berusia awal 20 tahunan menggendong anaknya Maddy yang baru berusia tiga tahun,  keluar dari sebuah rumah kontainer yang selama ini mereka tinggali di suatu malam yang gelap dan dingin.

Beberapa waktu sebelumnya Alex bertengkar dengan pasangannyanya, Sean yang dalam keadaan mabuk membentak Alex dan memukul tembok rumahnya hingga berlubang. Kemarahan Sean membuat Alex ketakutan dan memutuskan untuk pergi dan berlindung di penampungan bagi wanita korban KDRT.

Adegan diatas adalah sebuah penggalan serial “Maid”  yang dirilis Netflix pada Oktober 2021.  Serial ini diangkat dari sebuah Memoir best seller yang berjudul Maid: Hard Work, Low Pay, and a Mother's Will to Survive yang ditulis oleh Stephanie Land.

Drama ini mengisahkan perjalanan seorang wanita tangguh bernama Alexandra   untuk bertahan hidup dari segala lingkaran kemiskinan dan lingkungan abusive yang melingkupinya.  Sambil mengasuh anaknya yang masih balita, Hasrat Alex menggapai cita-citanya untuk menjadi penulis tak pernah surut.

Sosok Alexandra adalah sosok yang sempurna untuk mewakili ideologi feminisme. Seorang wanita yang mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya, mau membanting tulang untuk kemandirian finansialnya dan ketangguhannya dalam mewujudkan mimpinya.

Para feminis pasti bersorak sorai dengan sosok Alex.  Tapi apakah betul demikian?

Apakah Alex sendiri bukan seorang pelaku kekerasan emosional  terhadap pasangannya?  Relationship goes both ways.

Kekerasan emosional  atau kekerasan psikis menurut UU no.23 tahun 2004 didefinisikan sebagai suatu perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan atau tindakan psikis berat pada seseorang.

Tanda bahwa kita berada dalam hubungan yang emosionally abusive adalah pasangan mencoba mengendalikan berbagai aspek dalam kehidupan kita, seperti cara kita berpakaian, pertemanan, dan mengatur apa yang harus kita katakan.  

Tanda lainnya, kita diperlakukan dengan tidak layak, seperti pasangan bilang mencintai tetapi selalu saja meremehkan kita, serta memutarbalikan fakta untuk membuat kita merasa bersalah atas tindakan dirinya sendiri.

Di serial ini  digambarkan bahwa Alex dan Sean keduanya tumbuh besar dalam keluarga yang abusive baik secara fisik dan psikis  yang dilakukan kedua belah pihak baik ayah dan ibunya. Kesamaan itulah yang membuat mereka saling tertarik secara emosional satu sama lain.

Sean dalam usahanya untuk memperbaiki dirinya,  memutuskan untuk mengikuti kelas konseling berhenti alkoholisme yang sangat didukung oleh Hank, Ayah Alex, yang membuat mereka berdua sangat akrab. Sean memutuskan berhenti menjadi bartender dan belajar menjadi tukang kayu.

Alex yang memiliki memori buruk saat masih balita tentang ayahnya, melarang Sean untuk bertemu dengan Hank, apapun alasannya. 

Alex memojokkan Sean sebagai pencari nafkah utama dengan berbagai tuntutan dan tidak menerima solusi yang ditawarkan Sean hanya berdasarkan asumsinya. Hal itu memaksa Sean untuk bekerja ganda kembali menjadi bartender dan tentu saja masuk kedalam lingkungan yang sangat mendukungnya menjadi alkoholik.

Ditengah tempaan ujian itu, pasangan yang dicintainya memilih untuk meninggalkannya diam-diam dengan membawa pergi anaknya. Bagaikan sudah jatuh ke kubangan masih tertimpa durian mentah jatuh dikepalanya. Sakit rasanya bagi Sean!

Bukankah gambaran diatas menunjukkan bahwa Alex pun melakukan emotional abusive terhadap Sean ?

Saya sebagai dokter pun pernah menjumpai hal hampir serupa dengan cerita diatas. Pasien saya, sebut saja Ibu Budi sering menceritakan bahwa suaminya yang menderita sakit diabetes melitus dengan segala komplikasi yang sedang menggerogoti tubuhnya pelan-pelan, sering memarahinya ketika di rumah.

Di sesi pertemuan yang lain Ibu Budi dengan entengnya ngomong didepan saya dan suaminya tanpa ewuh pekewuh menjabarkan semua biaya yang telah dikeluarkannya untuk pengobatan suaminya, "Kalau dihitung-hitung  biaya pengobatan bapak ini kalau saya belikan mobil sudah dapat dua lho dok." 

Saya pun tercekat diam. Pak Budi tertunduk antara merasa tak berdaya dan menahan amarah.

Yap... kekerasan emosional dalam hubungan bisa dilakukan oleh pihak perempuan maupun laki-laki.  Tidak seperti kekerasan fisik, kekerasan emosional terjadi dengan tidak kita sadari dan sulit dibuktikan.  Dampaknya terhadap kesehatan jiwa dan raga pun membutuhkan waktu yang lama untuk muncul.

Ketika menjalin hubungan apalagi berumah tangga, itu berarti mempertemukan dua manusia dengan dua kepala dan dua latar belakang untuk saling berinteraksi dengan erat sekali. Tentunya semakin erat interaksinya semakin besar pula potensi terjadi konflik.

Emosi seperti marah dan kecewa adalah emosi dasar manusia  yang menjadi bagian sistem pertahanan hidup manusia.  Namun tetap menjadi kewajiban  kita, sebagai manusia dewasa untuk  mengelolanya dengan cara yang sehat dan tidak destruktif.

Kemampuan mengelola emosi, kekecewaan, dan harapan sangat ditentukan oleh perjalanan hidup yang dilalui dan sangat dipengaruhi oleh isu dan beban emosional dalam diri yang belum mampu terselesaikan.  Bisa jadi diri kitalah pelaku kekerasan emosional itu sendiri.  

Alih-alih menuding pihak lain sebagai toxic person, kita sendiri apakah bukan salah satunya?

Memiliki komitmen dalam berumah tangga berarti kita memutuskan untuk belajar dan tumbuh bersama. Sudah semestinya kita saling mengenal, belajar mengelola emosi dan ekspektasi diri. 

Tidak mudah memang, karena seringkali kita tidak menyadarinya. Tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan dan menyelesaikannya.

Dalam pendidikan seorang dokter spesialis kejiwaan, sebelum mereka memulai kurikulum pendidikan, mereka diminta untuk mengenali kelemahan jiwanya sendiri, sehingga mampu  mengelola dan menyelesaikan isu-isu emosional yang mereka bawa selama ini, sebelum mereka bisa membantu orang lain.

Bila saja Alex tidak melarang Sean berhubungan dengan Hank, lebih objektif menilai Sean, menghargai usahanya untuk belajar menjadi lebih baik. Bila saja Alex menerima pendapat Sean, mungkin Maddy akan tetap merasakan kehangatan kasih kedua orangtuanya secara utuh.

Saya yakin sosok seperti Alex dan Sean bukan hanya tokoh fiktif belaka, Andai saja di luar sana para Alex dan para Sean mau bersama tumbuh dan belajar, angka perceraian pasti berkurang.  

Saya tahu pernikahan memang tidak semudah dan seindah ketika kita jatuh cinta. Pernikahan adalah sebuah kerjasama.  Kerjasama yang sangat keras. Peluk jauh dari saya untuk para pasangan yang tetap bertahan dan belajar mengelola emosi dan harapan mereka dalam mempertahankan rumah tangga mereka.