Terlalu banyak yang bisa dikatakan tentang Mahbub Djunaidi karena alasan yang sangat jelas: ia menjalani karir jurnalistik yang menonjol selama empat dekade. Ia termasuk bintang jurnalistik Indonesia generasi kedua di era kemerdekaan setelah Rosihan Anwar, Mochtar Lubis dan B.M. Diah.

Dalam catatan kecil ini saya hanya ingin menuturkan faset ringan dari kepenulisannya berdasarkan kolom-kolomnya, terutama di harian Kompas dan majalah Tempo.

Mahbub pernah bercerita tentang kunjungannya ke Jepang, dan janji berjumpa dengan sastrawan Ajip Rosidi, yang kala itu telah beberapa tahun menetap dan mengajar di sana.

Turun di sebuah stasiun di Tokyo, ia disambut Ajip, dan mereka langsung mencari rumah makan karena Mahbub lapar, sangat lapar.

Sebagai tamu yang tak kenal seluk-beluk kota itu, Mahbub sepenuhnya taat pada tuntunan tuan rumahnya. Perut tipisnya terus berderik.

Mereka tak henti berjalan kaki keluar-masuk gang dan pertokoan, dan Mahbub tak kunjung melihat tanda-tanda Ajip akan segera mengatasi rasa laparnya. Akhirnya dia bertanya, sebetulnya dia mau dibawa ke mana oleh sahabatnya itu.

Syukur alhamdulillah, tak lama kemudian mereka masuk ke warung hamburger. Mahbub lega. Akhirnya vakum perutnya akan segera terisi. Tapi ia juga kecewa. Setelah satu jam berjalan kaki dengan perut merintih-rintih, ternyata ujungnya cuma sepotong roti lapis Amerika.

Mengapa tempat itu yang dipilih Ajip untuk menjamu tamunya? Tidak jelas. Sang tamu pun sungkan untuk menyoal.

Tapi kesimpulan post-factum Mahbub mengejutkan: di negeri yang semua tulisan di tempat-tempat publiknya  menggunakan huruf Kanji itu, tampaknya Ajip Rosidi "tidak bisa membedakan antara restoran dan toko potret." Jadi dipilih saja yang paling jelas: warung hamburger.

Mahbub, seperti banyak intelektual segenerasinya, kagum atau setidak-tidaknya suka mengikuti tindak-tanduk legenda RRT, Mao Zedong.

Mao, menurut Mahbub, pernah mengirim isyarat kepada lawan-lawannya di dalam dan luar negeri bahwa ia masih sangat kuat meski usianya sudah 70 tahun.

Cara Mao pamer kekuatan sangat mengesankan. Ia berenang menyeberangi Sungai Yangtze, dan setibanya di seberang, ia "langsung menyantap sebaskom mie tanpa berkedip." Betapa perkasanya Sang Ketua. Jadi jangan coba-coba menantangnya.

Lalu apa yang dimaksud dengan revolusioner, yaitu orang yang menggerakkan revolusi atau terinspirasi oleh keharusan perubahan besar-besaran di suatu negara?

Bagi Mahbub, kaum revolusioner itu punya ciri-ciri tertentu. Misalnya, mampu berpikir strategis, mampu menyusun barisan perlawanan, memegang suatu ideologi tertentu yang diyakini dan prinsip-prinsipnya diterapkan secara teratur dan bertahap.

Jadi, katanya, kalau ada "tukang daging mengamuk di pasar dan acung-acungkan dia punya golok," itu bukan revolusioner. "Itu orang kalap biasa yang kepalanya mesti disiram air kulkas."

Ia memuji Abdurrahman Wahid, dan sudah sejak 1972 mengutip tulisannya tentang pesantren sebagai subkultur. Tokoh muda NU yang menetap di Jombang itu disebutnya "berbadan gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum."

Ia juga menulis khusus tentang buku mashur Prof. Koentjaraningrat, seorang antroplog UI. Antropolog? Pangkat apa pula itu? "Kalau astrolog sih sudah banyak yang tahu," katanya.

Lalu Mahbub mendaftar sejumlah kesalahpahaman orang tentang lingkup kerja antropolog, "yang dianggap sekadar tukang ukur tengkorak" dan "tak henti-hentinya mencari missing-link sampai kaki kesemutan."

Sedangkan futurolog "sebetulnya semacam dukun juga, cuma keluaran sekolahan."

Membahas buku Koentjaraningrat, khususnya tentang pengertian "modern",  Mahbub selain mengutip Clyde Kluckohn juga mengulas ciri-ciri orang modern dari Alex Inkeles. Antara lain: hemat, punya rencana dan organisasi, percaya bahwa dunia ini bisa diperhitungkan, "bukan pasrah pada nasib-nasiban."

Ia akhirnya menekankan pentingnya memahami dan mengamalkan kemoderenan itu bagi bangsa kita, supaya "jangan sampai orang jalan ke depan, kita jalan miring."

Saya cukup menyesal karena tidak sanggup mengingat semua ungkapan dan diksi Mahbub Djunaidi dalam kolom-kolomnya yang saya baca sejak saya duduk di bangku SMA.

Tapi saya ingat tulisan Mahbub untuk buku peringatan 80 tahun Bung Karno. Ia mengambil angle unik: menceritakan percakapannya dengan sarjana Rusia ahli Indonesia.

Menurut si pakar Rusia, Soekarno bukanlah seperti digambarkan oleh kebanyakan orang selama ini. Bung Karno bukan sekadar pejuang kemerdekaan, bukan proklamator, bukan ketua partai, dan sejumlah "bukan" lainnya.

Maka Mahbub pun bertanya: "Jadi, siapakah Bung Karno itu, Tuan? Angin?"

Saya juga ingat bagaimana ia menggambarkan situasi politik yang sering tak menentu di negara-negara Amerika Latin.

Di sana, kata Mahbub, revolusi sangat sering  terjadi, "persis orang ganti singlet."

Ia juga menyinggung sastrawan-sastrawan Latin yang menonjol seperti Cortazar, Garcia Marquez, Vargas Llosa. Menurut Mahbub, mereka itu terinspirasi oleh Pablo Neruda, "yang pipinya tembem"; seorang penyair Chile yang terlalu mencintai Presiden Allende yang terguling dan tewas, "sehingga tak lama kemudian dia ikut mati."

Kembali terkait dengan Ajip Rosidi, Mahbub pernah menerjemahkan karya mashur Michael Hart tentang 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah, diterbitkan oleh Pustaka Jaya pimpinan Ajip.

Di dalam buku serius itu pun kita tercengang melihat betapa Mahbub menerjemahkannya dengan begitu rileks, dengan pilihan diksi yang keserampangannya menggelikan.

Untuk tokoh-tokoh sangat terhormat atau bahkan disucikan pun, Mahbub menyebut bahwa mereka bukan lahir atau dilahirkan, melainkan brojol. Jadi, "Yesus brojol di Betlehem pada tahun...."

Muammar Khaddafi, pemimpin Libya yang berkobar-kobar, dalam suatu konperensi negara-negara Arab seperti diceritakan oleh Hassanain Haikal dalam Road to Ramadhan yang diterjemahkan Mahbub, sering memaki para pemimpin Timur Tengah dengan "Sontoloyo!" Saya penasaran ingin tahu apa kosakata Inggris yang ia terjemahkan menjadi umpatan favorit Bung Karno itu.

Saya bayangkan ia menerjemahkan buku-buku itu bukan kalimat per kalimat, tapi per paragraf atau bahkan per halaman. Ia tak merasa perlu untuk terlalu setia pada teks asli. Ia sangat percaya diri dengan pemahamannya atas teks itu lalu mengindonesiakannya dengan caranya sendiri.

Ia setidaknya sudah menerjemahkan sejumlah buku dengan  gaya penulis yang berbeda-beda (Hart, Haikal, George Orwell, Art Buchwald), tapi semuanya tunduk pada gaya personal sang penerjemah. Semua buku itu jadi seakan karya asli Mahbub Djunaidi.

Semuanya mirip belaka gayanya dengan novel karya aslinya sendiri yang memenangkan Hadiah Buku Utama 1974, Dari Hari ke Hari, yang mengisahkan pengungsian keluarganya ke Solo setelah kemerdekaan.

Mereka berdesak-desakan naik kereta yang tak berlampu, dengan kaca-kaca jendela yang retak atau bolong sama sekali. Dengan kondisi yang sangat tak nyaman itulah, katanya, "kereta terus melaju memasuki tenggorokan malam."

O, ya, di dalam kereta ia juga ketemu macam-macam orang. Antara lain  seorang penyelundup ban yang sangat cerewet dan suka tertawa terbahak-bahak sampai tubuh tambunnya terguncang-guncang. Badan orang itu gemuk tapi kepalanya kecil. "Sehingga kepalanya bagaikan benda asing yang menclok di lehernya."

Lihat, selain menyusun kalimat yang sangat khas, dengan struktur yang tak selamanya beres, Mahbub juga memilih diksi yang agak ganjil tetapi "benar", kocak dan memikat. Misalnya, ia menyebut "air kulkas" dan bukan air dingin. Ia menawarkan asosiasi Bung Karno dengan "angin". Ia membuat perbandingan yang cukup jauh, "restoran dan toko potret."

Tidak ada penulis lain Indonesia yang menulis seperti Mahbub Djunaidi. Ia the one and only dalam kancah penulisan kita. Ia mengolah langgam dasar dan idiom kebetawiannya dengan cemerlang.

Rupanya ia sangat terinspirasi oleh satiris Amerika yang dikaguminya, Art Buchwald. Tak ada yang asli di bawah matahari, memang. Dan keaslian memang tak selalu perlu.

Tapi Mahbub Djunaidi menyajikan ketidakasliannya dengan cara yang amat mengesankan -- dan dalam arti ini ia orisinal. Ia  menambahkan  sentuhan-sentuhan personal yang unik dan begitu kuat, sampai seorang pembaca remajanya masih terus terkenang akan karya-karyanya hingga puluhan tahun kemudian.

Tapi saya mohon maaf jika ada yang tak akurat dalam kutipan dan parafrase saya untuk tulisan ini. Saya perlu minta maaf, sebab sebagai penulis saya patuh pada petuah Mahbub Djunaidi (1933-95) bahwa "fakta mesti dijunjung seperti mertua."