Mahbub Djunaidi dikenal piawai menulis kolom mengenai berbagai persoalan berat, kebanyakan soal politik, dengan kejenakaan dan keterusterangan yang konsisten menjadi ciri khasnya. 

Sebagai kolumnis cum sastrawan, Mahbub menunjukkan kebolehannya menulis kritik-kritik dan pesannya melalui adegan yang hidup, kocak dan spontan tanpa kesan melebih-lebihkannya. Dus, kolom-kolom Mahbub menjadi bernas dan menyegarkan.

Seperti dikatakan KH. Chatibul Umam, bahwa Mahbub adalah pejuang yang pintar menulis. Ciri khasnya, ia menulis sekali jadi. Hasilnya alamiah dan spontan. Sebagaimana bung Karno juga pernah menyanjung Mahbub sebagai orang yang sopan, tegas dan lincah. Menurut saya, sanjungan bung Karno itu juga tercermin dalam kolom-kolomnya. 

Mahbub mempunyai wawasan dan pergaulan luas. Ia adalah seorang wartawan, sastrawan, aktivis dan politisi namun tidak kehilangan akar betawinya yang sopan, lugas dan jenaka. Mahbub adalah prototipe seorang Betawi modern yang tidak terjebak ke dalam tendensi identitas sempit dan primordialisme ketika bercakap-cakap di lingkungan masyarakat Indonesia yang kosmopolit. Sikap ini ia tunjukkan dalam salah satu kolomnya, begini;

Kalau toh saya masih gandrung juga kepada gelar-gelar kerajaan, paling-paling kesempatan yang masih terbuka adalah jadi raja lenong yang biasa bertolak pinggang dan menjerit-jerit di panggung sekuat suara. Begitu pertunjukan usai, selesailah pula fantasi, pulang ke rumah makan gado-gado persis seperti penduduk biasa. Tak lebih. (Bangsawan, Kolom Asal Usul, Kompas, 30 Agustus 1987).

Mahbub yang seperti dikatakannya sendiri lebih suka disebut sastrawan alih-alih kolumnis itu begitu pandai menuliskan adegan-adegan peristiwa yang dihidupkan dengan menggunakan alur cerita, dialog dan penokohan sehingga kolom-kolomnya tidak membosankan karena selalu menawarkan kebaruan, refleksi dan imajinasi yang langka dan tentunya jenaka. 

Sebagaimana terlihat dalam salah satu kolomnya yang mengisahkan adegan dialog antara hakim dan seorang wanita PSK, begini:

“Apa agamamu?” Tanya hakim.

“Saya tidak punya agama,” jawab Elly tegas.

“Lho, tinggal di Indonesia kok tidak punya agama?”

“Ya, saya sengaja tidak menyebut punya agama. Sebab, jika saya mengaku punya salah satu agama, selain Tuhan akan mengutuk, umatnya pun akan mencela.”

“Kalau begitu kamu lebih pantas dibuang ke Moskow, ya?”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” jawab Elly berulang-ulang.

 “Lantas, selama ini apa kerjamu?”

“Minum-minum, jalan-jalan, terus molor.”

“Buat apa minum-minum?”

“Menghilangkan derita, pak Hakim.”

“Kamu WTS, ya?”

“Siapa bilang saya WTS! Saya minta saksi siapa saja di Bandung sini yang pernah pakai saya…”

“Wah, mana ada lelaki yang mengaku?!” kata Hakim.

(Elly, Asal Usul, Kompas, 1 Maret 1987)

Mahbub mempunyai empati dan perasaan kemanusiaan yang mendalam terhadap berbagai persoalan yang menimpa orang-orang pinggiran. Banyak fenomena dan peristiwa tragedi menyedihkan namun disampaikan Mahbub dengan kejenakaan tanpa mengurangi empati dan pembelaannya terhadap nasib orang-orang malang. 

Seperti dikatakan Fariz Alniezar, bahwa Mahbub dengan gaya tulisannya yang humoris mampu mengubah tragedi menjadi komedi. Bukan berarti menjadikan tragedi sekadar objek bahan komedi dan menertawakannya semata namun meninggikan makna tragedi dan komedi menjadi refleksi yang menumbuhkan empati dan sikap adil.

Komedi atau humor seringkali lebih efektif menjelaskan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan analisis canggih sekalipun karena humor tidak hanya mengajak kita berpikir namun juga mengajak bagaimana merasakan dan berempati terhadap liyan. 

Seringkali analisis dan metode-metode berpikir secanggih apapun masih mengandung celah kesalahpahaman, kesan yang tidak baik dan sebagainya. Namun humor seringkali, meskipun tidak menutup kemungkinan kesalahpahaman, adalah medium komunikasi yang lebih baik. 

Bagaimanapun, humor sering kali lebih netral karena mampu meleburkan kekakuan dan keseganan dalam berkomunikasi yang sering kali menimbulkan kesalahpahaman. 

Mahbub adalah kolumnis yang jeli melihat fungsi humor sebagai medium komunikasi yang efektif meleburkan kekakuan dan sikap segan. Melalui salah satu kolomnya Mahbub bercerita mengenai sikap angkernya Benny Moerdani, Pangab di era Orde Baru yang dikenal sangar dan jarang sekali tersenyum itu namun ternyata masih mempunyai selera humor yang boleh dibilang lumayan, begini:

Pada saat majalah Tempo berulang tahun di Hotel Sahid tahun lampau, diadakanlah diskusi yang menampilkan Benny Moerdani sebagai pembicara utama dengan moderator Fikri Djufri. Macam-macamlah persoalan yang diajukan wartawan, menyangkut kebebasan pers, masalah tanggungjawabnya terhadap kestabilan, dan hal-hal semacam itu. 

Tapi ada satu pertanyaan aneh. Pertanyaan ini datangnya dari wartawan, Aristides Katoppo. Dengan enak dia bertanya sesudah terlebih dahulu minta maaf: “Kenapa sih Benny jarang ketawa dan senantiasa cemberut?” 

Benny menjawab dengan contoh: “Menurut kepercayaan Cina, saya ini dilahirkan dalam “tahun monyet” Saudara-Saudara tahukan monyet itu, antara ketawa dan merengut tidak ada bedanya.” Para hadirin tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban yang jitu dan bagus itu.

(Wajah, Asal Usul, Kompas, 20 Maret 1988)

Mahbub Djunaidi adalah seorang jenaka atau humoris yang sangat peka melihat sisi humor dari siapa pun dan di mana pun. Barangkali kepekaan Mahbub dalam melihat sisi humor di luar dirinya karena sikap tawadlu atau rendah hatinya sehingga ia tak segan belajar dan menyerap makna humor dari siapa pun. 

Sebab kejenakaan atau humor ternyata bisa menjadi milik siapa pun termasuk orang yang kita kira tidak mempunyai selera humor samasekali karena pembawaan diri yang angker dan jarang tersenyum. 

Humor seringkali juga menjadi medium yang mampu memecah kebekuan dan kekakuan dalam suatu pertemuan. Banyak hikayat dari pesantren yang mengisahkan peristiwa dramatis dalam suatu forum yang nyaris menjadi gegeran karena perdebatan tak berujung namun berubah menjadi ger-geran karena hadirnya humor.