Jika mahasiswa menyapa melalui chat WhatsApp (WA), aku biasa membalasnya. Jika mahasiswa menyapa di Messenger, aku juga biasa membalasnya. Jika mahasiswa menandai diriku di posting Facebook-nya, aku biasa melihatnya. Jika mahasiswa menyukai (like) atau dan mengomentari statusku, baik di FB maupun IG, aku juga biasa melihat dan juga mengomentarinya. 

Aku pun begitu, biasa menyapa mereka melalui media sosial (medsos) tadi, baik di WA, FB, IG, dan messengger. Apalagi menyukai dan mengomentari status, posting mereka, kami sering saling berbalas komentar.

Dengan medsos, "jarak" kami makin dekat. Mereka di Mamuju sedangkan aku di Polewali Mandar, misalnya, tidak masalah, masih sama-sama di Sulawesi Barat ini. Walaupun begitu, berbeda negera pun bukan masalah lagi, ada medsos gitu lho.

Namun, yang masalah, alias luar biasa, jika ada yang menelepon. Ya, menelepon di hape pakai pulsa (original) bukan yang pulsa data atau numpang wifi-an agar bisa berhubungan melalui medsos.

Itu Rusly (sebelumnya, dia "memiskolku" namun tidak kuangkat). Rusly, salah seorang mahasiswa yang "dekat" denganku. Walau bukan hanya Rusly yang dulu sering menelepon, namun juga nama-nama yang lain karena mereka adalah ketua tingkat (keti) dan wakilnya yang menanyakan tentang kehadiranku akan datang atau dan kapan kelas dimulai, misalnya.

Tapi, telepon dari Rusly, agak istimewa. Mengapa? Karena aku pada semester lalu, semester ganjil kemarin tidak punya kelas (jadwal mengajar) di ruangnya. Kemudian, dia mencariku di semester ini, karena melihatku lagi-lagi tidak mengajarnya di semester genap ini. Dia juga menanyakan keberadaanku yang disangkanya aku telah pindah kampus. 

Memang, di semester kemarin aku "tidak sibuk" untuk mengajar. Aku disibukkan dengan persoalan pribadi; "mengurus berkas dosen" di Makassar, kursus pemikiran di Jakarta, menulis jurnal, dan sebagainya sampai merawat orang tua yang lansia. Sehingga, aku tidak mengajar Rusly dan kawan-kawan selama satu semester yang mungkin membuat mereka kehilangan, rindu denganku. 

Lain lagi ketika mendapat jadwal mengajar di semester satu. Aku belum pernah sekalipun bertatap muka dengan mereka. Sampai mereka sendiri lebih mengenal asisten dosen atau si asdos dibanding dosen mereka sendiri, (anyway, thx Asdos). Oh, mahasiswaku sayang, mahasiswaku malang.

Mahasiswaku Sayang, Mahasiswaku (di) Mamuju.

Sewaktu kuliah dulu, aku mengenal banyak tipe dan karakter dosen. Ada dosen yang suka melucu, karakternya humoris sehingga di kelas kita tidak hanya belajar materi bahkan ber-stand up comedy. 

Ada dosen yang serius, masuk kelas bikin aku sport jantung. Ada dosen yang cantik sekaligus modis yang ketika dia mengajar, kami sibuk memperhatikan fashion style terbarunya. Ada dosen yang suka menulis di koran, yang membuatku ingin mengikuti jejaknya. Ada dosen yang suka "berpetualang" dibanding mengajar dan lain sebagainya.

Aku menerapkan beberapa "prinsip" dosen yang telah mengajarku untuk kuterapkan pada mahasiswaku. Aku yang tidak suka sesuatu yang monoton, terlalu serius, suka yang santai, dan di outdoor bukan indoor. 

Hal-hal tersebut kuaplikasikan pada mahasiswa. Di kelas, aku berusaha untuk santuy, mereka boleh menyanyi sambil main gitar di ruangan. Namun dikritik juga oleh mahasiswa yang lain sebagai sesuatu yang tidak seharusnya, karena belajar harus serius. 

Kuajak seorang dosen tamu untuk menemaniku mengajar, agar mereka tidak bosan denganku. Apalagi, dosen tamu yang membantuku adalah seorang "pakar" ilmu pengetahuan di bidangnya. Namun, dianggap kalau dosen asli tidak mampu dan tidak cerdas. Padahal, menurut pandangan mahasiswa bahwa dosen adalah makhluk Tuhan yang paling pintar. 

Ketika kuajak belajar di kafe, mereka lebih suka di kelas yang katanya memang tempatnya. Ah, mahasiswa memang selalu benar (kata-kata versi dosen).

Kembali ke Rusly. Rusly adalah salah satu dari beberapa mahasiswa yang "mau" menuruti semua mauku, dan menyukai anti mainstream yang kulakukan. Ketika belajar di luar kampus, dia paling bersemangat. Ketika melakukan study banding, dia pasti ikut. 

Diajak jalan, nongkrong pun asyik. Kami sering jalan ketika ada kegiatan bedah buku di Resensi cafe atau sekedar duduk-duduk dan makan kacang dan jagung rebus di pantai Manakarra, Mamuju, dan lain-lain.

Dia pun sering mengajak teman datang ke kostku, dan kami biasa berdiskusi. Bukan cuma berdiskusi, Rusly sangat ringan tangan, dia anak laki-laki yang suka menolong. 

Kali ini, aku ingin mengucapkan; Rusly, terima kasih sudah ditelepon. Kamu mengingatkanku akan tugasku utamaku. Terima kasih juga sudah memercayai diriku sebagai teman curhatmu membahas masalah kampus yang seabrek-abrek.

Maafkan aku yang belum bisa menemani di kampus. Tapi, ketika aku datang nanti, banyak agenda yang akan menanti. Kita akan belajar bersama. Kita akan "program" baru. Kita akan diskusi. Kita akan bedah buku. Kita akan pergi mengajar di tempat terpencil. Kita akan nongkrong di pantai. Kita akan berpetualang makan durian. Kita akan nonton di Cinemaxx, apalagi ya?

Pokoknya, Rusly pasti jadi "peserta" pertama karena Rusly is the best bersama sederet nama lainnya seperti; Ita, Al Fattah, Indra, Jams, Rina, dan lain sebagainya yang tidak bisa kusebutkan satu per satu.

Mahasiswaku sayang, I love you, all.