Tidak bisa dimungkiri banyak tradisi yang dulunya menjadi formalitas dan kebiasaan yang rutin dilaksanakan kini mengalami banyak perubahan dalam pelaksanaannya. Salah satu perbedaan paling signifikan ditanggung oleh mahasiswa lulusan 2020 yang notabene tidak bisa merayakan perayaan wisuda yang mana mungkin menjadi momen yang diimpikan banyak orang. 

Selebrasi wisuda atas perjuangan yang dilakukan selama menempuh pendidikan di bangku perkuliahan memang bukanlah suatu kewajiban. Ada beberapa orang yang justru memilih untuk tidak ikut ambil bagian karena berbagai macam faktor, salah satunya yang mungkin tidak asing lagi ialah Suhay Salim, seorang beauty vlogger yang mengeklaim bahwa dirinya mangkir dari seremonial kampus itu karena alasan pribadi.

Tahun 2020 menjadi sejarah besar bagi perguruan tinggi karena untuk pertama kalinya wisuda di seluruh dunia mengalami pergantian tata cara pelaksanaan dari offline menjadi online, bahkan tak sedikit kampus yang justru memilih untuk meniadakan wisuda.

Jika kamu menjadi salah satu lulusan 2020, bagaimana perasaanmu? Sedih dan merintih? Atau justru happy-happy aja karena toh banyak keuntungannya dari segi finansial?

Dengan ditiadakannya wisuda atau diubah menjadi online memang menguntungkan bagi kesejahteraan kantong. Tidak perlu buang duit untuk membeli tiket keluarga khususnya yang punya banyak sanak saudara dan semua ngotot mau hadir di tempat perantauanmu sebagai saksi atas pencapaian yang sudah kamu selesaikan.

Tidak perlu sibuk memikirkan make-up artist dan fotografer mana yang akan kamu percayakan menjadi orang-orang di balik pembuatan sejarah momen wisudamu, dan tentu tidak pusing mencari mana yang termurah tapi berkualitas.

Banyak perintilan lain yang sebenarnya menjadi nilai baik, setidaknya dari segi ekonomi. Hal ini tidak akan menambah kerut di dahi orang tua.

Tapi apa kabarnya mereka yang justru sudah memimpikan hari itu akan tiba? Mereka yang sudah mempersiapkan banyak hal untuk itu, terutama mental untuk menyelesaikan perjuangan.

Jelas saja, urusan berjuang dan menyelesaikan pertempuran (dengan skripsi) bukan perkara mudah. Mereka yang mampu berdiri di garis finis memang sudah sepatutnya kita beri apresiasi melalui sebuah selebrasi.

Namun, ketika selebrasi terancam keberadaannya ulah makhluk tak kasatmata bernama Covid-19, apa yang harus dilakukan? Pamer foto wisuda? Tunggu dulu, sepertinya ada “konsep menyemangati” yang kurang tepat di sini.

Belakangan media sosial khususnya Instagram ramai mempertontonkan mereka-mereka yang berhasil memakai toga idaman sambil tersenyum seorang diri, bersama orang tua, bersama teman, dan bersama orang terkasih lainnya.

Asal mula unggahan ini sebenarnya bertujuan baik, yaitu untuk memberi semangat bagi mereka-mereka, class of 2020, yang gagal merayakan wisuda. Unggahan ini seyogianya berusaha supaya para mahasiswa yang gagal wisuda tidak patah semangat, tetapi sebaliknya justru harus bangga karena sudah berhasil lulus dan mendapat gelar.

Tapi, opini penulis tidak mampu menerima mentah-mentah tujuan baik ini. Maaf untuk semua pihak yang kecewa.

Jujur, melihat pameran foto di timeline kok rasa-rasanya menyayat hati, ya? Bukan jadi makin semangat atau apa pun yang dimaksudkan dari unggahan tersebut, perasaan saya malah makin melayang ke mana-mana. Saya jadi membayangkan akan sebahagia apa saya jika berdiri di samping ayah-ibu sambil tersenyum lebar dengan setelan toga kebanggaan kampus.

Ah, rasanya unggahan-unggahan itu makin membuat saya ciut, merasa ada kebahagiaan yang justru sirna sebelum berhasil saya rasakan. Apalagi bagi saya, perantau beda pulau, membawa orang tua ke tanah perantauan untuk menyambut dan menerima kerja keras saya sembari berucap “selamat borubapak-mama bangga. Terima kasih, ya” yang mungkin akan diikuti dengan setitik dua titik air mata adalah suatu impian yang belum tercapai dan tidak tahu apakah akan tercapai (syarat dan ketentuan: tergantung keberadaan Covid-19).

Bisa dibilang cara yang dilakukan para wisudawan terdahulu ini dengan menggaungkan #WisudaLDR2020 salah strategi. Ibarat ingin menghibur tetapi justru menabur garam pada luka. Perih, cuy!

Ngapain mereka sibuk memberi kata motivasi dengan embel-embel wisuda hanya euforia semata tetapi dengan puasnya sambil memamerkan salah satu momen berkesan dalam pencapaian hidupnya? Bukannya terlihat ber-empati tetapi malah terkesan pamer. Iya pamer, karena saat melihat foto #WisudaLDR2020 serasa ada yang bisikin "kasihan deh lo gak bisa ngerasain..."

Begitulah yang terjadi, ada banyak pihak yang mencoba menerima keadaan, tidak menyalahkan siapa pun karena kondisi seperti ini bukan atas keinginan sendiri. Dan ada pihak yang tujuannya baik namun caranya justru berhasil menambah jiwa-jiwa melankolis (diam-diam setelah membuka media sosial, ada hati yang makin rapuh, air mata yang entah bagaimana mengalir seenaknya, dan jiwa yang sesak untuk alasan yang sukar dijelaskan)

Bagi kalian class of 2020, terima kasih sudah berjuang hingga mencapai garis finis. Kebahagiaan besar menanti untuk kau miliki. Cheers!