Wiraswasta
2 tahun lalu · 146 view · 3 min baca menit baca · Sejarah unnamed_9.jpg
Sumber: kitlv.nl

Mahasiswa: Menjadi Indonesia atau Modern?

“Indonesia" saat ini adalah azimat agar barang dagangan laris. “Indonesia” lebih sering menempel pada barang-barang dari pada di dalam tubuh. 

Dahulu Indonesia adalah azimat untuk berani mati! Mereka yang dianggap memasyhurkan "Indonesia" adalah gerombolan mahasiswa di Belanda! Indische Vereeniging nama gerombolan itu. Nama itu berubah jadi Perhimpunan Indonesia (PI), dengan media mereka bernama Indonesia Merdeka. 

Saat perubahan nama menjadi PI itu, gagasan Indonesia sebagai nasionalisme, tanah air, persatuan, dan hasrat merdeka mulai mengerucut. Tapi, apakah gagasan menjadi Indonesia telah ada sejak para mahasiswa itu berangkat ke Belanda? Atau hasrat mereka ke Belanda adalah kemodernan dan bukan keindonesiaan?

*****

Bagi Arnold Mononutu, Indonesia itu bermula dari meja makan di sebuah restoran di Belanda. Keberangkatan Mononutu ke Belanda untuk belajar tidak pernah membawa keindonesiaan dalam dirinya. 

Mononutu ke Belanda bukan untuk menjadi Indonesia, tapi untuk menjadi modern. Bahkan, Mononutu sendiri menyuruh Naleenan, penulis biografinya untuk menuliskan: "Tulis, tulis di situ, pada biografiku, bahwa aku betul-betul bermental kolonial!" (Arnold Mononutu, Potret Seorang Patriot, 1981: 15). 

Mononutu mulai berpikir Indonesia sebagai sebuah gagasan saat makan bersama Alex Maramis. Saat bertemu Maramis itulah, Mononutu diajak ke hotel De We Steden untuk mengikuti rapat perkumpulan seluruh mahasiswa Indonesia di Belanda yang diadakan oleh PI. 

Sejak saat itu, Mononutu menjadi Indonesia dan keindonesiaannya hampir tak pernah diragukan! 
Ia pernah terlunta-lunta di Paris karena tidak mau keluar dari Perhimpunan Indonesia. Ia tak mendapat kiriman uang dari ayahnya. Pemerintah kolonial saat itu menekan semua ambtenaar yang anaknya di Belanda dan ikut Perhimpunan Indonesia agar keluar dari organisasi itu. Jika tidak keluar, para ambtenaar harus menghentikan kiriman uang. 

Jika hal itu tidak dilaksanakan juga, maka pemerintah kolonial akan mendepak ambtenaar yang membangkang. Dan ayah Mononutu adalah ambtenaar. Ia takut dan tidak mengirim uang. Arnold Monunutu kelaparan di negeri orang.

Kita memang patut bercuriga niat mahasiswa ke Belanda itu bukan niat menjadi Indonesia tapi menjadi modern. Kita tahu, saat itu gelombang modernitas dan gagasan kemadjoean sedang mulai menyala. Eropa adalah kiblat modern bagi Hindia Belanda, dan bahasa Belanda adalah bahasa ilmu pengetahuan modern. 

Hanya dengan jalur pendidikanlah, kemodernan itu bisa diraih. Dan bahasa yang digunakan adalah Belanda. Meski, dalam catatan Abdul Rivai di Student Indonesia di Eropa (2000), bahasa Inggris sudah lebih mendominasi di dunia.

*****

Mohammad Hatta, sang proklamator, memiliki kepelikan dalam urusan pendidikannya. Keluarga Ayah dan Ibunya memperebutkannya. Hatta diharapkan menjadi seorang ahli agama dan belajar ke Mekah serta Mesir. Tapi akhirnya Hatta justru ke Belanda. 

Hasrat Hatta ke Belanda adalah untuk menjadi sarjana ekonomi. Imaji Hatta ke Belanda adalah imaji kemodernan lewat jalur pendidikan. Proses pendidikan di Belanda itulah yang memupuk dan mengerucutkan Hatta menjadi Indonesia.

Pendidikan Hatta adalah pendidikan hasrat menjadi modern baru kemudian menjadi Indonesia dengan melahirkan berbagai pemikiran seperti demokrasi dan ekonomi kerakyatan. 

Mungkin Soewardi Soerjaningrat yang berbeda dari mahasiswa lainnya saat berangkat ke Belanda. Sejak di Paku Alaman, Soewardi sudah memiliki bekal “pemberontak”. Ayahnya adalah orang yang “tersingkir” dari keraton. 

Dendam Soewardi terhadap kolonialisme sudah menyala sejak muda. Ia sudah dipenjara sebelum berangkat ke Belanda karena berulah dengan menulis Als Ik Nederland was. Karena itu, saat ia berangkat ke Belanda, ia sudah memiliki bekal gagasan “kesatuan para pribumi” atau bisa jadi disebut “keindonesiaan”. Soewardi, setidaknya sudah menginginkan dirinya menjadi Indonesia meski dalam bingkai kosmologi Jawa.

*****

Rentang waktu dari sukuisme yang mengarah ke proses menjadi indonesia itu masih gelap. Sebab, kita tahu hingga saat ini menjadi Indonesia dalam diri mahasiswa masih mesti dipertanyakan. 

Belum genap kemerdekaan Indonesia ini seabad lamanya, tapi Indonesia telah jadi bulan-bulanan percaturan berbagai ideologi besar dunia. Para mahasiswa, yang sebetulnya memiliki tanggung jawab gagasan keindonesiaan, sudah dibabat oleh berbagai kepentingan.

Kita pun boleh meragu, jadi mahasiswa saat ini bukan hasrat menjadi Indonesia. Sebab, mereka sudah merasa “yakin” bahwa dalam tubuhnya, Indonesia adalah gagasan “terberikan” sejak lahir. Maka, kiranya tidak perlu sibuk untuk mengurusi diri menjadi Indonesia.

Sebab itu, ketika para mahasiswa mengatakan bahwa: mereka “mengisi kemerdekaan dengan belajar sebagai estafet melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa”, hampir selalu berlapis kebohongan. Karena, para pahlawan bangsa itu lebih asing bagi mahasiswa dari pada CR7, Angelina Jolie, Seung Ming Hyo...

Sejarah Indonesia adalah makhluk asing bagi mahasiswa. Sejarah hidup pahlawan Indonesia bagi mahasiswa adalah sejarah berdebu di sudut tumpukan buku. Mahasiswa kini merasa lebih bangga jadi jamaah tepuk tangan dalam acara konyol televisi dari pada harus menjadi Indonesia.

Artikel Terkait