Apa kabar, Mas Menteri? Semoga keadaan Mas Menteri sedang baik-baik saja di tengah situasi pandemi saat ini. Masih sedang baik-baik saja dan tetap semangat seperti saat pertama kali Pak Presiden Jokowi menunjuk dan memperkenalkan Anda kepada publik di halaman Istana Negara sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Senyum sumringah yang Mas Menteri lemparkan ke publik saat itu membawa sinyal optimisme akan pendidikan kita.

Namun, tidak sedikit yang membalas itu dengan melempar rasa pesimisme. Mas Menteri dianggap tidak memiliki kompeten di dunia pendidikan. Karena selama ini kursi Mendikbud selalu diisi oleh praktisi atau pakar pendidikan yang telah lama berkecimpung di dunia pendidikan. Bergelar professor atau guru besar dengan segudang karya-karya buku, jurnal atau penelitian.

Sementara Mas Menteri adalah seorang pengusaha. Bukan sembarang pengusaha, tapi pengusaha sukses yang mampu membawa perusahaan yang didirikan dan dipimpin, yaitu Gojek mampu menjadi 20 besar perusahaan pengubah dunia fersi majalah Fortune di tahun 2019.

Itu sebuah prestasi luar biasa yang dimiliki anak bangsa. Tentu prestasi itu karena kemampuan manajerial yang mempuni disertai dengan inovasi-inovasi yang mampu menjawab tantangan zaman. Apalagi Mas Menteri juga merupakan Magister Business Administration jebolan Harvard Business School.

Apakah dengan basic keilmuan dan pengalaman yang dimilikinya akan mampu mengurus pendidikan di Indonesia dengan segala kompleksitas masalahnya? Apakah carut-marut pendidikan di Indonesia mampu diselesaikan atau paling tidak diminimalisasi oleh seorang yang berlatar belakang pengusaha? Ini di antaranya yang menjadi pertanyaan yang mengiringi rasa pesimistis publik terhadap nasib pendidikan Indonesia di tangan Mas Menteri.

Tetapi, bagi saya itu bukan masalah penting. Dipimpin oleh orang yang berlatar belakang praktisi atau pakar pendidikan pun, selama ini nasib pendidikan kita begitu-begitu saja. Tidak maju-maju, karena yang diurus kebanyakan hanya menyentuh perubahan-perubahan kurikulum semata. Tidak menyentuh hakikat atau substansi dari pendidikan kita.

Terjebak pada hal-hal formalistik dan prosedural yang rumit dan ruwet, yang bahkan sulit diaplikasikan oleh pelaku-pelaku pendidikan di bawah. Belum menguasai yang satu, ada lagi perubahan, muncul lagi hal yang baru. Berputar-putar di situ saja. Jangankan untuk maju, untuk ada pemerataan saja, sulit rasanya.

Saya kira, tidak salah kita menaruh harapan besar kepada Mas Menteri. Pengalaman memimpin dan mengelola perusahaan bisa diterapkan saat memimpin Kemendikbud. Dengan karakteristik anak muda yang semangat dan terobosan-terobosan serta inovasi-inovasi yang bisa menjawab tantangan zaman, bisa ada perbaikan bahkan kemajuan bagi dunia pendidikan kita.

Ternyata memang benar, terobosan dan inovasi mulai muncul. Di awal Mas Menteri menjabat, paket kebijakan “Merdeka Belajar” muncul. Merdeka belajar untuk sekolah dan juga merdeka belajar untuk mahasiswa yang disebut dengan “Kampus Merdeka”.

Mas Menteri berani melakukan terobosan, melakukan hal-hal baru di dunia pendidikan kita sebagai ikhtiar menyesuaikan dan menjawab tantangan zaman. Sistem pendidikan kita yang kaku diubah menjadi lebih fleksibel.

Namun, sungguh disayangkan, kebijakan itu belum terealisasi sepenuhnya bahkan masih dalam tahap sosialisasi, bangsa kita diterpa masalah besar dengan munculnya pandemi Covid-19. Bukan hanya bangsa kita, tapi hampir seluruh negara di dunia yang terkena. Bukan hanya di bidang kesehatan atau ekonomi yang terkena dampak buruk, tetapi juga pendidikan termasuk perguruan tinggi di dalamnya.

Sulit rasanya untuk merealisasikan secara ideal kebijakan “Kampus Merdeka” di tengah kita dijajah oleh pandemi. Perguruan tinggi terpaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan internet. Ini menjadi kebijakan agar proses belajar-mengajar tetap berjalan di tengah physical distancing.

Saya sebagai mahasiswa dan mungkin juga banyak mahasiswa lainnya berharap Mas Menteri menanyakan kabar kami di tengah situasi pandemi ini. “Apa kabar mahasiswa?” Kira-kira seperti itu. Seperti pertanyaan saya menanyakan kabar Mas Menteri di awal tulisan ini.

Mungkin Mas Menteri berharap kabar mahasiswa baik-baik saja. Tidak Mas Menteri, kami mahasiswa saat ini juga menjadi korban yang menerima dampak buruk dari pandemi. Harus menanggung biaya kuota paket data untuk mengikuti kuliah online.

Ada bantuan kiriman kuota dari kampus, tapi itu tidak cukup. Itu pun tidak semua kampus melakukannya, karena itu merupakan inisiatif sendiri dari kampus masing-masing Parahnya lagi kami harus membayar UKT di akhir semester di tengah kondisi ekonomi terpuruk saat ini. Juga harus memikirkan biaya-biaya lainnya kebutuhan perkuliahan.

Di kondisi mahasiswa seperti ini, Mas Menteri ke mana? Seakan mahasiswa dibiarkan begitu saja. Apakah ini merupakan salah satu bentuk realisasi “Kampus Merdeka”? Mahasiswa dibiarkan bebas begitu saja memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan kuota internet, bagaimana membayar UKT di tengah situasi ekonomi memburuk dan biaya-biaya lainnya. Saya kira, tidak seperti itu.

Mahasiswa di tengah pandemi ini sepertinya luput dari perhatian pemerintah. Tidak ada kebijakan khusus dari pemerintah untuk mengurangi beban mahasiswa. Beda dengan driver ojek online yang begitu diberi perhatian khusus. Begitu juga pelaku-pelaku UMKM dan masyarakat miskin atau yang terdampak langsung oleh pandemi. Mahasiswa? Tidak ada.

Kementerian Keuangan, Kementerian Ekonomi, Kementerian Sosial, Kementerian UMKM, Kementerian Tenaga Kerja juga Kementerian Desa bergerak dengan berbagai kebijakan untuk meringankan beban masyarakat dengan berbagai bantuan. Lalu Kementrian Pendidikan di mana? Apa kabarnya? 

Kenapa sudah jarang muncul seperti saat di awal-awal sebelum pandemi dengan komentar-komentar atau presentasi-presentasi mengenai kebijakannya yang bagi saya sangat meyakinkan? Kenapa Kementerian Pendidikan tidak menurunkan kebijakan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia khususnya yang berstatus negeri untuk membantu meringankan beban mahasiswa di tengah pandemi saat ini, salah satunya soal pembayaran UKT?

Menjadi wajarlah ketika di kondisi ini muncul dan tranding #MendikbudDicariMahasiswa atau #NadimManaMahasiswaMerana.