Sebagai mahasiswa yang tergolong tua, bukan tua karena umur ya, wqwqwq. Tentu ada banyak pengalaman yang mungkin telah ia lalui, entah itu suatu kepahitan atau pun kesenangan yang tiada tara. Akan ada fase-fase tertentu, di mana sosok mahasiswa yang berada di ambang panas-panasnya pikiran dan tindakan, sampai pada sikap dilematis, hal itu didukung dengan banyaknya tugas sampai pada penyusunan skripsi bagi mahasiswa semester tingkat akhir.

Untuk mahasiswa semester akhir (mahasiswa tua istilahnya), mungkin sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menikmati suasana fasilitas kampus, walaupun kondisi gedungnya sudah tua. Lah kan mahasiswa membayar UKT, atau mungkin agak radikal kalau itu disamakan dengan pembayaran kosan. Nah untuk itu, fasilitas kampus mesti sudah menjadi haknya oleh mahasiswa yang harus dipenuhi bagi pengelola kampus.

Namun, ada hal berbeda di tengah kondisi hari ini. Kita ketahui bersama bahwa pandemi Covid-19 yang melanda kita ini, telah banyak mempengaruhi bidang kehidupan mahasiswa, termasuk penetapan sistem pembelajaran online yang berjalan kurang lebih dua tahun lamanya ini. Nah, untuk mahasiswa angkatan 2020 dan 2021, mungkin masih ada yang belum pernah melihat kampusnya, karena memang masa pembelajaran online telah mereka dapatkan. Sungguh kasihan dan amat menyedihkan.

Sedikit berbagi pengalaman terkait kondisi mahasiswa di kampus saya Unsulbar (Universitas Sulawesi Barat), mengenai pemanfaatan fasilitas kampus. Dengan adanya pembelajaran online, tentu mahasiswa tidak bakalan menikmati fasilitas-fasilitas kampus karena perkuliahan dialihkan di rumah masing-masing hanya dengan menggunakan smartphone. Bukan hanya mahasiswa baru, mahasiswa lama pun tentu tidak merasakan lagi nyamannya gedung bersama dengan embel-embelnya itu.  

Hal yang membedakan antara mahasiswa lama dengan mahasiswa baru dalam hal mendapatkan fasilitas kampus, yakni kalau mahasiswa lama tentu sebelumnyan sudah pernah merasakan kondisi kampus, bahkan bisa saja tidak akan lama lagi untuk meninggalkan kampusnya itu.

Sementara, mahasiswa baru termasuk angkatan 2020 dan angkatan 2021, mungkin belum pernah merasakan bagaimana sensasi gedung kampus yang sebenarnya, sampai hari ini kampus masih menerapkan sistem perkuliahan online. Yah, semoga saja sih semester berikutnya sudah dapat berjumpa gedung kampusnya, berhubung sudah ada tanda-tandanya seperti sekolah sudah ada yang tatap muka.

Kembali pada kondisi kampus saya hari ini, suatu apresiasi yang sangat besar pada kampus Unsulbar karena pembangunan gedung kampus terus berlanjut. Padahal, waktu masih perkuliahan tatap muka dahulu, gedung kampus Unsulbar nampak seperti kampus mati.

Mengapa? Gedung perkuliahan seadanya dapat ditempati, kursi sebagian ada yang keok, ruangan sempit, kondisi kelas yang panas, dan ruang perkuliahan pun kadang meminjam gedungnya sekolah anak SMA karena memang keterbatasan ruangan. Nah, itulah pilu yang dirasakan mahasiswa Unsulbar sewaktu masih tatap muka, termasuk saya salah satu korbannya.

Kendati demikian, sehingga timbul berbagai reaksi mahasiswa dalam melakukan tuntutan pada pengelola kampus untuk mempercepat pembangunan. Aksi tuntutannya seperti melakukan mediasi langsung dengan Rektor, ataupun aksi demonstrasi di jalan dan di depan kampus. Namun, kadang kala tuntutan tersebut tak diindahkan oleh pihak kampus sendiri. Hingga akhirnya pun, semangat mahasiswa dalam melakukan tuntutan mengalami kepudaran, terlebih lagi saat berlakunya sistem perkuliahan online seperti sekarang, bahkan pembelajaran online ini bukan lagi hal tabu yang membuat proses pembelajran semakin sulit.

Mungkin suatu kejutan dengan adanya pandemi Covid-19, ternyata gedung perkuliahan kampus Unsulbar mengalami renovasi dan pembangunan saat tidak ada mahasiswa yang menyaksikan, suatu kejutan tak terduga. Gedung yang tinggi sampai pada tingkat lima dan deretan gedung kembar pun dipertontonkan. Alhasil, kondisi kampus Unsulbar akan digadang-gadang memiliki design bangunan yang dapat bersaing dengan kampus ternama di Indonesia.

Jelas itu adalah tanda kabar gembira bahwa kampus Unsulbar mungkin akan makin jaya, terus merenovasi diri agar dapat menjadi kampus terbaik khususnya di Sulawesi Barat. Namun yang menjadi sedikit gugatan, kenapa gedung baru itu mengalami keterlambatan pembangunan?

Mungkin bagi mahasiswa lama tidak akan lagi mendapatkan dan merasakan sensasi dari gedung baru tersebut, mengingat mahasiswa lama sudah ingin meninggalkan kampus tersebut dengan berbagai sudut tuntutan. Akhirnya, impian menikmati gedung baru sebagai balasan saat kuliah tatap muka dahulu kini hanyalah angan-angan saja.

Nasib mahasiswa lama yang tak bisa menikmati gedung baru tak pernah tergapai. Padahal, pembayaran UKT mesti dapat menjawab itu semua, bukan malah saat meninggalkan kampus justru pembangunan gedung baru itu dibangun. Mungkin itulah nasib bagi mahasiswa lama Unsulbar yang tidak bisa menikmati gedung baru dari kampus Unsulbar.

Jadi, timbul semacam kesedihan dan keharuan. Di sisi lain, sedih karena tidak sempat menikmati gedung baru yang masih dalam tahap pembangunan, dan di sisi lain pula terharu karena kampus Unsulbar sudah mempertontonkan dirinya sebagai kampus yang akan besar nanti.

Oleh karena itu, mungkin itu suatu hikmah yang telah melanda bagi mahasiswa baru, karena tentu semua punya fase dan masa masing-masing jelas akan berbeda. Lambatnya pembangunan gedung kampus, justru mengakibatkan mahasiswa lama tak pernah merasakan sensasi dan nikmatnya gedung itu, tak akan mendaptkan lingkungan kampus yang melihat para mahasiswa berbondong-bondong dan bercengkarama dengan kondisi hari ini dibawah naungan gedung tinggi Unsulbar.