Ada yang perlu dikuliti kembali tentang sejarah kepekaan terbesar mahasiswa Indonesia yang monumental pada fenomena sosial dan politik praktis tanah air. Mahasiswa pernah mengemban status golongan masyarakat yang paling diperhitungkan dalam sistem perpolitikan nasional, menjadi sumber kekhawatiran penguasa dan bahkan pernah menjadi dalang utama massa yang menggulirkan era pemerintahan. They “were” the most important society.

Tragedi Mei 1998. Semua orang memiliki subyektifitas dan pandangan yang berbeda-beda dalam memaknai apa dan siapa dibalik rentetan kerusuhan pelik yang membuat seseorang yang unshakeable seperti Soeharto menyatakan mundur setelah 32 tahun menjabat.

Tidak main-main sejarah ini untuk bisa dihapus dari daftar peristiwa penting nasional. Di dalam sana ada ratusan nyawa yang hilang tanpa rekonsiliasi, ada kehormatan puluhan perempuan yang melayang tanpa diadili dan pentas penculikan tanpa pernah kembali.

Ada golongan yang mengutuk keras kebrutalan mahasiswa di era itu, ada pula golongan anti “Keotoriteran Pemimpin” yang mengagumi loyalitas mahasiswa sebagai distributor suara-suara ketakutan rakyat.

Di luar dari narasi keberingasan dan pembangkangan mereka yang menstigma hingga wacana gerakan aktivis mahasiswa yang disebut-sebut berhasil diprovokasi oleh lawan politik penguasa, tetaplah tidak dapat ditampik bahwa ada kekuatan karakter dan ideologis mahasiswa era 1990-an yang harus diakui.

Mereka mengawal rezim-rezim yang tidak berpihak kepada rakyat, daya kritis yang mengejawantah padahal kebebasan pers belum diakui. Tingkat kepekaan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat belum dapat ditemukan tandingannya di era-era sebelum apalagi setelahnya.

Kini idealisme dan kredibilitas tergadai, mahasiswa-mahasiswa yang terindikasi bermental pejuang ditarik menjadi klien politik, tim sukses gelap partai, bertaklid buta pada pejabat. Mereka OMDO alias omong doang, asal ngumpul dan berseragam.

Sebahagian mahasiswa lainnya dihabiskan perhatiannya pada ketidakpastian masa depan yang katanya mengkhawatirkan, tugas kuliah yang terekspektasi di atas kertas, laptop yang dibuka tutup, smartphone yang terasa panas siang malam dan tongkrongan-tongkrongan minim diskusi berat.

Mereka mengatakan bahwa mahasiswa tidak akan mau lagi mengurusi politik, tidak berminat lagi mengemban status agent of change, social controler, dan the future leader yang mereka jadikan jargon bualan di hadapan mahasiswa baru tiap tahun. Mereka mengutuk mahasiswa 98 yang mengakibatkan kekacauan konstitusi, mereka terjejal opini.

Namun besaran dampak dari keapatisan dan sikap oportunistik mereka ternyata membuahkan kesukaran yang lebih besar. Rakyat melarat, dicekik dengan subsidi yang ditarik perlahan. Maling negara tidak lagi takut pada gerakan mahasiswa.

Tagihan air, listrik, gas, bensin, semuanya melambung pesat. Tidak ada lagi kepunyaan mereka sebelum itu terbayar padahal sumber daya alam sepanjang nusantara sejatinya lebih dari cukup memenuhi kebutuhan krusial.

Ironisnya, aset negara tak henti-hentinya berpindah tangan, warga negara asing datang bergelimparan, mereka menduduki lapangan pekerjaan, BUMN masuk daftar jualan, bandara dan jalan tol antri mengambil bagian, investasi asing merebak, tanggungan utang luar negeri mengungkung masa depan. Indonesia terjual.

Kenaikan harga BBM seribu dua ribu rupiah tidak lagi menjadi persoalan, tidak lagi memancing kepekaan seperti halnya dulu. Mahasiswa tetap belajar, tetap duduk bangga membahas apa definisi “ekonomi” di dalam kelas. Mereka menjadi kaum konsumtif tanpa tahu bahwa apa yang dikonsumsinya adalah hasil dari kebijakan politik.

Lagi lagi dunia terbalik. Dari yang semula mahasiswa sebagai pemikir nasib rakyat, kini rakyatlah yang mengkhawatirkan nasib mahasiswa. Mereka menjadi objek penularan kaum LGBT, perzinaan yang merebak, imoralitas yang hilang, bakat korupsi yang mentereng, paradigma mereka dijejali sekulerisme. Lupa pada agama.

Arus sistemik pendidikan perguruan tinggi justru bergerak sangat berlebihan pada dorongan menciptakan bakat entrepreneur yang ujung-ujungnya menghasilkan lulusan berdogma kapitalisme. Kecerdasan spiritual dan kepekaan sosial tidak lagi menjadi tujuan.

Beberapa perguruan tinggi kini malah dijejali penguasa sebagai kerabat melanggengkan kuasa maka upaya penangkalan radikalisme di kampus-kampus yang lebih cenderung mematikan semangat berIslam, begitu terasa.

Penjabaran yang berkonteks komparasi ini tidaklah menggugat mahasiswa millennial agar menciptakan pembangkangan besar, mengurangi perhatian diri pada keintelektualan berpikir untuk berprestasi, apalagi menciptakan konflik dan perpecahan.

Ini hanyalah untuk menggelitik para pemburu ijazah bahwa ada semangat, daya kritis dan kepekaan sosial dari mahasiswa 98 yang perlu dipinjam di zaman edan ini, untuk bergerak, beramar ma’ruf nahi mungkar.

Aksi demonstrasi besar-besaran 11 April 2022 kemarin semoga menjadi tanda bangkitnya mahasiswa dari tidur panjangnya. Semoga tidak hanya sebatas ceremonial belaka, apalagi sebatas pelengkap konten keren di ig story. Jangan tidur lagi yah, adik-adik!

Di luar dari konteks status mahasiswa yang diemban, ada gelar “Muslim” yang tersemat yang pada hakikatnya lebih dapat dijadikan alasan untuk memurnikan hidup pada perjuangan, bergerak menyuarakan apa yang haq dan melawan kebatilan-kebatilan.

“Kamu (Umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (Qs. Ali Imran :110)

Mahasiswa dengan kecakapan berpikir yang shahih pastilah menemukan bahwa sumber dari segala krisis sosial ekonomi sehingga negeri tak juga maju-maju adalah karena kekufuran sistem mengelola negara dan konsensus bersama buatan manusia yang terlanjur menjadi junjungan.

Maka tidak ada muara dan ujung pangkal untuk penanganan kemudharatan berjamaah ini selain mengambil Islam sebagai solusi, memakai syariat Allah secara kaffah dalam struktur bernegara. Tidak ada ideologi yang mampu menandingi harumnya keadilan dalam Ideologi Islam. Islam sejalan dengan fitrah manusia, selaras dengan arus peradaban. Bukan bentuk keterbelakangan. Islam itu memajukan.

Seperti halnya Khilafah al-rasyidah al-tsaniyyah yang pernah menguasai 2/3 dunia 1400 tahun lamanya, kekuatan mahasiswa Indonesia pun pernah menjadi sangat mengakar di era pra-reformasi meski singkat. Khilafah dan kekuatan gerakan mahasiswa sebagai penangkal kedzaliman penguasa. Keduanya selalu dinanti untuk kembali.