Terlepas dari berbagai sikap apatis, cuek, dan skeptisisme terhadap masalah-masalah sosial dan pergerakan mahasiswa, di sini saya akan mengemukakan pemikiran mengenai substansi dari pergerakan mahasiswa yang selama ini lagi semaraknya menggetarkan pemerintah dari beberapa masalah yang berkaitan dengan ekonomi, politik, dan sosial.

Berbicara mengenai konsep yang saya maksud adalah mencoba membuahi pikiran dengan hal yang selama ini dilupakan oleh mahasiswa di setiap pergerakannya. Inti pokok adalah substansinya, yaitu kejernihan berpikir dan kemurnian gerakan yang dilakukan.

Kejernihan berpikir bisa diasumsikan sebagai terlepasnya sekat-sekat yang merusak kejernihan nalar berpikir seorang mahasiswa. Di dalamnya terdapat idealisme tinggi serta jauh dari sikap kefanatikan, kepentingan politis, dan segala macamnya.

Idealisme akan terkikis apabila merambahnya sikap-sikap fanatik ke dalamnya dan menguasainya tanpa melihat bahwa itulah harta paling terbesar seorang mahasiswa. Idealisme merupakan kekuatan pikiran, argumen, dan tempat pergelutan antara pentingnya keadilan, kebenaran, dan kewajaran.

Kata “fanatik”  diasumsikan sebagai pandangan fundamental, sepihak, diselingi dengan kepentingan-kepentingan golongan yang di dalamnya tidak ada pikiran jernih, tidak adil, dan dianggap didalangi oleh beberapa pihak yang berkepentingan.

Idealisme pada Tempatnya

Ketika adanya idealisme dalam pikiran yang melihat secara mendalam berbagai ketimpangan-ketimpangan sosial politik yang menggerus bagaikan ombak di antara masyarakat, maka mahasiswa adalah ujung tombak yang berpotensi menggunakan idealismenya untuk menyuarakan atau menyampaikan aspirasi masyarakat yang dianggap tidak dapat berbuat apa-apa, dengan kata lain lemah dalam menantang kekuasaan secara masif.

Mahasiswa adalah bagian dari civil society yang didalamnya “diharapkan” mampu membersihkan pikiran inteleknya dari semua kepentingan politis yang fanatik. Dengan berbekal kejernihan nalar berpikir tersebut, mahasiswa mampu membawa lentera-lentera penderitaan rakyat untuk diperjuangkan.

Mereka adalah jiwa yang bisa secara bebas mengiringi langkah keluar dari keengganan mencapai perjuangan yang murni. Jiwa-jiwa bebas dan merdeka ini akan berhadapan dengan segala rintangan dan rayuan maut dari belahan angin mana pun. Hanya jiwa tangguh yang kemungkinan tidak akan melenceng dari pendiriannya.

Kejernihan Berpikir

Anehnya, dari kejadian akhir-akhir ini nampak bagaimana kejernihan berpikir mulai dikeruhkan oleh rasa fanatik seakan-akan menghilangkan idealisme yang tertanam dalam jiwa.

Mungkin sudah tidak asing lagi mendengar kutipan “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda” yang dicetuskan oleh seorang tokoh penggerak kemerdekaan, Tan Malaka.

Tak hanya itu, sebagian besar mahasiwa (apalagi aktivis) memang senang dan rajin mengoleksi buku-buku biografi, film, artikel, dan sebagainya yang berisi riwayat hidup tokoh-tokoh perjuangan intelek yang pada masanya sebagai mahasiswa disegani dan dianggap sebagai agen perubahan serta berpengaruh.

Sebut saja salah satu film yang sangat luar biasa membangkitkan rasa aktivisme mahasiswa, yaitu film “Gie”. Dalam film ini kita diajak untuk berpikir kritis dengan melihat bahwa lingkungan kampus sudah dijadikan sebagai kuda tunggangan oleh kelompok-kelompok kepentingan, baik internal maupun eksternal.

Secara tidak langsung, kesadaran Gie akan berbagai golongan-golongan mahasiswa yang bangkit berlandaskan preferensi nasionalisme maupun religiusitas sepihak tersebut membawa asumsi bahwa kejernihan idealisme intelek yang murni sudah dikotori oleh kepentingan politik praktis yang bersarang di dalam kampus.

Tumpang Tindih antara Eksistensi dan Substansi

Tidak ada lagi namanya gerakan bersih dari tunggangan kepentingan fanatik, semua beralaskan eksistensi masing-masing dan menunjukkan bahwa dia lebih dari yang lain dalam hal gerakan memperjuangkan keadilan.

Disitulah rasa dilematis yang dialami Gie semasa menjadi mahasiswa, antara memilih apatis atau ikut dengan gerombolan gerakan yang mengatasnamakan keadilan tapi menggunakan intrik politik golongan masing-masing untuk bergerak dan tidak didasari aktivisme murni lagi.

Rasa kemanusiaan seakan sudah mau pudar masuk ke dalam nerakanya sendiri. Dalam setiap gerak-gerik mahasiswa yang katanya pecinta kebenaran dan keadilan, ditemukan celah-celah berisi tindakan-tindakan aneh dan tidak wajar membuat akal sehat mati, kemudian dibungkusi atas dasar perjuangan membela rakyat.

Pertanyaannya adalah apakah perjuangan mahasiswa murni bergerak atas dasar keaktivisan atau nasionalisme yang dimilikinya tersebut akan dikatakan sebagai “nasionalisme badut”? Jawabannya bisa didapat dari beberapa gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa di seluruh tanah air ini.

Saya tidak menyalahkan kesadaran dari gerakan yang mereka lakukan, akan tetapi saya ingin mengembalikan konsep berpikir bahwa dalam melakukan suatu gerakan perjuangan akan lebih baiknya jika menanggalkan semua kepentingan-kepentingan sepihak yang mengakibatkan fanatisme berlebihan antar golongan.

Konflik Akal Sehat

Sebut saja aksi demo beberapa bulan lalu yang mendapat sorotan antara dua kubu mahasiswa yang saling bentrok karena adanya pro dan kontra kedua belah pihak. Hal tersebut bisa saja terjadi mengingat karena tidak adanya pikiran mendasar bahwa gerakan itu bukan untuk kepentingan sepihak, tapi untuk keadilan rakyat.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, dan anehnya ini tidak diselesaikan dengan cara yang manusiawi tetapi saling adu jotos masing-masing pihak. Sungguh sayang melihat kejadian tersebut, hingga akhirnya dilanjutkan kerusuhan mahasiswa dengan aparat keamanan disana. Terlepas dari siapa yang salah, siapa benarnya, tetap saja perbuatan yang mematikan nalar adalah buruk.

Sebenarnya, kita tidak serampangan menghakimi bahwa konflik adalah hal yang selamanya dipandang negatif, akan tetapi kita tetap optimistis pada makna dari konflik bernuansa akal sehat. Pada peristiwa bentrokan antara dua kubu mahasiswa tersebut, kita disuguhkan sebuah suasana yang mengundang aksi pematian nalar.

Yang diharapkan adalah bukan bentrok fisik yang “merugikan”, siapa sangka semua mengharapkan bahwa yang penting adalah bentrok antar pikiran yang diiringi akal sehat sehingga membawa kepada hal yang “menguntungkan” antar dua kubu dengan berbagai jajak pendapat, argumen rasionalitas, dan logika sehat, tanpa diselimuti sentimental berlebihan.

Idealisme dan sikap fanatik memang berjalan seiring adanya pihak yang menggunakannya dalam setiap waktu. Idealisme akan terpelihara jika disertai nalar yang jernih. Fanatisme akan muncul jika idealisme mahasiswa sudah tersusupi kepentingan kelompok atau golongan masing-masing dan bukan atas dasar aktivisme sesungguhnya.

Fanatisme tidak harus diasumsikan dengan fundamentalisme, tapi bisa disejajarkan maknanya dengan sikap tidak bisa membedakan antara yang substansial (idealisme) dan kekonyolan.