Pernahkah kalian mendengar istilah “capek ah kuliah, mending nikah aja” ? Pasti sering kali kalian mendengar kata-kata tersebut jika kalian adalah seorang mahasiswa. Bagaimana sih tanggapan kalian saat pertama kali mendengar perkataan itu? Namun apakah benar sih jika kita capek menghadapi tugas kuliah yang berjuta lapis tersebut mending nikah aja? Yuk simak uraian berikut

Menikah memang menurut agama adalah penyempurnaan dari ibadah. Seseorang akan sempurna ibadahnya jika ia sudah menikah. Namun, jika konteksnya adalah menikah karena lelah akan banyaknya tugas kuliah yang bertubi tubi merupakan suatu hal yang tidak masuk akal, apalagi jika seorang mahasiswa yang mengatakan hal tersebut.

Padahal kita tahu sendiri bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar yang semestinya tahu akan kebenaran jika hal tersebut salah, tetapi fakta menunjukkan masih banyak mahasiswa yang mengeluh akan banyaknya tugas dan alih-alih ingin menikah, ya meskipun hal tersebut hanya terucap oleh kata-kata tetapi bukankah kata-kata tersebut dapat menjadi motivasi?

Sebenarnya apa sih penyebab mahasiswa frustrasi akan tugas kuliah dan berdalih “lebih baik menikah daripada sekolah” ? Menurut sudut pandang dari saya sendiri mungkin karena benar-benar sangat frustrasi nya mahasiswa tersebut akan tugas kuliahnya sehingga mengakibatkan mereka langsung berkata seperti itu. Hal tersebut juga mungkin hanya spontan keluar tanpa terpikir terdahulu di pikiran mereka.

 Kedua, waktu yang mereka miliki tidak hanya dihabiskan untuk kuliah saja, banyak juga mahasiswa yang mengambil part time di beberapa coffee shop sehingga mereka sangat lelah saat dipacu untuk bertempur dengan banyaknya tugas yang disuguhkan.

Selain itu, tidak sedikit pula mahasiswa yang mengeluhkan hal tersebut di media sosial. Contoh dari kakak tingkat saya sendiri seorang mahasiswa semester tua yang tugasnya tak ada pause- pause nya. Kakak tingkat tersebut sering mengeluh akan kebijakan kampus yang mengharuskan mahasiswanya untuk merevisi hasil pekerjaannya beberapa kali sebelum verifikasi.

Jika dipikir-pikir, Mahasiswa mana yang tidak frustrasi jika sistemnya seperti itu? Hal tersebutlah yang mendasari beliau mem-publish keluh kesah hatinya di sosial media dan sering mengkritik berbagai pihak kampus.

Contoh lain adalah teman saya sendiri, sebut saja Lili. Lili adalah anak yang sangat religius bahkan sangat tertutup. Namun, apa yang terjadi? Dia juga sering sekali mem-publish sesuatu yang berkaitan dengan nikah muda. Tidak jarang pula, WhatsApp story menggambarkan bahwa dia adalah pribadi yang taat, karena sangat taat nya hingga ia menghindari pacaran dan lebih memilih untuk menikah muda.

Padahal dari sudut pandang dari saya sendiri, menikah bukanlah hal yang main-main. Menikah adalah ikatan yang sakral, janji suci antara kedua insan yang saling berkomitmen untuk siap menghadapi suka duka dalam bahtera rumah tangga. Saya juga terheran-heran kepada mereka yang lebih memilih menikah muda dengan alasan menjauhi zina tanpa berpikir panjang bagaimana jadinya kehidupan setelah menikah itu sendiri.

Lalu, apakah mahasiswa yang religius cenderung lebih ingin menikah? Dari teman saya sendiri yang saya amati, memang seperti itu adanya. Mereka yang cenderung terkesan alim dan tertutup malah lebih ingin menikah dibandingkan menyia-nyiakan waktunya untuk berpacaran.

Apalagi jika sedang banyak tugas, maka keluhannya tidak akan jauh-jauh dari ingin menikah saja. Padahal, jika kita berpikir sedikit lebih luas lagi, kalau kita menghadapi tugas yang bertumpuk saja sudah mengeluh lalu menyerah. Lantas, apa jadinya jika kita menikah nanti, dihadapkan dengan berbagai macam masalah yang jauh lebih kompleks? Mau minta nikah lagi?

Dari pandangan saya sendiri, rasa lelah akan banyaknya tugas yang membantai tidak harus diselesaikan dengan cara menyerah, lalu berkata ingin langsung menikah. Jika kita berpikir sejenak tanpa terpancing emosi maka kita akan menemukan solusi atas keluh kesah kita. Contoh sederhana nya, kita dapat beristirahat sejenak, lalu melanjutkan mengerjakan tugas lagi.

Selain beristirahat sejenak, sekarang ada pilihan lain untuk self healing. Banyak sekali pilihan self healing yang dapat dilakukan. Contohnya, berjalan-jalan dengan teman, bersepeda, berolahraga, nongkrong di cafe, belanja di mall, main game, pergi ke tempat wisata, dan masih banyak lainnya.

Jadi, dari sini kita tahu bahwa jawaban dari stress akan banyaknya tugas kuliah bukanlah dengan menikah, apalagi menikah muda di usia kita yang masih sangat belia ini. Banyak hal positif yang masih dapat kita lakukan sebelum kita menikah, seperti dapat membanggakan orang tua dengan mendapatkan IPK yang maksimal, mendapatkan pekerjaan yang tetap, serta membangun koneksi dengan banyak pihak.

Akhir tapi tak akan pernah berakhir, saya berharap teman-teman mahasiswa yang membaca tulisan sederhana saya ini dapat lebih terbuka lagi mindsetnya. Menikah memanglah ibadah, tetapi apa makna ibadah jika di dalamnya nanti terjadi banyak salah? Selagi masih ada kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri, maka gunakanlah kesempatan yang ada  karena kesempatan tidak akan pernah datang dua kali.