Manusia akan bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Baik secara fisik maupun secara naluriahnya. Dari mulai bayi yang tidak bisa apa-apa menjadi seorang dewasa yang kemudian mampu menjalani hidupnya.

Makin  dewasa seseorang masalah yang dihadapinya pun akan makin kompleks. Baik masalah yang berasal dari dirinya sendiri, maupun masalah yang berasal dari luar dirinya. Semuanya akan berjalan sesuai dengan waktunya.

Begitupun dengan mahasiswa. Ketika seseorang telah menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi, dia akan menjadi seorang mahasiswa. Banyak orang mengira bahwa kehidupan seorang mahasiswa akan lebih mudah dan tidak sesulit di bangku sekolah. Justru malah sebaliknya.

Sebelumnya, apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata mahasiswa? Kuliah, otw kerja, atau romantisme muda. Ya, kata mahasiswa menggambarkan ketiganya. Lalu apa yang menjadi masalah bagi mahasiswa?

Mendengar istilah mahasiswa identik dengan kata merantau atau jauh dari orang tua. Walaupun tidak semua, tetapi sebagaian besar mahasiswa pasti jauh dari kampung halamannya. Tinggal jauh dari orang tua dan sanak saudara kerap kali membuat kita merasa kesepian. Istilah kesepian ini yang nantinya akan menjadi akar dari setiap permasalahan mahasiswa.

Jadwal kuliah yang tidak begitu padat membuat kita sering kali membuat kita ingin segera kembali ke kos atau rumah tinggal. Ketika di kos tidak memiliki kegiatan untuk kita lakukan sering kali membuat kita overthingking tentang diri kita sendiri. Kadang ingin rasa hangout bersama teman ke suatu tempat, ternyata teman kita sedang ada kegiatan lain atau sedang bersama kekasihnya.

Kadang lingkungan yang membuat kita ingin menjadi seperti lingkungan itu. Seperti halnya di perguruan tinggi, orang pacaran dimana-mana bukanlah suatu hal yang aneh. Memang Ketika masih duduk dibangku sekolah pun tidak jauh beda, tapi di perguruan tinggi lebih terasa vibes-nya. Ditambah lagi usia ketika kuliah adalah usia-usia yang sudah mulai memikirkan tentang masa depan.

Misalnya saja ketika kita sedang perjalanan ke kampus, pasti akan banyak pasangan-pasangan yang berangkat ke kampus bersama. Lalu ketika ke kantin, banyak juga menemui pasangan-pasangan yang sedang bermesraan. Bahkan tak jarang, sampai di dalam kelaspun kita masih bisa menemuinya.

Bagaimana seorang jomblowan dan jomblowati tidak merasa overthingking. Meskipun kadang merasa bisa tanpa adanya kekasih. Namun, pasti akan ada waktu dimana kita merasa “hmm sepi banget ya, pengen deh ada yang diajak main.”

Ada beberapa orang yang beranggapan, ketika menjadi seorang mahasiswa kita juga harus memiliki pasangan. Ia akan merasa tidak keren jika tidak punya pasangan. Entah gengsi atau takut jika dikira tidak laku.

Padahal Sebenarnya Perlu Ngga Si?

Mungkin awal-awal menjadi mahasiswa itu rasanya ingin juga merasakan pacaran. Lihat di mana-mana orang pacaran, bahkan teman sendiri pun juga. Kadang lingkungan dan diri kita sendirilah yang mendorong kita untuk mewujudkannya.

Sebelumnya, coba kita tanya diri kita sendiri terlebih dahulu. Mau ngapain sih? Buat apa? Terus nanti kalau sudah pacaran mau bagaimana? Coba renungi dahulu pertanyaan-pertanyaan itu. Sebenarnya kita benar-benar butuh atau cuman hanya ingin seperti yang lain? Sebenarnya kita benar-benar butuh atau kita ingin seperti yang lain atau justru karena kita merasa cuman kesepian?

Coba dipikirkan dengan baik-baik. Apakah tugas-tugas kuliah kita sudah terselesaikan dengan baik, apakah materi-materi sudah kita pahami dengan benar. Coba kita mulai bisa memilih mana hal yang lebih prioritas dan mana hal yang perlu kita tunda.

Waktu yang biasanya orang pacaran gunakan untuk jalan-jalan, makan, dan sebagainya bisa kita gunakan untuk memperdalam materi. Selain itu bisa juga kita gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas yang jumlahnya tidak sedikit itu. Ingatlah teman dunia perkuliahan tidak seperti dunia persekolahan yang minim tugas, justru full tugas.

Sekarang kita pikirkan kembali, bahwa menjalin hubungan dengan seseorang tidak akan selamanya berjalan dengan baik. Contohnya saja kita dan saudara atau teman. Pasti akan ada waktu dimana kita tidak baik-baik saja.

Sama halnya dengan kita dengan pasangan kita. Akan ada waktu dimana kita bertengkar, entah karena salah satu sibuk atau karena adanya perbedaan pendapat. Masalah-masalah semacam inilah yang nantinya akan merusak mood belajar.

Dengan begitu kita perlu mengubah mindset kita tentang dunia perkuliahan yang biasanya kita bayangkan akan dipenuhi dengan kisah romantisme menjadi dunia perkuliahan untuk mencari relasi dan pengalaman. Atau kita juga bisa mengubah mindset kita bahwa jika pacaran tidak keren atau dicap tidak laku. Justru kita perlu menerapkan prinsip “kejarlah cita-citamu, maka jodoh akan mengejarmu.”

Selain untuk mengejar materi dan mengerjakan tugas, waktu-waktu itu bisa kita gunakan untuk berorganisasi. Percayalah ketika kalian bergabung dengan organisasi baik itu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) atau organisasi lainnya, tidak ada waktu untuk kalian memikirkan hal-hal seperti itu. Ditambah lagi relasi kalian akan makin luas.

Ada satu lagi kegiatan yang bisa mengisi waktu kalian. Mungkin itu lebih direkomendasikan untuk mahasiswa tingkat atas. Kalau kalian udah ikut organisasi, waktu kalian masih sisa-sisa, kalian bisa mengisinya dengan part time atau kerja untuk menambah pengalaman. Dijamin tidak perlu lagi overthingking, masa depan terjamin.

Lalu kalau ada yang bertanya, kita berarti tidak perlu punya pacar? Jawabannya kembali ke diri kalian masing-masing. Itu mengapa tadi di awal perlu kita tanya ke diri kita sendiri. Karena hanya diri kita sendiri yang tahu apakah kita butuh atau tidak.

Tidak semua orang bisa menjalani hidupnya secara sendiri atau baik pasangan maupun teman. Karena orang pun butuh tempat untuk dia pulang ketika lelah. Atau orang pun pasti butuh orang lain untuk menyemangatinya ketika semangatnya menurun.

Kalau memang dirasa kalian perlu seseorang untuk kalian bercerita carilah seseorang yang kalian percaya. Atau kalian juga bisa mencari seseorang yang sekiranya bisa dijadikan sebagai support system. Support system itu ngga selalu cowok atau cewek yang lagi dekat sama kita, itu bisa berupa orang tua atau teman terdekat.

Mulailah terapkan sebuah prinsip dalam diri kita masing-masing. Buat kalian yang merantau, perbaiki kembali niat kuliah jauh dari rumah untuk apa. Apa hanya untuk mencari pacar atau untuk mengejar cita-cita.

Ingatlah kalau kita sudah menjadi orang yang sukses untuk diri kita sendiri dan untuk orang di sekitar kita. Jodoh sudah tidak perlu nyari, justru malah kita yang dicari. Buat laki-laki, kalau kalian udah sukses, kalian mau jodoh yang bagaimana tinggal pilih.

Jadi semuanya tentang bagaimana mindset kita. Apabila kita memiliki niat, tujuan, dan mengatur mindset kita dengan baik, maka apa yang kita lakukan akan sejalan dengan itu. Begitupun sebaliknya jika kita tidak berprinsip dan tidak bisa mengatur mindset kita dengan baik, maka semua yang kita usahakan pun akan sia-sia.

Menjadi mahasiswa memang bukan perkara mudah. Akan makin banyak masalah dan hambatan dalam kita mencapai mimpi. Jadi untuk mahasiswa di luar sana, tidak perlu merasa tidak keren kalau tidak pacaran. Kalian akan keren jika kalian bisa berprinsip dan sukses dengan prinsip yang kalian bawa. Semangat dan selamat menggapai mimpi dan tujuan kalian. Percaya jodoh ada ditangan tuhan teman.