Mendengar kata mahasiswa, semua orang tertuju pada sebutan aktivis. Berbicara mahasiswa dan aktivis sama halnya dua sisi mata uang yang tidak bisa dilepas-pisahkan. Jika ada persoalan publik, mahasiswa mulai turun ke jalan, melakukan demonstrasi menuntut pemerintah segera menyelesaikan persoalan tersebut.

Bahkan demonstrasi sering mengalami bentrok antara aparat dan mahasiswa ketika tidak ada kesepakatan di antara kedua belah pihak. Itulah mengapa mahasiswa selalu ditakuti oleh penguasa karena pergerakan ala mahasiswa selalu bertendensi pada kepentingan umum dan tidak bisa diajak kompromi.

Tidak jarang kata "aktivis" selalu didengungkan oleh mahasiswa di mana pun mereka berada, baik di kampus maupun di jalan. Menjadi mahasiswa tidak keren jika tidak mengenal yang namanya aktivis, apalagi jika tidak pernah turun jalan.

Seolah menjadi mahasiswa mengharuskan seseorang untuk menjadi aktivis, sehingga bisa tampil sebagai pejuang yang mendobrak ketidakadilan. Logika semacam ini paling santer terdengar dari setiap mahahasiswa, bahwa mahasiswa tidak hanya sebatas kuliah pulang (kupu-kupu). Menjadi mahasiswa harus tangguh, tidak mudah dijejal oleh penguasa yang berlaku tidak adil.

Pokoknya harus berjuang untuk rakyat. Namun saat ini makna aktivis mulai membias yang diikuti dengan kehadiran mahahasiswa yang hilang muncul di saat momen tertentu. Lantas, apa ukuran ideal menjadi aktivis?

Tulisan ini ingin mengkritisi logika paling banter di kalangan mahasiswa yang menganggap hanya dengan menjadi aktivis dan turun ke jalan seseorang dapat disebut sebagai mahasiswa yang betul-betul berjuang demi kepentingan umum.

Baca Juga: Aktivis Virtual

Logika macam ini terlalu ‘receh’ bagi seorang mahasiswa dengan pendidikan tinggi yang berbeda skala pendidikan dengan siswa. Dengan pengetahuan yang lebih dari siswa, seorang mahasiswa seharusnya tidak mudah terjebak dalam arus pemikiran sempit dan dangkal.

Pembaca pasti akan berpikir saya membenci sikap aktivis mahasiswa. Barangkali pembaca justru mengkritik saya sebagai mahasiswa oportunis yang sedang mencari sensasi lewat kritikan terhadap mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya aktivis. Justru saya mendukung dan mengapresiasi perjuangan mahasiswa yang telah berjibaku melawan ketidakadilan.

Misalnya, menumbangkan kekuasaan Orde Baru dan melakukan gerakan demonstrasi beberapa waktu lalu di depan gedung DPR-RI yang telah mensahkan revisi undang-undang KPK. Saya sepenuhnya bangga terhadap mahasiswa, terutama aktvis yang terlibat dalam menyuarakan keadilan.

Namun terlepas dari itu, saya menolak gagasan berpikir sebagian mahasiswa yang terlalu naïf dengan label aktivis. Sifat seperti ini bisa terbukti dari sikap mahasiswa aktivis yang hanya tampil di saat momen tertentu, misalnya tampil di saat sedang ramainya mahasiswa yang lain turun ke jalan.

Sementara, dalam melakukan demonstrasi, seorang mahasiswa harus memiliki kajian yang utuh dan paham terhadap persoalan yang dituntut. Bukan menjadi mahasiswa yang hanya ikut arus, lantas mengatasnamakan dirinya seorang aktivis. Jangan jadi aktivis kaleng-kaleng!

Kajian merupakan bukti kuat bahwa yang turun ke jalan dengan mengatasnamakan aktivis betul-betul punya gagasan yang bisa ditawarkan dalam menyelesaikan persoalan. Saya tidak yakin dengan mahasiswa yang turun ke jalan pada saat menuntut pembatalan revisi UU KPK bahwa semua mereka benar-benar paham terkait dengan akar persoalan.

Bagi saya, bukan untuk mengurangi perjuangan mahasiswa, sebagian dari mereka hanya ikut meramaikan momentum tanpa didasari dengan tanggung jawab yang lahir dari kesadaran sendiri.

Di sini saya berpikir, makna aktivis telah mengalami pembelokan yang cukup tajam di era mahasiswa milenial sekarang ini. Tidak seperti sosok Soe Hoek Gie yang berani mendobrak rezim yang otoriter dan sungguh-sungguh menjalankan kehidupan mahasiswa tanpa mengatakan dirinya aktivis. Karena dengan tidak optimis terhadap panggilan aktivis, seorang mahasiswa mudah lupa diri untuk berjuang.

Sehingga menyebabkan hanya kata aktivis yang didengungkan di saat momentum tertentu, sementara tanggung jawab menjadi seorang aktivis harus berani melaksanakan dengan sikap terbuka dan cara pandang yang luas. Sehingga ini memudahkan mahasiswa bisa menginternalisasikan dirinya ke dalam dunia aktivis yang betul-betul loyal bukan main setengah-setengah.

Tetapi sekalipun telah terinternalisasi, ada bayangan yang menjelaskan posisi aktivis tidak sungguh-sungguh dijalankan oleh mahasiswa. Karena mahasiswa milenial lebih terobsesi memperkenalkan secara verbal kata aktivis tetapi ‘jarang’ melampaui kata tersebut. Di sini aktivis musiman itu sebenarnya sedang merambah dalam diri mahasiswa generasi milenial.

Keseringan yang terdapat dalam diri mahasiswa yang mengatasnamakan aktivis selalu mengabaikan persoalan yang kurang dibicarakan oleh publik dan media. Tetapi ketika persoalan itu bergeming dalam ranah publik dan sorot mata publik dan lensa media mengarah terhadap persoalan itu, suara aktivis musiman mulai menggeliat dan berjuang. 

Di sinilah makna aktivis mulai diumbar-umbar tanpa mempertimbangkan ukuran yang jelas pada kata aktivis.

Mengembalikan Makna Aktivis                                                                        

Perubahan lahir karena kesadaran. Jika kesadaran mati, niscaya perubahan hanya ilusi bagi orang-orang yang ingin berubah. Di sana mahasiswa sudah menunjukkan kesadaran dalam menumbangkan sebuah rezim. 

Sebagai agent of change and agent of social control, mahasiswa harus berani berdiri dengan berkiblat pada kepentingan publik. Dengan sebutan aktivis, mahasiswa perlu menjadi garda paling depan dalam menentang, mendobrak, dan mereformasi sistem yang tidak transparan.

Semua itu merupakan tanggung jawab yang sudah dilekatkan secara mutlak dalam diri mahasiswa. Seorang aktivis harus mampu melampaui makna aktivis itu sendiri.

Saya percaya, kawan-kawan mahasiswa punya satu tujuan dalam perjuangan. Melalui sikap terbuka, menghadirkan wawasan baru dan berani berpikir sendiri, makna aktivis akan kembali menggelora seperti sebelumnya. Tidak ada pilihan lain, seorang mahasiswa harus betul-betul menyadari tanggung jawab yang dititahkan.

Ini merupakan bentuk kepercayaan publik (public distrust) terhadap mahasiswa untuk kembali merebut semangat dalam memperjuangkan kepentingan bersama (bonum commune). Di sana sudah terbentang harapan bahwa di hari depan, aktivis mahasiswa dapat melahirkan hal baru bagi nusa dan bangsa. Selamat berjuang, kawan-kawan mahasiswa.