Pada Rabu (7/4) kami memulai kegiatan PMM-UMM (Kelompok 47) dengan membagikan handsanitizer ke beberapa toko dan rumah warga sekitar dusun Duwet Krajan, kecamatan Tumpang, kabupaten Malang. PMM (Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa) adalah salah satu program tahunan Universitas Muhammadiyah Malang yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dari berbagai jurusan.

Dalam menjalankan program PMM tersebut, khusus tahun ini kami memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang memiliki ouput edukasi dalam menyikapi pandemi Covid-19. Mulai dari membagikan handsanitizer sampai mengedukasi warga sekitar perihal tata cara penerapan protokol yang baik.

Dalam agenda bagi-bagi handsanitizer tersebut, kami telah menyiapkan sekitar 125 botol handsanitizer yang nantinya akan kami bagikan secara merata pada warga sekitar dusun tersebut. Dalam prosesnya, kami membagi menjadi dua kelompok penerima handsanitizer.

Kelompok pertama adalah dari para pemilik toko. Kami mendahulukan dan mengutamakan kelompok ini karena kami rasa toko adalah tempat yang cenderung sering dikunjungi oleh warga sekitar, sehingga peran handsanitizer dalam toko tersebut sangat penting. Kelompok kedua yaitu dari warga sekitar, yang mana kami memberikan satu botol pada setiap rumah warga di seluruh daerah dusun Duwet Krajan.

Memang permasalah Covid-19 ini sangat kompleks. Selain tugas mengedukasi warga sekitar dan memberi contoh yang baik dalam penerapan protokol kesehatan, kami juga harus mampu memberi semangat dan pikiran positif bahwa pandemi ini akan segera berakhir.

“Saya juga bingung, Mas, sama corona ini. Kok ya ndak ada kejelasan kapan berakhirnya” keluh ibu Siti, salah satu pemilik toko di dusun Duwet Krajan. Meski terkadang Ibu Siti merasa resah karena tidak ada kejelasan perihal kondisi pandemi ini, ia merasa sedikit terbantu dengan kedatangan kami.

Baginya, kedatangan kami ke dusun tersebut, sebagai ajang pengingat bagi warga yang sebagian telah menghiraukan protokol kesehatan. “Ya, meskipun corona ini belum jelas kapan berakhirnya, tapi setidaknya kan orang-orang itu harus tetap mematuhi protokol kesehatan,” lanjut Bu Siti.

Lain halnya dengan Bu Siti, ada juga cerita menarik dari Pak Wiraji (nama samaran) salah satu lansia dusun Duwet Krajan. Ketika kami bertemu dan membagikan handsanitizer kepada beliau, Pak Wiraji sempat tidak mengetahui apa itu handsanitizer dan bagaimana cara memakainya.

Akhirnya, salah satu dari teman kami pun langsung mengedukasi dan memberi cara kepada beliau tentang tata cara memakai handsanitizer yang benar. Dari hal-hal fundamental seperti itu, kami selalu berharap program PMM-UMM tahun ini dapat memberikan dampak positif di lingkungan masyarakat, khususnya masyarakat dusun.

Ada beberapa faktor yang menjadikan masyarakat sudah mulai menghiraukan protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah. Pertama; kurang massifnya edukasi dan sosialisasi perihal pentingnya menerapkan protokol kesehatan di wilayah-wilayah pelosok desa.

Permasalahan pertama ini lebih cenderung kepada mindset dan kepercayaan para masyarakat di pelosok-pelosok desa terpencil. Karena kurangnya atau jarangnya para penduduk desa dalam mengakses informasi perihal perkembangan pandemi ini, maka akibatnya, mereka menganggap bahwa pandemi ini sudah selesai. Padahal pada kenyataannya tidak seperti itu.

Kedua; tidak konsistennya pemerintah dalam mensosialkan protokol kesehatan, baik di tingkat pusat hingga di tingkat daerah. Permasalahn yang kedua ini juga cukup rumit jika diperhatikan. Sikap inkonsisten pemerintah pusat dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakannya, juga sangat berdampak terhadap berbagai lapisan masyarakat.

Seperti salah satu contoh peristiwa sekali waktu di Petamburan, Jakarta Pusat. Di daerah tersebut ada salah satu acara pernikahan putri dari Habib Rizieq Sihab, melihat acara tersebut, pemerintah langsung menindak orang-orang yang terlibat dalam acara tersebut. Mulai dari panitia hingga beberapa keluarga sang Habib.

Namun pada waktu yang lain, ketika Pak Presiden melakukan kunjungan ke Maumere, NTT, yang mana pada kungungan tersebut juga menimbulkan kerumunan, pemerintah tidak memberikan sikap apa pun terhadap peristiwa tersebut. Dan kedua contoh kejadian itu menjadikan turunnya kepercayaan atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah dibuat.  

Ketiga; minimnya kesadaran masyarakat di wilayah-wilayah pelosok perihal penerapan protokol kesehatan. Permasalahan ketiga ini hampir mirip dengan permasalahn pertama, yaitu kurang updatenya masyarakat desa/dusun terpencil terhadap berita perkembangan Covid. Sehingga penerapan protokol di sana tidak terimplementasikan secara massif.

Dari ketiga faktor tersebut, kami berusaha sebaik mungkin untuk membantu program pemerintah lebih-lebih juga melaksanakan misi PMM-UMM tahun ini dalam mengisi kekosongan peran dan edukasi di tengah masyarakat dusun. Baik melalui program formal maupun program nonformal.

Pada kenyataanya, pandemi Covid di Indonesia belum benar-benar hilang. Seperti halnya diberitakan oleh Liputan6 bahwa pertanggal 9 April 2021, kasus positif Covid telah menginjak angka 1.562.868, terhitung sejak masuknya Covid di Indonesia (Maret 2020).

Di sisi lain, kasus pasien sembuh juga semakin bertambah. Pertanggal 9 Apli 2021 dilaporkan ada penambahan 3.629 orang, sehingga jumlah keseluruhan kasus sembuh di Indonesia mencapai 1.409.288 orang. Selain itu, jumlah orang yang meninggal karena Covid bertambah 95 orang. Jadi total keseluruhan secara nasional, ada 42.443 orang yang meninggal akibat terpapar Covid-19.

Maka dari itu, harapan kami, melalui program PMM-UMM ini kami beserta seluruh mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut, dapat berkontribusi dalam proses penanggulangan Covid di daerah dusun/desa yang terpencil, lebih-lebih di Indoensia.